Malaikat Kecilmu

            Hari berlalu begitu saja, mentari mulai bersinar menerangi alam semesta, semilir angin berhembus menerpa memberikan rasa segar kepada setiap jiwa, manusia menyongsong rutinitasnya, untuk apa kekuatanmu? Untuk kau gunakan apa? Apakah untuk seseorang yang meringkuk di dalam sana?
             Senyummu kini menentramkan hariku, aku merasakannya bu, meskipun aku kecil dan belum sempurna untuk menjadi makhluk bumi, tapi Aku dapat merasakan senyumanmu, saat itu Aku sangat ingin sekali tertawa bersamamu,tetapi aku sadar masih banyak proses yang menanti untuk siap hidup di Bumi.
              Saat Kau menangis, Aku ingin sekali mendekapmu dan berkata “Ibu jangan menangis, ada aku yang akan selalu melindungimu dan berada di sisimu,jangan khawatir bu Aku akan menjadi jagoan kecil yang akan membuatmu selalu tersenyum.” Ingin sekali tanganku menggapainya, namun tangan mungilku belum bisa sampai untuk membelainya dan mulutku belum bisa untuk berkata “Aku menyayangimu bu dan aku beruntung bisa tinggal di rahimmu.”
            Kakiku menendang-nendang perutmu bu, bukan berarti aku memberontak, Aku hanya ingin kau ajakku berbicara Bu, tapi kenapa kau tidak pernah mengajakku berbicara kepadaku bu? Sekedar mengelus perutmu saja tidak pernah? Sebegitu bencikah kau kepadaku bu? Apa salahku bu yang membuatmu marah?
              Suatu hari kau bertengkar dengan seorang lelaki, yang kau sebut sebut sebagai Ayahku, bahagiannya Aku memiliki Orang Tua yang lengkap, tapi kenapa kau menangis bu? Apa yang ia perbuat kepadamu? Setiap kali kau menangis, Aku dapat merasakan kesedihanmu, jangan bersedih bu , karena bukan kau saja yang merasakan sakit itu, tapi aku juga dapat merasakan perihnya, jadi jangan beranggapan kau sendiri bu, Aku selalu bersamamu.
              “ kau harus bertanggung jawab Rey!”, ucap ibuku, “untuk apa Aku bertanggung jawab,Aku tidak pernah mencintaimu, Kau hanya pelampiasanku saja, dan Aku tidak pernah berharap dia lahir dari rahimmu!” ucapnya sinis.
               “Tapi kau lihatkan sebentar lagi dia akan lahir, apakah kau tidak kasian dengannya, lahir tanpa seorang ayah?” jawab ibu sembari mengelus perutnya, “ Aku tidak perduli hal itu” jawab  ayahku , “ kalau kau tidak perduli denganku, setidaknya kau perdulikan anakmu Rey!” ucap ibu sembari menangis, “ DIA BUKAN ANAKKU” ujarnya sembari melengos pergi.
                Ibu menangis dengan kencangnya, ia memukuli aku yang berada di perutnya, “kenapa ibu memukuliku? Apa aku berbuat salah? Jika ia aku meminta maaf, tolong hentikan bu rasanya sakit.” Akhirnya ibu tidak memukuliku lagi, mungkin ia sudah lelah dan telah terlelap tidur.
                Keesokan harinya ibu pergi entah kemana, aku merasakan dia yang berjalan dengan tergesa-gesanya, saat ia telah sampai di tujuannya, Aku dapat mendengar sayup sayup ibu yang sedang berbicara dengan seseorang.
                “Dok, apa bisa dilakukan sekarang?” ucapnya bertanya, “apa anda yakin akan melakukannya? Apa Anda tidak akan menyesal?” ucap seorang wanita bertanya kepada ibuku, “Saya tidak akan menyesal dok.” Ucap ibuku, “ silahkan anda berbaring disana!” ujar sang dokter.
                 Seketika Aku merasa badanku semuanya sakit, kakiku seperti di tarik tarik oleh sesuatu tapi entah apa, Aku tidak mengerti, setelah itu badanku terus diguncang-guncang dan di tarik, “Ibu……. Tolong Aku, Aku merasa sakit badanku, Ibu tolong Aku ia menarik narik badanku.” Kaki ku terputus ia menarik kembali badanku “Ibu tolong kakiku hilang, ibu kenapa kau tidak menghentikannya, Aku kesakitan bu, tolong hentikan, Aku meminta maaf jika selalu berbuat salah, selalu membuatmu lelah atas diriku.”
                 “ Ibu leherku seperti ingin putus dari kepalaku, ibu kepalaku berdenyut seperti ingin pecah,Ibu hentikan, ibu tolong A…KKKK..U.” Dan semuanya pun menjadi gelap.
                Tiba tiba Aku terbangun, aku melihat sekelilingku sangat indah, ada seorang anak lelaki sepertiku memhampiri diriku,”hai selamat datang di alam baru” ucapnya, “Alam mana? Dimana ibuku?” ucapku bertanya padanya.
                “Dia tersenyum kepadaku, kau harus terbiasa hidup di sini tanpa ibumu, kau dan aku sama, kita harus bisa terbiasa hidup di sini, Ibumu tidak menyayangimu dia membunuhmu dan mengirimmu ke tempat indah ini, dia tidak mengharapkanmu tapi tenang disini kau tidak sendirian ada aku dan teman yang lain serta tuhan yang sangat dekat dengan kita” ujarnya  lirih.
                  “Tapi Ibuku sendirian, siapa yang menjaganya,melindunginya dan menemaninya? Dia pasti kesepian.” Ucapku sembari menangis. Temanku pun membiarkan aku sendiri untuk menenangkan diri.
                   Tiba tiba ada seberkas cahaya yang sangat terang, “pergilah masuk sayang,bermainlah bersama teman yang lain, nikmatilah surga yang aku ciptakan, berbahagialah dan hidup kekal di dalamnya.”
                  “Tapi Tuhan bagaimana Aku bisa bahagia, sementara Ibuku di Bumi sedang kesepian,tidak ada yang menemani.”ucapku, “jangan khawatir sayang, Aku akan selalu melindungi umatku di bumi, dan memberikan kebahagian kepada setiap makhlukku, masuklah jemputlah kebahagiaan kekalmu di sini, Aku sangat dekat denganmu sekarang, wahai umatku yang suci.” Ucapnya tersenyum.
                   Aku pun memasuki tempat itu yang bak istana, sambil berkata, “ Jika Aku bisa, ingin sekali Aku mengajak ibu ke sini, lihatlah di sini sangat indah ada sungai yang mengalir, indah sekali bu, benarkah ibu tidak menyayangiku? Ibu pasti menyayangikukan? Sehingga ibu mengirimku ke tempat yang sangat indah ini, tapi ibu maafkan Aku, karena aku tidak bisa menjagamu,menemanimu saat kesepian, padahal aku ingin sekali memandang dan membelai wajahmu menyelipkan rasa hangat pada tubuhmu,menghapus setiap air mata yang meluncur bebas dari matamu, tapi harapanku tidak bisa jadi kenyataan bu, kita sudah berbeda alam,takdir Tuhan memisahkan kita, tapi ibu tidak usah khawatir, di sini Aku sangat bahagia, dan aku akan selalu mendo’akanmu supaya Tuhan memberikan kebahagian yang melimpah kepadamu, menjagamu, dan selalu menemanimu, maafkan Aku bu yang memberikan rasa lelah kepadamu, semoga Ibu di bumi selalu tersenyum, ibu akan selalu menjadi Ibu yang sangat aku sayangi, Aku sangat senang pernah hadir di dalam rahimmu, meskipun hanya sebentar, Sekali lagi maafkan Aku yang telah gagal menjadi Malaikat kecilmu bu.”

 

Jangan Biarkan Aku Sendiri

Awan menghitam,rintik rintik hujan ikut berhamburan mengiringi langit,angin pun menjadi saksi kebisuan pagi hari, matahari tampak malu-malu menampakkan cahaya keabadiannya, cahaya pengharapan semua umat.
Hari ini aku terbangun dengan malasna, dengan mata yang berkunang kunang setengah menutup, aku memaksakan diri menapaki lantai untuk bersiap ke sekolah.
Hem masih sepi, inilah kebiasaan rumahku di pagi hari,semua sibuk dalam kegiatannya masing-masing, “Bu…” dengan kerasnya aku berteriak, tidak ada jawaban mungkin tidak terdengar.
Sekali lagi Aku berteriak “Ibu…. Aku berangkat sekolah dulu yah.” namun tetap tidak ada jawaban, Aku pun berangkat dengan tergesa-gesa karena waktu semakin berlalu.
Sendiri, itulah setiap hal yang aku rasakan, hening , sepi, itulah pil pahit yang setiap hari aku dapatkan,tidak terasa aku telah tiba di sekolah, di sana Aku memandang sekeliling,betapa bahagianya mereka yang memiliki teman, bercengkrama dengan hangat,tertawa tanpa beban.
Namun apa daya Aku yang selalu ditakdirkan digaris kesendirian,hanya mampu diam dan termenung,Siang telah berlalu,aku telah pulang dari sekolah,rumah masih sepi,detik demi detik berlalu tapi tetap tidak ada perubahan, tetap sepi bahkan lebih seram dari kuburan.
Ceklek,Tampak suara pintu terbuka, Aku mencari sumber suara itu, dan tampaklah Ibu dibalik pintu,Aku berlari dan segera memeluknya dengan berkata “Ibu darimana saja ?Aku kesepian bu.” ucapku
“Ibu pulang bekerja, kenapa kamu kesepian?kamu kan sudah biasa ibu tinggal nak.” ucapnya, aku membalas perkataannya “tapi Bu, Aku juga ingin berlama lama dengan ibu,ada kalanya aku bosan untuk ditinggal dan sendirian.”
“Tapi ibu juga seperti ini membantu ayahmu untuk mencari uang, ini juga untuk masa depanmu,sudah cukup nak, ibu sudah lelah,ibu ingin beristirahat di kamar.”aku hanya mampu melihat punggung ibuku semakin menjauh.
Tidak lama ayah pulang, aku sangat antusias melihatnya, kali ini mereka tampak pulang lebih cepat, aku meneriakinya “Ayah…..” ucapku, tapi beliau tidak membalasnya,bahkan menolehpun seperti enggan, ia malah memasuki ruang kerjanya tanpa memperdulikan aku yang sedang mematung manahan tangis.
ibu…ayah….,andai kalian tahu aku selalu menantikan pelukan kalian,pelukan yang sama saat aku kecil, yang kalian terus peluk dengan erat, mengajakku berbicara dan bermain bersama, andai waktu bisa ku ulangi, aku berharap selalu menjadi makhluk kecil yang tangannya selalu kalian genggam.
Aku tahu kalian menyayangiku dan memprioritaskan masa depanku, tapi bukan berarti kalian mengacuhkanku seperti hal yang tidak penting, tapi yang aku harapkan kalian bisa menjadi saksi perkembangan usiaku, Ayahhh…. Ibu…., dengarlah tumbuh kembangku semkin cepat, tidak lama lagi aku akan menjadi sosok yang lebih dewasa.
Hari hariku bersama kalian akan semakin berkurang, akan ada kalanya, seseorang mengajakku untuk hidup bersama disitulah kita akan berpisah jarak dan jarang bertatap muka secara langsung.
Yah minimalnya, kalian meluangkan waktu untuk mengajakku berbicara dan bercerita,jangan simpan aku dalam ruang hampa ini, di situasi yang tidak pernah untuk dibayangkan, malam harinya, kami berkumpul di ruang keluarga, aku harap kami bisa bercerita dan menghadirkan suasana yang hangat.
seketika anganku ambruk, senyumku memudar ketika Aku lihat orang tuaku masih berkutik dengan laptop dihadapan mereka, tanpa menghiraukan Aku yang sedari tadi mennggunya mengajakku berbicara dan membangun suasana.
Aku ragu untuk mengajak mereka berbicara,karena Aku lihat cukup banyak map yang sedang mereka kerjakan,dentinga jam kian menyeruak di ruangan bagai melodi yang mengiringi,sekian lama Aku nantikan, tapi tetap tidak ada yang bersuara,akhirnya Aku memberanikan diri untuk memulai suara.
Dengan ragu Aku bertanya pada mereka “Ayah….Ibu……..apakah Aku anak yang kalian harapkan?”
Mereka pun menoleh kepadaku “Apa-apaan Kamu berkata seperti itu?Kamu adalah anak yang Ibu dan Ayah harapkan,Ibu dan Ayah bekerja demi kamu! ucap ibu dengan penuh penekanan.
“Tapi Ibu dan Ayah bersikap seolah-olah Aku tidak pernah diharapkan,Aku selalu diabaikan,dan kalian lebih memprioritaskan pekerjaann kalian daripada melihat masa-masa emasku.”ucapku terisak.
“Hey,Kamu itu anak yang tidak diuntung hah,Kamu mau jadi anak durhaka?Kamu di sekolahkan bukannya jadi orang pintar,malah jadi orang yang melawan orang tua.”
“Dengarkan Aku Yah,bukannya Aku bermaksud durhaka tapi Aku hanya ingin ada waktu luang untuk setiap ivent sekolah, kalian menyaksikanku,Aku menjadi juara kelas itu agar kalian bangga kepada Ku.”ucapku
PLAKK, seketika tamparan itu mendarat di pipi mulusku,”sekali lagi Kamu berkata, saya akan bunuh Kamu sekarang juga.” ucap Ayahku dengan penuh amarah.
Ku tatap ibuku dengan mata sendu penuh dengan air mata, tapi ia hanya menyaksikan tanpa berkutik untuk melindungiku, Ayahku berkata lagi “Kau lihat ,apa ini yang disebut Anak kita,jika Aku tahu Dia akan menjadi Anak yang seperti ini,seharusnya Dia digugurkan sebelum terlahir seperti ini.”
Hatiku seperti tertusuk tusuk oleh pisau belati,tidak menyangka Ayahku akan berkata seperti itu,”Apakah Aku sangat buruk? sampai Ayahku menyesali kehadiranku.” tanyaku dalam benak.
Tiba-tiba Ayahku menarik pergelangan tanganku, Dia menyiramku dengan air hingga badanku basah kuyup,Aku pun ia kurung di WC. Aku berteriak-teriak memanggil Ibu,namun terdengar oleh ku,Ayah memerintahkan Ibu untuk tidak membukakan pintu sebagai hukuman.
Sekali lagi Aku berteriak “Ibu Aku kedinginan,”namun sayang usahaku tetap sia-sia.Air mataku terus meluncur tanpa bisa ditahan,setega dan sekejam inikah,mereka menghukumku tanpa makanan dan minuman untukku.
Sampai akhirnya tangisku terhenti,Aku merasa kepalaku pening dan semua kian gelap tidak terlihat,hingga pagi pun tiba, Ibu meneriakkiku dari luar, Aku mendengarnya tapi mataku enggan untuk terbuka,sebenarnya Aku ingin berkata “ibu Aku kedinginan,Aku ingin kehangatan dari pelukanmu bu.”
Namun semua terasa sulit untuk diucapkan,Ibuku semakin khawatir dan memanggil Ayah,Ibu menyuruh Ayah untuk mengeluarkanku dari WC itu, saat pintu terbuka Ayah dan Ibu kaget melihatku dalam keadaan terlelap dengan muka pucat pasi.
Kepalaku semakin sakit,tapi Aku mampu merasakan Ibu yang sedang menangis memanggil-manggil namaku.Ingin sekali Aku memeluknya,menghapus air matanya dan berkata “Aku baik baik saja bu.”namun susah sekali pergi ke alam kesadaranku.
sakit itu semakin menjadi jadi,Tuhan jika umurku sampai di sini,biarkan Aku memandang wajah Ibu dan Ayahku.Entah dorongan darimana,Aku pun tersadar dan menatap kedua orang tuaku,terlihat kepanikan dari air mata yang mengalir deras.
Raut wajah mereka senang saat melihatku sadar,mereka meminta maaf dan berjanji selalu di sisiku,begitupun juga Aku yang meminta maaf dengan senyuman yang mengembang “Ayah….Ibu jangan biarkan Aku sendiri lagi.”