Siluet Indah Dikala Senja

Jingga temani laraku yang bersemayam, tabahkan dan luaskan serta lapangkan dada ini, sirami hati ini dengan cahayamu yang memukau, lembutkan kalbuku, tapi jangan jadikan Aku lemah akan perasaan.

Senja jemputlah Aku dengan semerbaknya harum ketenangan, bimbing Aku ke dalam kebenaran dan teduhkan Aku dengan kebijaksanaan, belailah Aku dengan keindahan serta pulangkan Aku dengan kepercayaan.

Ku tengadahkan wajah kepada langit jingga, malam kian menjemput namun kilauannya masih sama memukau, cukup memabukkan untuk dipandang dan terlalu menentramkan untuk sekedar dirasakan.

Lagi lagi Aku enggan beranjak dari keindahannya, keindahan senja yang ingin ku genggam untuk ku bawa pulang, tidak ada hal lain yang menghangatkan selain pancaran jingganya yang memberi siluet di mega langit yang terbentang.

Pancarannya teduhkan mata, hangatkan jiwa, penantian ternyaman yang tenggelamkan rasa,gelisah,kecewa menjadi satu tergantikan dengan satu kata bahagia.

Kala penantian itu terjalin, entah kenapa selalu ada kata menyerah ditengah perjalanannya, menyerah meraih ampunannya, padahal jikalau ditengok telah banyak rintangan yang telah Aku dan Kamu tempuh untuk dilewati, selemah itukah jiwa ini?

Sampai mana nafas ini memburu, hati terkadang menjerit, tidak kuat menahan tangis, tersadar bahwa Iman ini terlalu rapuh untuk dipikul, terlanjur mudah hancur tanpa pondasi yang utuh.

Jingga, dekatkan Aku seperti sore dengan malam, antarkan Aku menjadi hamba yang mengabdi kepada Tuhanku sang penguasa arsyinya, sebelum gelap merenggut, terpalah Aku dengan cahaya illahinya.

Lindungi Aku dari kesesatan yang menjerat, sebelum Puasa ini terbayar lunas kepada sang Rabb semesta Alam, cahayanya masih sama menerpanya, masih sama menyelimuti diri yang berdosa ini dengan penuh rahmat tak terhingga.

Di dalam perenungan, sekelebat masa lalu membayangi, ada rasa menyesal yang tertahan, Andai bisa ku mengulang Waktu yang telah hilang dan terbuang, Andai bisa perbaiki, segala hal yang telah terjadi.

Tapi waktu tak akan pernah berhenti, detik pun tak akan pernah kembali, Ya Rabb harap ampunilah hambamu ini.

Waktu kian berputar, Rembulan dan Matahari, Bunga yang mekar akan layu serta akan mati, senja berganti malam dan malam akan berakhir, hari akan berganti, takdir hidup akan terus dijalani.

Seperti jingga di Sore hari, meski indah tetap saja akan pudar karena setelah pertemuan pasti akan ada perpisahan, tapi tolong Ya Rabb sebelum nafas ini terhembus untuk yang terakhir kalinya sebelum mata ini terpejam untuk selamanya dan sebelum jiwa ini terbaring lemah diatas pembaringan abadi yang beralaskan Tanah, ku mohon bimbing Aku menjadi makhluk yang senantiasa bertawakal , menjadi hamba yang senantiasa terlindungi dari kesalahan dan kebodohan, semoga pintu taubat senantiasa terbuka untuk hambamu ini yang berlumur dosa.

Dari sekian banyak terpaan panasmu, hanya indahnya siluet yang dapat ku rengkuh dengan berjuta rahmat yang setiap detiknya mengalir bebas membasahi Kalbu, merangkai kata nikmat dalam hidup yang berselimut tawa dan air mata yang saling bergantian datang sebagai pelipur lara, penghujam jiwa.

Sembari menunggu kumandang syahdu Adzan dengan bait bait Cinta serta Lafadz asmara, Senja kian bergulir menuju peraduannya, menunggu pekatnya Malam yang akan muncul dengan riak riak air yang terpantul kilauan emasnya.

Mata kian terpaku memandang kuasa sang Rabb yang tak tertandingi, memandang indahnya Alam penciptaan sang semesta dengan guratan guratan harmoni sang Senja jingga.

Dentuman bedug kian terdengar syahdu, di bawah mega jingga ku rapalkan Do’a yang menyayat kalbu dengan lafadz asmaranya yang memanggil jiwa lemah yang kian rapuh.

Ya Rabb, Kau maha tahu rapuhnya Aku, sekian banyak waktu, entah itu Siang atau Malam Dunia yang terlalu ku tuju menjerat akhlakku, saat hari ini ku jatuh, baru ku sadari bahwa Aku terlampau jauh tidak mentafakuri segala nikmatmu, padahal dirimulah yang harus menjadi segalanya di dalam hidupku yang fana ini.

Tuhan ku angkat ke dua tanganku menghadapmu disenja cerah ini, sudikah engkau menerima Cintaku Ya Rabb? berdarah darahpun akan ku tempuh demi menggapai tarikat Cintamu, Ya Rabb Aku tersadar bahwa hambamu ini selayaknya tak pantas menggapai tujuh Surgamu, tapi Ku harap Cinta dan ampunanmu, membasuh jiwaku yang terlampau kotor dengan keluhuran Arasy  yang luas akan semesta Cintamu, wahai sang pembolak balik hati yang maha mengasihi.

Dipenghujung hari ini, ku tegakkan kaki, teguhkan niat, rapalkan Do’a dengan syahdunya panggilan Tuhan, ku semayamkan janji perbaikan diri dan untukmu Senja, Kamu akan tetap ada, tidak perduli ada atau tidak adanya Manusia, Senja akan selalu datang dengan anggun dan ceria, maka hari ini Aku ingin menjadi Senja, Aku akan tetap bahagia dan ceria seperti Senja yang mewarnai Langit dengan siluetnya.

Entah kenapa Aku jatuh cinta kepada Senja, kepada Cahaya yang dijelaskannya kepada angin yang dihembuskan kepada takdir yang dibawanya, bahkan setelah Senja padam, entah karena Hujan atau Malam, Aku masih tetap jatuh Cinta kepadanya, Oh Siluet Indah Dikala Senja.

 

Angin Yang Berdesir

Malam kini menjemput, singsingkan senja yang kian meredup, kala dipandang kilauan siluetnya memabukkan, Angin berdesir memberi sedikit sapuan kesegaran, namun tidak jarang ia juga bisa menyesakkan setiap mata yang memandang, ya hanya hembusan kabar angin yang berdesir walau semu terkadang banyak hal yang dapat tertipu akan hal ketidak pastiannya.

Elusannya kian memuncak, beri kehangatan yang hanya sesaat, entahlah saat berdua bersamanya ada saja angin yang terhembus ke dalam hati ini, ada saja rasa khawatir yang kian membuntukan akal.

Ada rasa penasaran untuk mengetahui perasaan yang sebenarnya, kadang ada keraguan setiap kali lantunan Cintanya disampaikan, tapi pancaran ketidak yakinannya membuat rasa sakit menjalar melabuh ke ulu hati ini

Rasanya aneh setiap kali Kita bersama, Kamu selalu menampilkan sisi cuekmu, sedangkan Aku menatap dengan pandangan memuja, layaknya kucing yang disuguhi Ikan segar.

Kamu baik, bahkan terlalu baik untuk dimengerti, hanya saja ada misteri yang sedang tersembunyi, Aku Cinta, tapi Kamu entah, ditanya pun seakan enggan menjawabnya, ada tatapan kosong dibalik matamu dan selalu ada saja angin yang merubuhkan keyakinanku.

Tengah ada rasa yang Kamu sembunyikan, entah itu asam,manis ataupun pahit Kamu selalu saja timbulkan ekspresi yang sama, entah sandiwara atau apa yang sedang Kamu lakoni,yang jelas Kamu tetap saja enggan untuk berbagi.

Kadang aneh melihat tingkahmu yang seolah menutupi, kabut dan embun adalah sesosok yang berbeda dan memiliki arti yang berbeda pula, begitupun Kamu ada titik hal yang berbeda dari setiap langkahmu dan dapat dipastikan perubahan yang berbeda disetiap gerakannya.

Anehnya setiap kali berpapasan dengan Mantanmu ada aura memikat dan memabukkan serta pancaran kebahagiaan dari wajah yang kian berseri.

Selalu ada pertanyaan bercampur kekecewaan, sadar akan rasa yang masih membelenggu dirinya dan ada rasa menyesal, telah mengambil hati yang masih terikat akan hati sebelum diri ini ada serta rasa sakit, ketika Aku hanya memiliki sebagian raganya bukan hatinya.

Aku ada, Aku berdiri, Aku memiliki Cinta dan semua itu sebatas rasa, namun yang lebih sakit adalah ketidak keterbukaan Kamu menerimaku, hanya karena rasa kasihan, tapi maaf Aku tidak selemah itu Kasih.

Aku mencintai bukan untuk dipaksakan, bukan pula untuk dikasihani, karena hal ini Aku terpandang sebagai wanita kejam yang bahagia di atas keterpaksaan lelakinya, Aku tidak menyangkal rasa sakit tertoreh dari bahagia yang sepihak.

Betapa bodohnya diriku yang mencintai seseorang yang bahkan tidak mencintaiku, terlalu ambigunya Aku ketika tidak faham dengan setiap kolaborasi yang tidak menyatu, terlalu bertolak belakang untuk disatukan dan Aku hanyalah orang payah yang lemah akan perasaan.

Aku rasa mungkin melepasmu adalah yang terbaik, meski berat dan hati ini remuk redam, Aku yakin tidak akan ada lagi yang tersakiti, entah itu Aku tentang rasa yang tak terbalas ataupun Kamu tentang sebuah keterpaksaan.

Meski taruhannya adalah rasaku, tapi apa salahnya melihat bahagianya menemukan kebahagiannya sendiri yang sesaat  telah terampas oleh diriku, mungkin setelah kuletakkan pada tempat yang benar akan ada angin yang membawa harumnya kedamaian.

Semoga saja tiada hari penyesalan atas keputusan  yang telah Aku tempuh, karena Aku bisa melihat tatapanmu yang masih ingin memilikinya, maka dari itu ku kembalikan pada rumah hati yang tetap dengan kata maaf yang telah lancang menamainya dengan kata sayang, untuk terakhir kalinya dan setelah itu, Aku akan pergi menjauh dan menyusun kembali hati yang telah patah.

Angin sampaikan maaf yang tidak terhingga kepada Dia dan Kamu, Aku merasa sebagai sosok yang menghancurkan cinta keduanya, tidak kudustai mereka saling mencintai meski keadaan mereka bukanlah sepasang kekasih lagi, Aku tahu ada rasa yang sama sama kuat di dalamnya.

Biarkanlah angin yang bantu kalian kembali merajut tali dengan desiran yang sama, sebelum Kamu temui Aku, Dia memang telah ada dan kalau pun Kamu ingin kembali dengan Dia itu hakmu, akan ku serahkan dengan janji semoga bahagia memberkati kalian.

Aku mencintaimu dengan caraku, kamu tidak perlu membalas atas rasaku, karena itu juga akan menyedihkan jika Kamu paksa hatimu untukku yang tidak memiliki ruang disana, bahagialah. Dengan begitu Aku pun bisa merasakan bahagia itu melalui Kamu walaupun alasannya bukan Aku, hanya satu tekadku Kasih, Aku lepas Kamu dengan Dia, asalkan Kamu bahagia.

Cincin Permata

Adakala hati harus patah, ada temu yang harus berakhir pisah, ada hadir yang harus ku lepas, ada hal yang harus dilalui untuk dimengerti dan untuk dipahami yang berakhir menjadi sebuah kenangan.

Lingkaran indah mengikat tepat di jari manisku, menemani hari dengan debaran jantung yang tiada berhenti, merangkai tawa yang menghias hari semakin berwarna dengan secercah harapan.

Wanita mana yang tidak bahagia? Saat sang pujaan datang bersama keluarganya untuk meminang, setia sepanjang masa, mengklaim bahwa dirinya sudah dimiliki, wanita manapun pasti bahagia ketika lelakinya memohon kepada orang tua si gadis untuk memilikinya.

Meminta satu jengkal keseriusan walaupun dengan satu langkah dibawah Pernikahan yaitu Pertunangan, suatu kebahagiaan tersendiri ketika Kita telah melalui bertahun tahun rintangan yang akhirnya menetap pada jenjang yang lebih serius.

Hari hari kian berlalu, kebahagiaan kian terusik tat kala badai telah menerjang, manis kian bergulir, sampai Aku bingung kemana geranganmu pergi dengan berjuta sifat yang Aku kasihi.

Mimpi bersama kian tersusut dengan panasnya Kota ini, menguap lalu hilang tanpa jejak, ku jejaki langkah demi langkah menyusuri hatimu yang kini tengah tertutup oleh embun.

Bingung, mengapa setiap saat mengajakmu pergi seperti langkahmu yang enggan menyelaraskan langkahku, ada saja alasanmu setiap saat untuk menolakku secara halus, entah sibuklah, meeting keluar kotalah ataupun kunjungan bisnis, ada saja yang bisa kamu utarakan dan sembunyikan untuk mematahkan semangatku yang kian menganga menjadi luka.

Ada apa denganmu kasih? Setiap kali rindu menginginkan temu, Kamu selalu saja tak punya waktu.

Aku hanyalah wanita biasa yang ingin dimengerti, bukan hanya mengerti orang lain, Aku hanya wanita lemah yang dikala patah akan menangis, Aku juga Wanita penakut yang ketika berada disituasi tersakiti akan sembunyi karena bagaimanapun sekuat kuatnya Wanita tangguh, sekalipun jatuh dikala itulah Dia mulai rapuh.

Entah apa yang Kamu simpan dalam hati, saat saat Kita berjauhan tak bisa Kamu pegang janji, di dalam pesan yang Kamu kirim semalam, Kamu bilang padaku ingin segera bertemu karena rindu yang terlalu dalam, sedang esok harinya tak sengaja Aku menatap Kamu dari kejauhan, Kamu sematkan kecupan manis pada Perempuan lain yang tengah berada di dekatmu, sakitkah dirimu? Kamu berbuat dibelakangku, demikian seolah Aku tidak tahu, Kamu berkata kata seolah sakit hati itu hal yang mudah, ya mudah saja, semudah Karma yang menjelaskannya kepadamu.

Begitukah sikap seorang Tunangan kepada Tunangannya? Kamu bilang dalam suatu hubungan harus ada kesetiaan dan kepercayaan, lantas apa yang harus Aku jadikan sebagai modal penguat hubungan ini? Kalau kesetiaanmu saja sudah hilang, sekarang apa yang harus Aku percayai dari setiap ucapanmu dan janjimu yang hanya mimpi semata.

Aku kalut dalam janji, terbalut dalam Cinta yang basi, seolah tunduk dan percaya akan janjimu, tanpa menghiraukan yang Aku khawatirkan dan benar Kamu hanya berjanji bukan menepati.

Kamu menyuruhku untuk setia, tetapi Kamu malah merusak semuanya, bukan karena Aku ingin berdusta tapi hati ini tidak kuat lagi untuk bersama, rasanya lelah mempertahankan seseorang yang tidak pernah mau mempertahankan diri ini.

Kamu tidak pernah tahu seberapa lama Aku bertahan, dalam rasa yang Kamu abaikan, setelah cukup lama bertahan, pengorbananku selama ini ku ikhlaskan.

Lalu apa denganmu? Saat Aku mencoba bertanya dalam kekalutan hati, Kamu dengan mudahnya menjawab sembari menenggerkan senyuman iblis dengan mulusnya terlontar kata “Perpisahan”, waraskah dirimu? Ketika pernikahan di depan mata, Kamu memalingkan stir, melajukan ke arah lain, tanpa tahu Dia benar atau tidak untuk dijadikan kemudi.

Sedangkan Aku yang telah lama diam dan berkorban, kamu bantingkan semaumu, layaknya iblis yang tidak berperasaan, menyalahkan orang lain pun tidak ada gunanya, karena ini salahku, terlalu salah untuk mempercayai omongan busukmu bukan sekali, dua kali tapi berkali kali.

Aku dan cemburuku, masih terus menyadarkanmu tentang Aku dan segala rasaku yang masih terus memperjuangkanmu dari Dia yang merebutmu mimpi terindahku, sadarlah rencana pernikahan kita gagal hanya karena Dia, Cincin permata ini pun tak lagi berharga seiring harapan yang kian hancur oleh si Penggoda dan Kamu terlalu bodoh untuk berpaling hanya karena Ular seperti Dia.

Ku pikir mudah, ternyata melepas seseorang yang Aku perjuangkan, seperti mempertahankan seseorang serta sama lelahnya dengan Aku yang memperjuangkannya dan melepasmu bukanlah pilihanku, namun telah ditetapkan pada sebuah takdir, menjadi tegar bukan pula pilihanku, namun ku jadikan jalan keluar yang terbaik untuk Kita.

Tetesan Air

Sepi yang membunuh, membuat diri terkutuk dalam kerapuhan jiwa, menyesap rindu yang kian mengekang, menjerat diri dalam lubang kegagalan, menyebar rindu tidak pasti yang tak tahu arah mengarahnya.

Kini tak perlu berkata kata, langit Malam ini telah menuliskan sebaris rindu untukmu melalui rintik hujan yang jatuh tepat di depan kamarmu.

Bukankah ini suatu pembuktian bahwa rinduku hadir menyelimuti diri yang jelas jelas ku tahu, bahwa kamu tidak pernah menginginkan keberadaanku, sekeras itu kah hatimu? Bahkan air hujan pun tahu hingga luluh dengan rintikan air yang jatuh tepat menghiasi kepedihan ini.

Sungguh bingung berada di situasi yang sangat melelahkan ini dengan beribu ribu rindu yang ku lepaskan untukmu, kamu hanya menatapnya dengan lirikan tajam, seakan membunuhku dengan tusukan belatimu yang begitu tajam, hingga akhirnya ku pasrahkan rinduku dengan sekelebat bayangnya, menatap nanar tubuhnya yang kian menjauh, menghilang, tertelan kegelapan.

Kenapa Aku masih rindu kepada seseorang yang telah lama pergi? Kenapa Aku masih cinta kepada seseorang yang telah jelas menyakiti? Kenapa Aku masih mengharapkan Dia yang benar tidak akan pernah kembali?

Jika di jalan itu ia begitu tega meninggalkanmu, di sini ada Aku yang bergegas melakukan apapun demi semua kebaikan dan kebahagiaanmu, lantas apa yang membuatmu enggan menolehku? Berhentilah mengedepankan egomu, jelas jelas ada Aku yang akan menyambutmu dengan berhamburan pelukan hangatku.

Hanya satu yang Kita butuhkan, Kita hanya perlu bertemu agar segalanya lekas membaik percayalah, merindukanmu itu tak semudah menulis kalimat yang kamu baca ini, bacalah dengan seksama tiap penggalan kata yang selalu memanggil manggil namamu dengan sejuta kerinduan yang hanya kamu balas dengan rintik hujan yang tiap hari menemani sepiku.

Segila gilanya rindu, mungkin itu milikku, buah Cinta sebelah tangan dari tegur sapa yang tidak pernah Kamu perdulikan.

Lihatlah ketika senja jingga digantikan Malam purnama, akan ada masa dimana rasa lelah bekerja berubah menjadi rindu yang amat menyiksa.

Rindu yang amat menyiksa ketika bayangmu selalu ada menghiasi diri ini, ada banyak sekali yang ingin Aku ceritakan padamu saat bertemu nanti, tentang panasnya Matahari di Kotaku dan tentang rindu yang hebat sanggup meluluh lantahkan hatiku.

Yang saat ini Aku pertanyakan, akankah Kamu mau menemuiku? Memberantas rasa sepi yang menggerogoti, memelukku dengan pelukan hangat bersama jutaan senyum manismu, tapi mungkin itu hanyalah sekedar mimpi yang fatamorgana.

Ku tengadahkan wajah kepada langit gelap, Malam rebahlah sesaat lagi, sajakku belum selesai menyelimuti sekujurnya, agar ia terlelap dengan kehangatan rindu dari tiap baitnya dan biarkan Aku mati dalam cinta yang tak terbalas.

Sebenarnya Aku lelah dengan penantian ini, penantian yang tak berujung menyiksaku dengan kepingan rindu yang tak pernah kamu anggap, jikalau usahaku memang harus terhenti, Aku tak sanggup melabuhkan hatiku pada yang lain, karena Aku bukanlah pengecut yang meninggalkanmu dengan berjuta juta usahaku, tapi terkadang Aku sadar, Kamu lampu, Kamu cahaya, Kamu sumber energi, Kamu arus listrik dan Aku hanyalah kegelapan yang paling mencintaimu, bukan sebaliknya.

Jika kegelapan disebut ketiadaan Cahaya, biarkan rindu ini disebut ketiadaan Cinta dengan malam yang mulai larut, namun rindu enggan surut namamu yang selalu ku sebut mengiring detak dan denyut jantung ini.

Lalu Aku bisa apa? Memendam rasa yang bergejolak ini? Apakah menurutmu itu tidak menyakiti? Lantas bagaimana keadaan hati ini? yang kian hari kian melepuh, tapi anehnya rindu ini tetap ada dalam hati.

Aku tak tahu setebal apa hati ini, yang jelas selalu ada kata yang berkobar, memperjuangkan namamu, semangat yang membara agar nantinya Kamu bisa ku miliki.

Namun nyatanya, Aku sadar, bahwa yang bukan untukku sekeras apapun ku paksakan selama apapun ku pertahankan tetap saja tak akan pernah menjadi milikku.

Begitupun Kamu, sekeras apapun usahaku, sejauh apapun Aku mengejar tetap saja tidak akan pernah sampai, karena Kita tidak segaris, tidak seperaduan dan tempat yang terlalu berbeda jauh lintangnya membelah takdir.

Aku lelah memberi nama rindu rinduku dengan namamu, cukup sakit menamai sesuatu dengan apa yang tak bisa ku miliki, kini atau pun nanti tetap sama Kamu yang memilihnya dan Aku yang menelan kepahitan merelakanmu menjadi miliknya dan Aku hanya berteman sepi bersama rintik hujan yang kian hari menggenangi Bumi.

Memang tak ada yang salah pada Dirimu, mungkin hanya Aku saja yang terlalu berharap lebih pada dirimu untuk sekedar memiliki.

Untaian Tasbih

Waktu itu seperti sesuatu yang memabukkan, menjerat diri untuk masuk,bukankah Cinta juga butuh waktu? Karena Cinta seperti Wine yang tak pernah bisa dideskripsikan tapi mampu membuat orang tergila gila, adakah waktu tunggu? Jangan harap! Ia akan selalu melahap Kita setiap saat.

Lihatlah senja ini begitu indah dan cerah, bahagia tampak dari sepasang bocah yang berlarian mengitari pohon Maple tanpa beban seperti roll film yang berputar dengan pasti, mereka tidak tahu gelap apa yang akan merenggut.

Masa kecil itu paling indah, dengan semaunya kita berteman tanpa batas, ketika kepolosan Nampak mereka takkan pernah mengolok, mereka hanya akan tersenyum dan berkata “Tumbuhlah dengan baik.” Sayangnya semua bergulir dengan cepat.

Hingga pada masa pubertas nanti akan ada halangan dimana setiap lawan jenis memendam rasa bukankah itu suatu batasan? Karena kedekatan suatu racun dan akhirnya memandang dari kejauhan.

Terkadang pria dan wanita tak selaras, pembedaan jenis itulah yang menyebabkan ketidak samaan antara mereka, namun bukan alasan  untuk tidak bersama, semua itu memang menggairahkan yang terbalut teka teki.

Pohon Maple ini saksi bisu kenyataan bahwa Kita pernah ada dan punya cerita, 17 tahun yang lalu adalah masa yang membawa rasa sampai sekarang, rasa cinta yang membuncah terlalu dalam.

Suara deheman, membuat lamunanku menguap entah kemana, “Kau di sini?” tanyanya yang begitu formal dan dingin, “bagaimana pun ini tempat favoritku.” Seulas senyum kini mulai terbit, “ kamu masih ingat dengan untaian ini?” mukanya terperanjat “Tasbih itu pemberianku kan?” Aku hanya menganggukan kepalaku sebagai bentuk mengiyakan, “Semoga Kita juga dapat bersama dan bertahan seperti layaknya untaian Tasbih yang berada di tanganmu.” Pipiku kini merona mendengar penuturannya.

Semenjak pertemuan senja itu, kami bisa merajut kehangatan yang pernah sirna sebelas tahun yang lalu, saat dimana Dia memutuskan pergi dan pindah ke luar kota.

Namun kebahagiaanku mulai sirna, saat ku lihat mata berbinarnya dan seulas senyum untuk gadis lain seperti halnya Aku, Aku tahu, Aku bukanlah kekasihnya yang patut cemburu, Aku hanya teman kecilnya dulu yang kebetulan dipertemukan kembali.

Hari kian terlewati, kedekatannya kian menjadi, mereka selalu tertawa lepas dengan gadis itu di Taman belakang  Sekolah, meninggalkanku yang termenung menunggu kedatangan Dia seperti biasa.

Ku lihat gelak tawanya tanpa beban, baru kali ini ku melihatnya seperti itu di depan wanita, rasa sakit itu kian menjalar di ulu hati, memberikan rasa dendam yang amat sangat.

Terkaanku ternyata benar, Dia mencintai gadis itu, Dia memintaku untuk membantunya agar bisa menjadi sepasang kekasih, sementara Aku? Haruskah Aku mengubur Cintaku? Cinta pertamaku yang ku sadari ada sejak kecil dan sekarang haruskah Aku membagi rasa dengan temanku, sementara Aku menunggunya dan akhirnya lelaki pujaanku Kau dapatkan.

Dulu, kaulah yang selalu kupercayai untuk menyimpan celoteh celotehan asmaraku, ya, walaupun tak pernah ku jelaskan dengan gamblang siapa namanya, untuk kesekian kalinya rasa sakit ini bertubi tubi menghimpit hati ditambah menerima kenyataan bahwa Cintaku mencintai Temanku sendiri, Teman karibku yang ku pandang baik, bagaimana Aku melepaskan untuk menjadi miliknya, sementara hatiku saja ada pada genggamannya.

Ku pandang mata hitam legam miliknya, ku rasakan ada yang tersirat dari matanya, ku pandang Dia, saat menatap Temanku, ada suratan sayang dibalik matanya, tatapan berbeda dengan sangat berbeda saat ia menatapku.

Tatapan memujanya pada sahabatku, tatapan dimana seorang pria menatap kekasihnya, sedangkan tatapannya padaku hanya seperti seorang Kaka yang menyayangi Adiknya dan tidak lebih.

Di balik Mega Aku termenung diam menatap langit kosong sambil merutuki diri sendiri yang terpaku membayangkan mereka tengah memadu kasih dengan mesra.

Sementara Aku hanya menatap nanar mereka yang tertawa bersama, jujur Aku ikut senang menatap Dia pujaanku yang tertawa lepas dengan bahagia, tapi yang ku harapkan, Dia tertawa bersamaku bukan bersama wanita lain yang ternyata Dia sahabatku sendiri.

Ternyata Aku salah berlebihan dengan rasa ini, Aku sadar bahwa Cintanya bukan untukku, dan perlindungannya selama ini, bukanlah perlindungan Pria kepada sang kekasih, itu semua hanya bagian tanggung jawabnya kepada orang tuaku, karena ,mereka menitipkanku kepadanya, sedangkan Aku adalah wanita yang ia anggap sebagai Adik bukan sebagai kekasihnya, namun semua itu telah ku salah artikan sehingga Aku menelan kepahitan yang dalam, sangat sangat dalam.

Aku seperti kanvas kosong dan Dia datang memberi warna, dan kini tawa serta canda dalam persahabatan Kita hanya akan menjadi sebuah kisah klasik, tapi jangan lupa Aku selalu ada di setiap masa dalam hidupmu sebelum Dia ada.

Sesal dalam diri tentang ketika Aku menyesal pernah berlebihan dalam mencinta, kini Aku tersiksa oleh pedihnya sebuah pengharapan, ya, pengharapanku tentang memilikimu, tapi sekarang ku rasa itu mustahil datang kepadaku, saat gelombang pasang menerpa diriku yang kini hanyalah sebatas puing puing tak berbentuk.

Ini dia penentuan dan akhir cerita Cinta antara Dia,Kamu dan Aku, sekarang Aku telah berhenti di tempat Kamu berlari, Aku menunggu harapan yang mungkin hanya akan menjadi angan dan fatamorgana.

Semoga saja waktu bisa menyembuhkan jiwa ini dari sakitnya kehilangan, dengan tasbih yang terus ku utarakan kepada sang illahi, biarlah Tuhan tahu racauan umatnya ini, ku tenggerkan sebuah Tasbih di tangan dengan linangan air mata yang tak kuasa ku bendung, perlahan lantunan lantunan merdu ini melemah di sertai isakan yang akhirnya menjadi sebuah bisikkan, dengan hati yang berteriak lantang “Buatlah Hatiku setenang mungkin ya Allah, ku ikhlaskan Dia bahagia bersama yang lain.”

Ya Allah jika Dia benar untukku dekatkan hatinya dengan hatiku dan jika Dia bukan milikku damaikanlah hatiku dengan ketentuanmu.

Sangat menyenangkan memang bersama dengan Orang yang Kita Cintai dan mencintai Kita, tapi terkadang kebersamaan tidak memastikan adanya kedekatan, kadang kadang pula perpisahan tidak membuat Kita lupa, karena kenangan akan terus mengejar.

Takdir Dua Jiwa

Andai hidup terpasang yang terpaut Cinta, segarnya air ku rasa, tetes demi tetesnya merintik basahi tubuh, di bawah sinar yang terpancar meluncur air beri kilauan warna di Langit.

Ketiadaan bukanlah alasan untuk mencintai, menantikan, dinantikan, atau pun mencarinya, Cinta itu kemauan ketika ingin milikinya ia menghampiri, walaupun terkadang menghampiri tidak pada waktunya.

Adakah angin yang melambai lambai isyaratkan sesosok pria?  namun mengapa sampai saat ini belum ada yang hadir mengisi sekaligus membawa lembaran baru, Aku memang percaya bahwa dua orang yang terhubung hatinya tidak akan perduli apa yang dilakukan atau dengan siapa atau dimana bertempat tinggal, tidak akan ada batasan ataupun hambatan jika dua orang tersebut sudah ditakdirkaan bersama.

Setidaknya Aku mengkhawatirkanmu pendamping kelakku yang sampai saat ini belum hadir, baiklah mulai saat ini tak perlu kita mengatur rencana kapan akan bertemu biarkan saja rindu melakukan tugasnya dan Aku pun di sini tidak akan pernah lelah,bosan, atau pun jemu menunggu kehadiranmu.

Karena saat ini kita sedang belajar pada jarak, belajar tentang menunggu dan ditemukan dan belajar menantikan walau terlupakan.

Aku harap Tuhan serta merta menjagamu dalam pengawasannya serta calon mertuaku kelak untuk selalu limpahkan kasih sayangnya pada anaknya, agar Aku pun mampu rasakan manis limpahan kasihnya.

Pria tampan yang nantinya siap sedia memberi perlindungan yang setiap saat ku rindukan kehadirannya, rasa hangat ketika dua jiwa mendekat, rasa rindu yang tuntas ketika ke dua pasang mata menatap.

Tiada henti Aku memikirkannya, memikirkan pertemuan kita yang memakan waktu tidak sedikit, menghabiskan waktu panjang yang akhirnya mampu temukan kita berdua.

Dengan perjalanan yang berliku, lewati bebatuan terjal yang akhirnya muluskan jalan kita bersama, hingga nantinya  Aku melihat senyummu sampai akhir hayat yang pisahkan kita berdua.

Pada dadamu, ku temukan kata pulang, pejal tanganmu membuatku yakin rasa ini tidak pernah padam dalam jiwa.

Kamu ku pilih dari sekian banyak pria di luar sana, dengan rasional tentunya, setelah pertimbangan panjang bahwa kita bisa jadi partner baik untuk bercinta dan hidup bersama, kamu ku pilih sebagai pria yang nantinya nama belakangnya ku semakatkan dibelakang nama, Dia yang dengan ikhlas ku jamah dadanya sebagai bukti Cinta

Sementara kita belum bertemu, selama satuan bagi kita adalah waktu tunggu, ijinkan kali ini Aku mengungkapkan harapan harapan ini padamu, Pria baik yang kelak ku pilih jadi Suamiku.

Semoga tanganmu cukup pejal untuk ku genggam, semoga kau cukup sabar memelukku di ujung malam.

Tapi sudah yakinkah kamu bahwa Dia juga mencintaimu dengan cara yang sama?

Hubungan yang terjalin seharusnya tak sebatas tentang cinta, namun juga melibatkan logika, ketika Dia pergi tiba tiba, Kamu masih punya kekuatan untuk kembali bangkit.

Aku yang menunggumu, walau kau tidak pernah memintaku untuk menunggumu.

Sisakan sepetak ruang di hatimu, karena tidak perlu mencintainya berlebihan, hingga saatnya nanti tiba, Aku akan menghampirimu, menggantikan kehadirannya di hatimu yang akan selalu siap menerima apa pun dirimu, walaupun ku tahu bukanlah Aku yang pertama di hatimu tapi ku yakin Cinta berpihak padaku.

Seiring waktu, Aku yakin kau mampu menerima kehadiranku meski sebagai penggantinya, walaupun sisa sisanya Aku tahu masih tertanam jelas di hatimu, tapi bisakah kau beri Aku harapan agar Aku mampu usahakan.

Kau hadir dalam ketiadaan sederhana dalam ketidak mengertian, gerakmu tiada pasti, namun Aku selalu di sini menantikanmu.

Ku tahu butuh waktu lama untuk hadirkanku di hatimu, tapi setidaknya yang Aku ingin detik ini bisakah waktu percepat pertemuan kita.

Pertemuan antara dua insan yang berlayar diantara samudera cinta yang mendayuh perahunya bersamaan, mengulurkan tali sebagai pegangan yang mungkin ikat hati kita untuk saling merasa dan memahami.

Saat tiba nanti, ku harap kau mau menerima sifat manjaku yang mungkin sudah mendarah daging di tubuhku, semoga kau mampu menerima sifat egoisku yang mungkin akan sulit untuk menerima dan mengalah, siapkan mental dan batinmu untuk menerima diriku yang apa adanya yang mungkin saja akan jauh dari apa yang kau harapkan, untuk itu jangan kaget menerimanya.

Aku memanglah jauh dari ekspektasimu, tapi takdir berkata Akulah yang terbaik di sisimu jadi janganlah berkecil hati ku yakin, Aku bisa menjadi apa yang kau mau.

Biarkan takdir yang menentukan, biarkan Dia jalankan tugas semestinya karena takdir tahu apa yang terbaik untukmu ataupun untukku.

Kita mungkin tidak tahu pertemuan kita berlangsung, entah dimana? Di tempat apa? Atau di situasi seperti apa? Yakinlah waktu yang tepat nanti akan hampiri kita berdua, ya Kamu dan Aku.

Untuk sekarang, bisakah Kau menjaga hatimu hanya untukku, menjaga setiap ruang sebagai milikku, walaupun sekarang kau mencintai Dia yang hari ini terbaik untukmu, tapi pada hakikatnya Aku adalah milikmu.

Milikmu yang belum kau tahu keberadaannya, milikmu yang sampai saat ini belum terlihat di pelupuk matamu, milikmu yang detik ini pun tidak bisa kau genggam untuk kau miliki.

Ingat dan selalu ingatlah, Aku ada untukmu, hanya untukmu dan kembali padamu, jangan pernah ragu untuk menerimaku, Aku pun di sini menantimu meski kita tahu inilah teka teki cinta Kita berdua, sebuah kenyataan yang perlu kita cari dan kembali pada pemiliknya karena Cinta tahu kemana harus berlabuh.

Bersabarlah, Aku harap kita berdua sabar dalam penantian ini, takdir tidak pernah salah hanya saja waktu yang sedikit mengulur kita, bukan berarti Dia tak mengijinkan kita bertemu hanya saja ia sedang memahat Kita menjadi jiwa yang telah siap lahir dan batinnya.

Semoga saja waktu telah mempersiapkan pertemuan indah untuk kita berdua, Pria baik yang kelak ku jadikan sebagai suami, mungkin saja Tuhan meminta Kita agar menjadi makhluk yang lebih baik lagi, hingga saatnya bertemu Kita tidak akan saling mengecewakan.

Biarkan saja, ku yakin pertemuan telah menanti kita, jadi bersiaplah karena Aku pun sedang mempersiapkan diri ini untuk menemuimu, bersiap untuk menemui pujaanku yang walaupun belum ku temui kau telah ku puji puji, Tuhan mengirimkanmu ternyata untuk selalu ku sayangi dan serta ku rindukan.

Tapi ada yang harus selalu Kau ingat, walaupun Aku menyayangimu tetap saja kau harus berusaha untuk terus mendapatkan hatiku seutuhnya, mendapat limpahan kasih sayangku serta perhatianku, Kita harus berjuang bersama sama, agar Tuhan mengijinkan kita dan melepas hatiku dari genggamannya hanya untukmu.

Kita selalu bertemu dalam do’a dulu ya, calon suami terbaikku? Jika memang semesta belum mengijinkan terjadinya pertemuan, ketahuilah kita tak saling meninggalkan , do’aku menyertaimu do’amu pun ku yakin menyayangiku.

-Sincerelly-

Widia Mulyani

Kehadiranmu

Satu kata yang tidak pernah dapat ku sampaikan, satu kata yang membuatku tidak mampu lukiskan sosoknya, seribu harapan dan do’a yang Aku yakin dari dirinya.

Suatu kejayaan yang lahir dari tetesan air matanya serta perangaian yang lembut, satu jiwa yang dengan sigapnya merengkuh diri ini ketita terpuruk.

Suatu ikatan yang sejak lama terbina dari buaiannya, yang ku kira bidadari Surga yang Tuhan kirimkan untuk menyangga dan mendidikku sejak kecil.

Ibu satu kata itu yang tidak mampu ku goreskan dengan tinta ini, satu ucap yang membuat lidah kelu serta air mata bercucuran, sosok kehangatan yang ingin ku rengkuh setiap saat.

Nasihatnya selalu terngiang dalam benak, tidak mampu ku pungkiri kata katanya berputar bagai rol film yang tiada hentinya mengisi kekosongan.

Lihat diriku terlahir darinya dengan susah payah, perjuangan panjang telah ia lewati demi Anaknya melihat indah Dunia, yang terkadang darah dagingnya sendiri melupakan.

Tangan lembutnya setiap hari hantarkan Aku pada sosok pagi dengan kantukan yang mungkin masih ada, tangan sigapnya beradu dengan pisau dapur.

Wajahnya yang ayu ia perlihatkan saat Aku berjalan dan pertama kalinya mengucap kata Ibu, tetesan air matanya meluncur, haru bercampur bahagia pertama kalinya mendengar sebutan itu.

Betapa tegarnya diri itu, dibalik kehangatan dan kelembutannya, hatinya yang lapang mampu tampung cacian dan makian anaknya.

Meskipun begitu ia tetap sayangi sepenuh hatinya, yang terkadangan bekerja membantu Ayah, agar apa? Agar anaknya bersekolah dan berkecukupan, itu semua atas dasar kasih sayang yang besar untuk anaknya, terkadang Kita sendiri lupa apakah Ibu sendiri sudah makan atau menahan laparnya untuk kebahagiaan anaknya.

Ia mencintai Kita berlebihan, tapi kita entah mencintainya atau tidak yang Uangnya sengaja disimpan untuk kepentingan kita, tapi kita buang tanpa hiraukan Dia.

Terkadan ingin ku peluk sososk itu tapi Aku bukanlah anak-anak yang dengan mudahnya ungkap kerinduan, ingin bersamanya tapi kesibukkan yang membuatku lupa padanya.

Waktu kian bergulir, rambutnya perlahan lahan memutih, wajahnya yang dulu segar kini pancarkan panjang waktu yang ia tempuh.

Tubuhnya yang kuat kini mulai melemah, tubuhnya kini mengecil, mulut yang senantiasa memberi bimbingan kini yang keluar hanyalah keluhan.

Dulu diri itu yang memapah diri ini dan menjaga diri ini saat belajar berjalan, kini Aku yang memapah dan membimbingnya untuk berjalan.

Aku ingat masa lalu saat tak mampu makan sendiri dan tidak mau makan ia setia menyuapiku yang mungkin harus berlari lari, keadaan ini terbalik, Aku yang sekarang harus sabar dan membujuknya untuk memakan makanan ini, suapan demi suapan lainnya.

Dulu semua hal kita lalui bersama, berbagi bersama dalam naungan atap yang sama, tapi sekarang Aku beranjak dewasa, cepat atau lambat kIta akan terpisah dengan kegiatan sendiri.

Terkadang kesal memdengar ucapan ucapannya yang seakan menghakimi, tidak pernah tersirat suatu saat akan ada diriku disituasinya, waktu waktu yang berharga kini kian bergulir meninggalkan jejak jejak yang seakan tertinggal.

Memang terkadang Kita tidak boleh terlalu berharap pada keadaan yang tidak menentu, berharap semua yang akan kucapai Ibu melihatnya namun kita tak mampu pastikan  waktu itu  semua.

Akulah yang sampai saat ini berharap senyuman manis menghiasi wajahnya, sayangnya Aku tak mampu saksikan itu semua karena keluarga baru kecilku ini perlu diriku.

Dari saat itulah semua berubah dan Aku pun tak mampu berada di dekatnya lagi,  tak mampu bebas bersandar di tubuhnya, sekarang Aku bukanlah tanggung jawabnya tetapi tanggung jawab imamku yang harus ku patuhi.

Waktu kian cepat berlalu, kini detik demi detik peralihanku menjadi seorang Ibu kurasakan, lelah letih yang mendera tubuh, hanya dengan beberapa langkah saja tubuh melemah.

Susah payahnya ku rasa saat ingin berdiripun susah untuk berdiri kembali, rindu ini kembali mengingatkanku pada sosok Ibu disana, kabar tentang kesehatannya sekarang.

Jalan  satu satunya hanya telephone yang mampu mendekatkan kami dan melepas semua rindu, terdengar suara lemahnya menyapaku, menanyakan kabarku dan keadaan diriku sekarang, disaat itu juga ia sangat antusias menceritakan diriku semasa kecil.

Aku tahu, disitu terselip rasa kesedihan yang luar biasa, berjauhan dengan anaknya yang dulu masih kecil kau asuh dan kau timang-timang lalu esok lusanya kau harus siap melepaskannya demi orang yang ia cintai di luar sana.

Membesarkan darah dagingnya penuh kasih sayang tapi tahun berikutnya mereka meninggalkanmu tanpa kasihan dan tidak perduli betapa beratnya melepas sosok kesayangannya, kesayangannya yang sampai kapanpun akan menjadi orang tersayang dan nomor satu di hatinya, hanya dihatinya.

Namun semua tampak sia sia, saat bidadari surga kita Tuhan renggut ke sisinya, disitulah teringat hari hari berharga yang Kita lalui bersamanya, poin poin yang mungkin terlewatkan.

Kini ku sadari saat buah Cintaku lahir, kurasakan sosok kasih sayang yang hebat pada Anaknya, sosok was was dan tidak tenang saat harus menitipkan anak demi sebuah pekerjaan.

Itukah kasih Ibu sepanjang masa? Yang tak terhingga sepanjang masa, yang sekali memberi tak pamrih untuk membalas, Aku menyesal melewatkan detik detik terakhir bersamamu, detik paling berharga kepulanganmu.

Aku tak tahu kapan lagi kita akan bertemu, walau di Akhirat kelak kita dipertemukan, tapi kita kan kembali ke masa dimana kita akan bertemu tanpa saling mengenal,  Aku harap di Akhirat kelak meski pun tak saling mengenal setidaknya Aku melihat senyuman tulusmu dan sapaan hangatmu.

Aku rindu ceritamu bu, cerita diriku kecil, puteri kecilmu dan masa masa menyenangkan bermain bersamamu, tapi kini kau telah tiada Bu, lalu dengan siapa Aku mengadu dan berbagi kisah? Terkadang Aku menahan nafas sendiri, ku sadari, tanpamu, Hidupku nyaris Mati.

-Happy Mothers Day-

Di Bawah Naungan Bulan

Suatu suratan takdir ketika diri ini jatuh dalam pelukanmu merasakan cinta yang membuncah begitu hebat, anugerah Tuhan yang paling indah saat Tuhan biarkan Aku di sisimu walau mungkin hanya tuk mampu genggam sebagian tanganmu.

Cinta ini pertahankan langkahku tuk berada di sisimu, sementara mata ini tak henti memuja ciptaan sang kuasa, saat senyum manis di wajahnya, semburat kebahagiaan penuhi rongga dada ini.

Saat rasa rindu yang senantiasa hadir disetiap waktunya rasa cinta yang terukir tertanam indah di hati ini.

Berbulan bulan bahkan bertahun tahun ini tak terasa tangan ini senantiasa pada sosok pria tampan yang selalu setia menggenggam erat tangan ini.

Beri isyarat bahwa dirinya tidak akan pernah lepaskan diri ini sendirian, keeratan ini jeratkan Aku pada peluknya yang tidak akan pernah bosan ku jamah dadanya.

Yang setiap sang surya menyingsing ia lantunkan pesan pesan cinta yang menggelora, lihat betapa indahnya kebersamaan kita.

Bahkan kebersamaan ini kalahkan cerahnya sinar mentari, pandangan teduhmu itu lebih indah daripada sekeliling kota ini.

Kecupanmu pada keningku ini salurkan rasa kasih yang tiada henti mengalir, alirkan sejumlah electron yang mampu beriku tenaga tuk menjalani hari demi hari bersamamu.

Tak pernah lelah jiwa ini jikalau dirimu masih setia bersamaku karena sedalam ini  Aku menyayangimu lebih dari apapun dan tidak akan mampu dijelaskan oleh kata kata.

Karena apa? Karena Cintaku tentang rasa bukan tentang materi yang tidak akan mampu diucap Aku merasakannya bukan berfikir merasa apa.

Lihatlah bulan malam ini betapa indahnya, secerah wajahmu ketika menghadapku, berbicara denganku dengan tutur katamu yang manis luluhkan hatiku seperti es yang mencair begitu saja, entah kenapa kau selalu hadirkan tawa dalam hidupku.

Dan tak hentinya senyumku terbit untuk dirimu semua hanya untukmu, apapun itu ku usahakan dan bagiku bagaimana pun Kamu Ku tetap sayang.

Bahagiaku kian membuncah ketika janjimu selalu terngiang dalam pendengaranku yang kau bisikkan “Lusa Kita akan segera Menikah, persiapkan mentalmu untuk lihat betapa kekarnya setiap inci tubuh calon Suamimu.”

Betapa menggelikannya ucapan itu namun tak mampu tutupi juga bahwa Aku terpaku atas pembicaraan itu, selangkah lagi Kita akan lewati ke jenjang serius dan nanti Aku bukanlah kekasihnya tetapi pendamping yang telah halal menurut agama dan Negara.

Tess…. Air mata jatuh, bukan ketidak inginan tetapi keinginan yang tak lama lagi tersampaikan hidup bersama sosok yang di cinta bahkan mengarungi manis pahitnya pernikahan bersama.

Hal luar biasa yang tidak mampu terfikir dalam benak, bercampur satu dengan kebahagiaan, akan ada hal yang hilang, kebebasan tak mampu lagi jadi patokan, karena nanti ada yang mengatur, kesibukkan senantiasa bertambah yang mungkin cukup menyenangkan.

Dan semua itu akan Ku terima lapang dada, dengan senang hati serta penuh antusias, senyum yang mengembang tak pernah luntur di bibir ini.

Setiap aktifitas, kebahagiaan ini selalu ada, setiap detiknya setiap dentingan waktu ku hitung seberapa bagian yang hilang untuk hantarkan Aku pada sosok kerupawanan Ratu semalam.

Tak pernah bosan setiap hari Ku pandang kalender yang mengait menggantung indah di dinding, jiwa ini semakin semangat ketika hari hari itu kian mendekat.

Esok pagi yang indah Ku lewati, sang pujaan mengajakku untuk melihat lihat gaun penganting yang akan ku kenakan, terpampang jelas di sana gaun putih yang menjuntai indah telah siap ku kenakan di waktu yang tepat nanti.

Saat ia mendorongku untuk mencobanya, ku pegang gaun pengantar menuju peralihanku mendapat gelar seorang istri, dengan lembut ku elus  gaun itu dengan ucapan syukur tiada henti.

Rasa takjub yang menggema seakan hilangkan kehawatiran, ku pandang cermin terlihatlah pantulan diri ini yang terlihat molek dengan balutan busana menawan, mempercantik diri ini dihadapannya.

Siang ini Kami habiskan waktu bersama memandang Taman Kota yang terlihat ramai oleh Anak anak, tertawa lepas saat kekonyolan mereka menjadi jadi.

Dalam benak, siapkah Aku tuk memiliki semua hal itu? Anak kecil yang nantinya menemani hariku dan terus mengajakku bermain, hal yang menakjubkan memang.

Saat malam menyapa, hening menjemput begitu sahdunya, rasa gelisah entah kenapa ada dalam diri ini, bingung rasanya tafsirkan rasa ini.

Rasa takut kehilangan yang entah kenapa terjadi, rasa ke khawatiran yang tak tahu sebabnya, rasa perpisahan tapi kenapa?

Pagi ini ia hubungi Aku, suara merdunya sambut cerahnya Pagi ini, kata katanya yang indah mampu bangkitkan gairahku, pagi ini ia berpesan “Jaga Hati, jaga pikiran, Hari ini Aku pamit untuk membeli mahar perkawinan, nantikan kepulanganku, Aku Mencintaimu.”

Kata kata itu loloskan pikiranku, hangatkan hati, percaya bahwa semua akan berjalan secara baik baik dan kita selamanya akan bersama yang terkait oleh suatu ikatan dan lebih merekatkan kebersamaan kita lebih dari hari ini.

Guncangan apa ini? Tuhan selamatkan Dia dimanapun berada, lindungi Dia dari apa pun yang terjadi, Aku mencintainya dan sangat mencintainya, biarkan Kami pada satu kebersamaan untuk menghadapi esok.

Semua rubuh dan ini bagai tempat asing untukku, mengapa ia tidak mengabariku berjam-jam berlalu tapi tiada kabar, khawatir ini membuncah, selamatkan Dia Tuhan.

“Aku Mencintaimu.” Pesan itu baru masuk ke ponsel padahal ia mengirim semenit setelah re-rumahan rubuh, Aku meneleponnya tapi tak kunjung dapat.

Suara Ambulance penuhi sekitar pengungsian, terlihat jelas kemeja kotak-kotak bercampur darah, itu baju yang ku beri untuk Dia, tidak mungkin! dengan langkah semakin cepat, begitu pun hati yang bertanya-tanya, ku buka penutup wajah itu terpampang jelas sang Kekasih pujaan menutup mata.

Bagaimana mungkin? Di sisinya tertulis Korban Meninggal tertimpa bangunan, Tuhan Dia pergi menghadapmu, secepat itukah? Tinggalkan Diriku pada janji yang esok harus terjadi tapi kandas dilanda musibah.

Mengapa harus terjadi? Lantas pernikahan Kita? Angan-angan kita membina rumah tangga? Selangkah lagi kita raih! Kenapa Kau jemput Dia ya Rabb, jemput kekasih pujaanku.

Raga ini hampa tanpa ada lagi penyangga, tiada lagi semangat hidup Ku jalani, Cinta suci yang harus terukir ambruk tertelan takdir, tidak semudah itu melupakan cinta bertahun-tahun yang kini harus pergi selama-lamanya, Cinta tulusku kini kembali pada pelukan sang illahi, terimakasih untuk Cinta tulusmu yang setia mengalir menuju relungku.

Air mata ini tak sanggup Aku tahan, tak sanggup Aku pendam rasa sesak dalam dada,saat liang lahad terbuka untuknya, bagaimana pun selama ini ia selalu menemani hari hariku, mewarnainya bersama dalam suka cita.

Tetes demi tetes ini isyaratkan kerapuhan diri ini, karena bukan kenangan buruk yang membuatku bersedih, tapi kenangan indah yang Aku tahu, tak akan mampu terulang kembali.

Di bawah naungan bulan malam inilah saksi bisu raga pilu yang rapuh menerima takdir dan bulan inilah akhir kebersamaan terakhir kami, di sini Aku Mencintaimu.

–Selamat Tinggal kekasih pujaanku-

Kemilau Rembulan

Ku pandang langit hitam,bersinarlah sang rembulan dengan sosok beraninya, keyakinan terpancar dari sinarnya tapi tidak menutupi anggun sosoknya.

Jiwa lelah ini memujanya, memuja pancarannya yang tiada duanya, saat yang lain berkelip tetap dialah pemenangnya.

Sepertiga malam ini ku sempatkan keningku bersujud,kepada sang kekasih semua umat, ku serahkan takdir yang tak menentu ini padanya.

Saat hening malam,jiwa ini teriris pilu mengingat ni’mat yang mengalir tiada henti, sementara raga lemah ini jarang mengingat kebesarannya.

Malu rasa ini menghadapnya, namun ragaku kembali ke tempat sandarannya, saat hampa ia hadirkan gelak tawa, saat sibuk ia siapkan waktu istirahat,saat sakit ia siapkan segala obat.

Namun mengapa sulit ucapkan satu kata syukur dibanding seribu ni’matnya?saat gelap, ia siapkan cahaya menderang saat mentari menyapa,namun mengapa satu sujudan tak mampu laksanakan? Walaupun itu bagian kewajiban.

Sementara sang mentari di tengah perputarannya ia sempatkan dzikir bentuk pemujaan pada sang illahi, pujian bagi Tuhan sekalian Alam.

Tuhan… ampunilah jiwa ini yang lemah,jiwa yang rapuh saat hantaman penggoda syaiton menerpa, jiwa yang terpuruk meratapi dosa-dosa yang begitu menggunung.

Tapi engkau,dengan kasih sayang,sentuhan lembutmu itu berikan segala ni’mat pada ciptaanmu,padahal kau tahu ia tidak pernah mengingatmu.

Saat mereka tidak ingat, kau guncangkan satu tarikan, bumi pun bergoyang dan mereka baru berkata “Ya Tuhan ampunilah kami! Lindungi kami dari marabahaya.

Sementara mereka tidak mampu lindungi diri dari tipuan indahnya Dunia, keindahan Dunia ini silaukan mata mereka dari petunjukmu, halangi ketetapan yang belokkan tujuan mereka.

Angin segar yang terpa mereka,untuk lupakan akhir setiap makhluk yang hanya ingatkan mereka dengan kelimpahan benda yang sama sekali tak berujung untuk milikinya.

Hujan genangi Bumi pagi ini, kunci mereka dalam sangkarnya yang kau takuti mereka dengan gemuruh petir yang menyambar-nyambar.

Padahal saat itu ia buktikan keberadaannya diantara kelupaanmu terhadapnya, agar kau sadar bahwa kehidupan ini ada yang mengatur.

Saat panas mendera ia perlihatkan balasan bagi orang-orang yang melupakannya, bahwa panas ini tak seberapa dengan panasnya di hari kelak.

Lihatlah sang pencipta dengan Ar-Rahman dan Ar-rahimnya setia menunggu umatnya kembali ke jalan kebenaran tanpa henti mengawasi,mengikuti umatnya dalam setiap gerak.

Memberi ilmu kepada setiap orang yang engkau kehendaki tapi mirisnya mereka gunakan berlomba dalam kesesatan.

Padahal betapa indahnya mengasihi dan menyayangi ke tiap jalan benar, betapa damai dirasa,tapi mengapa kaki sulit melangkah?

Sulit tinggalkan kegelapan sementara seberkas cahaya telah menanti, menjemput dan menggiring kepada ketentraman, namun asyiknya itu hingga cahaya terlewatkan, pergi sampai tangan tak mampu lagi lampaui untuk ambil kesempatan dulu sedia kala.

Sayang sekali, kesempatan telah terlewatkan sehingga kamu hanya tinggal mengecap pahit yang kini membekas teritinggal di sana.

Ingat pntu taubatnya tidak akan pernah tertutup untuk mereka yang mau memperbaiki, mau belajar dari awal, sabarlah lintasannya dan bagi mereka yang teguh menjalaninya ampunan Allah senantiasa bersamanya.

Tataplah langit biru itu, betapa mengangumkannya bukan? Begitupun orang-orang yang memperbaiki kesalahannya dan kini senantiasa mengingat sang illahi, mereka jugalah yang patut dikagumi.

Kamu harus ingat, setelah hujan, badai dan petir, pastilah terbit matahari beserta seulas pelangi yang mengiring.

Itulah pertanda bagi setiap kegigihan serta usaha mereka pasti kan lihat juga hasilnya, setiap usaha tidak ada yang tidak mungkin.

Meskipun mungkin pelangi itu hanya sesaat, tapi setidaknya ada keyakinan dalam hati bahwa di Dunia ini tidak ada yang tidak mungkin, karena sang pemilik ini pasti tahu mana umatnya yang berusaha dan mana umatnya yang hanya diam di tempat.

Jangan pernah takut untuk terjadi perubahan, mungkin kan terjadi perubahan yang besar dan akan kehilangan suatu hal, tapi takutklah dengan perubahan keyakinan pada sang Illahi, mantapkan pada diri ini bahwa biarlah takdir penentunya karena diri ini masih ada yang memegang keadilan dengan seadil adilnya.

Dan engkau jangan berpuas diri jikalau memiliki ilmu, karena setinggi apapun ilmu agamamu kamu akan tetap sulit melangkah jika hatimu penuh kerapuhan, maka ikhlaskan apapun itu, serahkan pada sang Illahi supaya tunjukkan jalannya dan lindungi jiwa ini dengan rahmatnya.

Ia seperti kemilau rembulan yang saat gelap pun akan pancarkan sinarnya di tengah keheningan yang mungkin ungkap rahasia tabir Illahi.

 

 

Dua Asa

Setiap detakkan tidak terasa mengiring jiwa, angin bersiur membawa dingin menerpa diri,wajah cantik bersama seorang pria berjalan bersama mengikat janji,bagai alunan melodi yang mengalun indah,masuk ke relung jiwa semarakkan hari ini.

Kau tahu, setiap dentingan waktu pikiran ini enggan teralihkan, entah esok atau lusa, jiwa tidak mau meninggalkan sosok Dia dalam benak.

Entah sampai kapan kau mengisi jiwaku? Sementara dirimu telah tinggalkan Aku sendirian.

Seberat apapun itu,berapa kali ku coba, mengapa bayangmu yang selalu mengisi relungku?

Setiap kali detakkan itu, yang ku sebut adalah  namamu,jika dulu kita ikatkan janji saling bersama,lantas kenapa harus terhenti? Sementara rasa masih ada.

Mengapa harus berjalan sendirian? Sementara angan berjalan bergandengan ?

Mengapa harus melupakan? Sementara Cinta selalu merekah dalam ruang hati.

Sementara semburat merah dalam pipiku selalu ku ingat saat kita bertemu dan kau sapaku.

Sebesar itukah Cintamu yang kau tanamkan padaku dan seluas itukah harapanku saat masih bisa mengingat tiap inci tubuhmu disaat kebersamaan itu masih terjalin.

Bagaimana bisa Aku melupakanmu? Sementara sampai detik ini angin selalu membawa aroma tubuhmu.

Memang jauh jarak pemisah namun kenapa terasa lebih dekat saat hati merasakannya.

Saat dua jiwa itu bertemu,hati ini ingin bersama namun bibirku kelu enggan rasanya untuk berkata hanya tatapan yang mampu isyaratkan.

Dulu mata teduh itu milikku yang saatku tatap tersirat rasa kerinduan,entahlah,sekarang mata itu bukanlah lagi teduh yang saat ditatap kosong tanpa rasa.

Bagaimana bisa? Sementara rindu ini selalu membuncah,semudah itukah melupakan?

Lupakah kau tentang ukiran Cinta yang pernah kita torehkan bersama?

Dua asa yang pernah hampir kita raih namun harus padam ditelan masa,bukan salahmu atau salahku Cinta ini terhenti, tapi karena masanya telah usai,kebersamaan kita ada masanya sampai perpisahan itu renggut semua keindahan.

Semburat senja telah lukiskan langit baru, sinarnya yang meredup kini warnai hampanya kesendirian,gelap kini warnai separuh jiwa,rindu kikiskan bagian ragaku.

Sumber kekuatanku kini pergi,yang dulunya bahu sandaran, kini hilang yang saat lemah dengan sedia ku genggam tangannya kini tinggal cerita.

Aku tahu waktu tidak akan pernah mampu terulang, seperti gelas pecah tidak akan pernah menjadi gelas kembali hanya kepingan kaca yang harus terbuang.

Begitupun sebuah ikatan,jika telah usai rasanya tidak akan pernah sama seperti dahulu.

Adakah angin yang mampu sampaikan rinduku,terbangkan segala mimpi dan angan yang tercipta.

Kenapa kau terpa Aku seperti ini? Duri selalu menancap dalam hati, tapi benci tidak hidup dalam hati.

Manis itu ingin ku kecap rasanya, namun tidak pernah hadir dikesendirian,sementara anganku setia dalam sosokmu yang hadir dalam tidur panjangku.

Jiwa ini telah lelah dengan ketidak adilan, dimana setiap puteri dalam dongeng mendapatkan pangeran, mengapa Aku hidup dalam suatu ketiadaan?

Rembulan pancarkan sinarnya saat gelap menyapa, Aku tak pernah mampu tuk jadi rembulan yang gagahnya menepis gelap dengan pancaran sinarnya,susah untuk menjadinya sementara kekuatan telah habis dalam masa lalu.

Guratan sedih telah tampak pada wajahku, dalam kegelisahan ini kau sempatkan bayangmu dalam mimpi.

Sampai kapan kisah ini kan terhenti, sementara masanya telah usai, masa lalu itu menghantui tidak sempatkan Aku tuk menghapusnya.

Tabir Cinta, bantulah Aku,bantu jiwaku hentikan semuanya,hentikan penderitaan yang selama ini menghiasi hatiku yang terluka.

Biarkan sejarah yang mencatatnya, bukan akalku tuk mengingatnya, hati tenang,simpan semua rasa dalam 1 masa ruang waktu.

Biarlah berubah,perpisahan memanglah menyakitkan, namun lebih baik daripada dipaksakan dan sekarang mulailah menata rindu yang baru, katakan pada masa lalu “kita adalah cerita yang telah usai.” Dua Asa telah pergi, melangkah sendiri  tuk cari kebahagiaan yang mungkin lebih indah dibanding masa lalu.

Bukannya Aku lemah atau mudah menyerah tapi bijaksana, mengerti kapan harus berhenti.