Jangan Biarkan Aku Sendiri

Awan menghitam,rintik rintik hujan ikut berhamburan mengiringi langit,angin pun menjadi saksi kebisuan pagi hari, matahari tampak malu-malu menampakkan cahaya keabadiannya, cahaya pengharapan semua umat.
Hari ini aku terbangun dengan malasna, dengan mata yang berkunang kunang setengah menutup, aku memaksakan diri menapaki lantai untuk bersiap ke sekolah.
Hem masih sepi, inilah kebiasaan rumahku di pagi hari,semua sibuk dalam kegiatannya masing-masing, “Bu…” dengan kerasnya aku berteriak, tidak ada jawaban mungkin tidak terdengar.
Sekali lagi Aku berteriak “Ibu…. Aku berangkat sekolah dulu yah.” namun tetap tidak ada jawaban, Aku pun berangkat dengan tergesa-gesa karena waktu semakin berlalu.
Sendiri, itulah setiap hal yang aku rasakan, hening , sepi, itulah pil pahit yang setiap hari aku dapatkan,tidak terasa aku telah tiba di sekolah, di sana Aku memandang sekeliling,betapa bahagianya mereka yang memiliki teman, bercengkrama dengan hangat,tertawa tanpa beban.
Namun apa daya Aku yang selalu ditakdirkan digaris kesendirian,hanya mampu diam dan termenung,Siang telah berlalu,aku telah pulang dari sekolah,rumah masih sepi,detik demi detik berlalu tapi tetap tidak ada perubahan, tetap sepi bahkan lebih seram dari kuburan.
Ceklek,Tampak suara pintu terbuka, Aku mencari sumber suara itu, dan tampaklah Ibu dibalik pintu,Aku berlari dan segera memeluknya dengan berkata “Ibu darimana saja ?Aku kesepian bu.” ucapku
“Ibu pulang bekerja, kenapa kamu kesepian?kamu kan sudah biasa ibu tinggal nak.” ucapnya, aku membalas perkataannya “tapi Bu, Aku juga ingin berlama lama dengan ibu,ada kalanya aku bosan untuk ditinggal dan sendirian.”
“Tapi ibu juga seperti ini membantu ayahmu untuk mencari uang, ini juga untuk masa depanmu,sudah cukup nak, ibu sudah lelah,ibu ingin beristirahat di kamar.”aku hanya mampu melihat punggung ibuku semakin menjauh.
Tidak lama ayah pulang, aku sangat antusias melihatnya, kali ini mereka tampak pulang lebih cepat, aku meneriakinya “Ayah…..” ucapku, tapi beliau tidak membalasnya,bahkan menolehpun seperti enggan, ia malah memasuki ruang kerjanya tanpa memperdulikan aku yang sedang mematung manahan tangis.
ibu…ayah….,andai kalian tahu aku selalu menantikan pelukan kalian,pelukan yang sama saat aku kecil, yang kalian terus peluk dengan erat, mengajakku berbicara dan bermain bersama, andai waktu bisa ku ulangi, aku berharap selalu menjadi makhluk kecil yang tangannya selalu kalian genggam.
Aku tahu kalian menyayangiku dan memprioritaskan masa depanku, tapi bukan berarti kalian mengacuhkanku seperti hal yang tidak penting, tapi yang aku harapkan kalian bisa menjadi saksi perkembangan usiaku, Ayahhh…. Ibu…., dengarlah tumbuh kembangku semkin cepat, tidak lama lagi aku akan menjadi sosok yang lebih dewasa.
Hari hariku bersama kalian akan semakin berkurang, akan ada kalanya, seseorang mengajakku untuk hidup bersama disitulah kita akan berpisah jarak dan jarang bertatap muka secara langsung.
Yah minimalnya, kalian meluangkan waktu untuk mengajakku berbicara dan bercerita,jangan simpan aku dalam ruang hampa ini, di situasi yang tidak pernah untuk dibayangkan, malam harinya, kami berkumpul di ruang keluarga, aku harap kami bisa bercerita dan menghadirkan suasana yang hangat.
seketika anganku ambruk, senyumku memudar ketika Aku lihat orang tuaku masih berkutik dengan laptop dihadapan mereka, tanpa menghiraukan Aku yang sedari tadi mennggunya mengajakku berbicara dan membangun suasana.
Aku ragu untuk mengajak mereka berbicara,karena Aku lihat cukup banyak map yang sedang mereka kerjakan,dentinga jam kian menyeruak di ruangan bagai melodi yang mengiringi,sekian lama Aku nantikan, tapi tetap tidak ada yang bersuara,akhirnya Aku memberanikan diri untuk memulai suara.
Dengan ragu Aku bertanya pada mereka “Ayah….Ibu……..apakah Aku anak yang kalian harapkan?”
Mereka pun menoleh kepadaku “Apa-apaan Kamu berkata seperti itu?Kamu adalah anak yang Ibu dan Ayah harapkan,Ibu dan Ayah bekerja demi kamu! ucap ibu dengan penuh penekanan.
“Tapi Ibu dan Ayah bersikap seolah-olah Aku tidak pernah diharapkan,Aku selalu diabaikan,dan kalian lebih memprioritaskan pekerjaann kalian daripada melihat masa-masa emasku.”ucapku terisak.
“Hey,Kamu itu anak yang tidak diuntung hah,Kamu mau jadi anak durhaka?Kamu di sekolahkan bukannya jadi orang pintar,malah jadi orang yang melawan orang tua.”
“Dengarkan Aku Yah,bukannya Aku bermaksud durhaka tapi Aku hanya ingin ada waktu luang untuk setiap ivent sekolah, kalian menyaksikanku,Aku menjadi juara kelas itu agar kalian bangga kepada Ku.”ucapku
PLAKK, seketika tamparan itu mendarat di pipi mulusku,”sekali lagi Kamu berkata, saya akan bunuh Kamu sekarang juga.” ucap Ayahku dengan penuh amarah.
Ku tatap ibuku dengan mata sendu penuh dengan air mata, tapi ia hanya menyaksikan tanpa berkutik untuk melindungiku, Ayahku berkata lagi “Kau lihat ,apa ini yang disebut Anak kita,jika Aku tahu Dia akan menjadi Anak yang seperti ini,seharusnya Dia digugurkan sebelum terlahir seperti ini.”
Hatiku seperti tertusuk tusuk oleh pisau belati,tidak menyangka Ayahku akan berkata seperti itu,”Apakah Aku sangat buruk? sampai Ayahku menyesali kehadiranku.” tanyaku dalam benak.
Tiba-tiba Ayahku menarik pergelangan tanganku, Dia menyiramku dengan air hingga badanku basah kuyup,Aku pun ia kurung di WC. Aku berteriak-teriak memanggil Ibu,namun terdengar oleh ku,Ayah memerintahkan Ibu untuk tidak membukakan pintu sebagai hukuman.
Sekali lagi Aku berteriak “Ibu Aku kedinginan,”namun sayang usahaku tetap sia-sia.Air mataku terus meluncur tanpa bisa ditahan,setega dan sekejam inikah,mereka menghukumku tanpa makanan dan minuman untukku.
Sampai akhirnya tangisku terhenti,Aku merasa kepalaku pening dan semua kian gelap tidak terlihat,hingga pagi pun tiba, Ibu meneriakkiku dari luar, Aku mendengarnya tapi mataku enggan untuk terbuka,sebenarnya Aku ingin berkata “ibu Aku kedinginan,Aku ingin kehangatan dari pelukanmu bu.”
Namun semua terasa sulit untuk diucapkan,Ibuku semakin khawatir dan memanggil Ayah,Ibu menyuruh Ayah untuk mengeluarkanku dari WC itu, saat pintu terbuka Ayah dan Ibu kaget melihatku dalam keadaan terlelap dengan muka pucat pasi.
Kepalaku semakin sakit,tapi Aku mampu merasakan Ibu yang sedang menangis memanggil-manggil namaku.Ingin sekali Aku memeluknya,menghapus air matanya dan berkata “Aku baik baik saja bu.”namun susah sekali pergi ke alam kesadaranku.
sakit itu semakin menjadi jadi,Tuhan jika umurku sampai di sini,biarkan Aku memandang wajah Ibu dan Ayahku.Entah dorongan darimana,Aku pun tersadar dan menatap kedua orang tuaku,terlihat kepanikan dari air mata yang mengalir deras.
Raut wajah mereka senang saat melihatku sadar,mereka meminta maaf dan berjanji selalu di sisiku,begitupun juga Aku yang meminta maaf dengan senyuman yang mengembang “Ayah….Ibu jangan biarkan Aku sendiri lagi.”
Iklan

14 thoughts on “Jangan Biarkan Aku Sendiri

  1. Hai Widiam,

    Terima kasih kunjungannya di rumah maya kami, semangat menulis yaa. Bahagia bisa bersapa di dunia maya, mari berkarya… 🙂 yang menghasilkan dan bermanfaat bagi sekitar.
    “Kita dekat meski belum pernah berjumpa. Salam kenal, Sahabatku.”

    Best Regards,
    -My Surya-

    Disukai oleh 1 orang

    1. salam kenal kembali, saya juga senang bisa menyapa anda meskipun dalam media sosial, mari berkarya, terima kasih anda telah membuat saya termotifasi atas bahasa dalam karya karya anda, sekali lagi saya ucapkan terimakasih atas kunjungannya -Widia Mulyani-

      Suka

      1. Haii Widia, nama panggilannya siapa? Kalau saya bisa juga disapa Yani. Yani senang kita berteman… 😀
        Oiyha,ujung nama kita sama yaa, btw dari mana domisilinya?

        Yani di Pekanbaru sekarang, Hehee *justinfo 😆

        Disukai oleh 1 orang

  2. Iya Widia, jauh sekaliiii iniii.
    Btw, Yn pernah tinggal di Bandung beberapa tahun, di tahun-tahun yang lalu. Merantau ceritanya. 😀 Namun belum pernah ke Ciamis (padahal di sana ada teman juga asli Ciamis, namanya Mia), tapi pernahnya ke Tasikmalaya… menghadiri acara nikahan teman sekostan waktu itu. Mau mampir di Ciamis ga jadi, ehiya, Ciamis sama Tasik deketan bukan yaa??

    Nah, sekarang di Pekanbaru nya baru beberapa bulan Widia, mmmmerantau lagi. Kalo usia Yn sudah lumayan lah, baru 3+0tahun. #Heheejadiberkisah ^^

    Disukai oleh 1 orang

    1. wah ternyata merantau yah, emm temennya tinggal di Ciamis mana? Ciamis kan luas juga, iyah Ciamis memang dekat dengan tasik, padahal dari tasik ke rumah saya cuman 10 km lagi loh, berarti sudah menikah yah? sudah punya anak belum?

      Disukai oleh 1 orang

      1. kak yani boleh tidak saya minta tolong? saya cuman ingin kaka membacanya dan memberikan komentar tentang cerpen Dua Asa, agar saya mampu memperbaiki kekurangan saya, tapi kalau tidak mau juga tidak apa-apa kok.

        Disukai oleh 1 orang

      1. Ehehee.. 😉 Tagline blog yang ini teteh, cantikk khann…
        “Cinta akan indah jika berpondasikan dengan kasih sang pencipta. Karena sesungguhnya Cinta berasal dari-Nya Dan cinta yang paling utama adalah cinta kepada Yang Kuasa.”

        Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s