Biarkanlah Kau Jadi Anganku Yang Tak Terbalas

Part : 2 End

“Seilaaaaaaaaa….”teriakku,nafasku terengah-engah seperti sedang di kejar orang lain,ku lihat diriku,memakai boxer merah dan kaos putih,ku lirik sekitar, kamarku? Apa,jadi tadi cuman mimpi? Tapi kenapa seperti nyata? Apa jangan-jangan seila benar sudah pergi.

Dengan seribu langkah Aku turun dari kamar sambil membawa kunci motor,sekarang yang ku pikirkan adalah seila,sampai Aku tidak sadar atas diriku yang belum tersentuh air sama sekali.

Tidak butuh waktu lama ,Aku telah tiba di Rumahnya, Aku segera membuka pintunya dan mencari sosok wanita yang ku cari,Aku tidak perduli orang lain menyebutku lancang atau apa, yang Aku pikir dia yang ku Cinta masih hadir dalam sosoknya yang selama ini ku kenal.

Dari kejauhan Aku dapat melihatnya,Ku dekap dia”Sei..maaf-in gua yah,ehh ralat maksudnya Maafin Aku yah,kalo selama ini Aku punya banyak salah.”ucapku tulus

Ku lihat Dia ,tapi hanya diam tidak memberikan respon sedikitpun.

Di sisi lain

“Ren? Kenapa Dia di sini? Mendekap ku? Ini bukan mimpikan,jika ini hanya mimpi Aku mohon jangan bangunkan,biarkan Aku seperti ini dalam posisi ini untuk mengecap manisnya cinta,Awws..kenapa sakit ini mendera kembali,Aduhh ada Ren lagi,Heemm”ucapku dalam hati.

“Sei…dengarkan Aku.” Dia berlutut,memeluk kakiku sambil mendongak memberikan raut wajah kasihan untuk ku iba.

“Aduhhh..rasa sakitnya semakin menjadi jadi, Aku tidak kuat.” Ucapku dalam benak.

Dutttttttt…. Tanpa aba-aba bom itu meledak tepat di muka Ren,perlahan-lahan rangkulannya melonggar dan lepas, sementara itu Aku berlari memasuki suatu ruangan ,yang entah sudah berapa kali ku masuki.

“Huft lega…”ucapku riang,”Ren? Ouh tidak!” perlahan –lahan kubuka pintu toilet dengan hati-hati, ku lihat ruang tengah,tidak ada siapapun,”mungkin Dia sudah pergi.” Ucapku tenang

Tapi tiba-tiba muncul suara dari belakang”Bagaimana sudah tuntas?Apakah meteornya sudah berjatuhan?” ucapnya dengan diiringi tawa.

“Ini minum,Aku tahu kamu sedang sakit perut tercium dari Bom-mu yang maha dahsyat itu.”ucapnya tawanya pun ikut meledak.

Mendengar hal itu Aku tertunduk malu,”maaf” ucapku.”Ia tidak apa-apa,tenang saja Aku sudah terbiasa menghirup aroma gas metana,hidungku sudah faham dan kebal bau-bau tersebut.”ucapnya sambil tersenyum.

“Sini berbaringlah!” ucapnya sambil menepuk-nepuk pahanya,Aku hanya mematuhinya dan menempatkan kepalaku di pahanya,Ku pandang ciptaan Tuhan yang sempurna itu,terlihat jelas dia memberikan minyak kayu putih ke perutku dengan telaten.

Namun tiba-tiba ponselku berdering,saat Aku ingin terbangun,Bibirku tanpa sengaja mendarat di pipinya,cukup lama kami berpandangan, fokus pada isi hati masing masing dan sibuk dalam detakan nadi yang seakan ingin pecah berdetak tak beraturan.

Aku tersadar dan menjauh,Ren tersenyum penuh arti,sementara pipiku memanas,memberikan tanda merah seperti kepiting rebus, saat ku buka ternyata bukan pesan atau telepon melainkan sebuah alarm pengingat.

Begitulah kejadian satu tahun silam yang akhirnya merekatkan kami berdua,ku sandarkan pungguku ke tepian ranjang itu, ku lirik samping kanan ranjangku,ada makhluk tampan yang tengah terlelap tidur dalam alam bawah sadarnya.

Seulas senyum terukir manis di bibirku,tidak pernah terbayang apa yang ku harapkan kini ada dalam genggaman, mencoba bersama dalam sebuah ikatan suci illahi,dan kini akan ada anggota baru keluarga kecil kami, si malaikat kecil yang meringkuk manis di rahimku.

Tapi meski begitu,Ren tidak terlihat seperti sosok pria dewasa yang akan mendapat gelar seorang Ayah,malah,Dia terlihat seperti Laki-laki remaja yang tengah duduk di bangku kuliah.

Bahkan dalam tidurnya, ia mencerminkan seperti anak kecil,disetiap tidurnya Dia akan miring ke kiri menghadapku,turun ke bawah dan memeluk pahaku,ingat, bukan diriku,kami tidak tampak seperti sepasang suami istri, malah seperti Ibu dengan Anaknya,huft memang naas.

Yang lebih menyebalkan saat di Rumah sakit ketika kami chek up untuk mengetahui perkembangan si baby,saat sedang menunggu giliran ada seorang wanita yang duduk disebelah kiri Ren.

“kak..kesininya sama mamahnya kaka yah,tante kenalin nama Aku Tasya.”ucapnya sambil tersenyum.”Apa mamahnya Ren?” ucapku dalam hati,ingin sekali ku sergahl perkataannya,tapi Dia terus berbicara.

“kak.. Tasya boleh main ke rumahnya kaka yah, tante boleh yah.”ucapnya memelas,Aku hanya memutarkan bola mataku,tanda tidak ikhlas.

“Tasya, maaf sebelumnya,yang di sebelah Aku itu bukan mamahku,tapi Istriku, sebentar lagi Aku akan menjadi seorang Ayah.” Ucap Ren

Aku yang mendengar itu tersenyum penuh kemenangan,”Apa? Jadi ini istri Kaka kok tubuhnya kaya Babon yah,ehh maaf maksudnya kaya ibu-ibu.” Ucapnya polos

Mendengar hal itu emosiku ingin rasanya meledak,dengan wajah cemberut “sayang kita pulang!” ucapku sambil menarik tangannya.

“Tapi chek upnya gimana?”ucap Ren. “Kapan-kapan.”ucapku,sesampainya di Rumah ku hentak hentakkan kakiku di lantai.

“Sayang masih marah yah,Aku minta maaf.” Ucapnya lirih,”berani-beraninya tuh cewek ganjen bilang Aku kaya babon, emang sih sedikit melar,tapi enggak kaya babon juga.”ucapku pada Ren.”Emangnya Aku kaya babon enggakkan?”tanyaku lagi.

“Iyah kamu kaya babon.”ucapnya,”iihhhh..Ren kamu jahat.”ucapku sembari ingin pergi,tapi langkahku di cegah olehnya,”dengerin dulu dong kelanjutannya.”ucapnya.

“Meski pun Kamu kaya babon atau apa pun,Aku bakal tetep cinta,kamu kayak gini juga kan gara-gara Aku,kamu inget enggak semboyan Aku,Kamu itu anget-anget ngangenin,justru tubuh kamu yang kaya gini anget dipeluk dan ngangenin pengen dipeluk terus.” Ucap Ren panjang lebar.

Aku merasa senang mendengarnya,namun segera ku tutupi, “sudahlah,mulai besok Aku mau diet.”ucapku “ihh jangan, nanti kenapa napa sama ade gimana?”ucapnya khawatir.

“Aku kasih tahu yah,Aku itu diibaratkan kanvas kosong sedangkan kamu pewarnanya yang turut mewarnai hidup Aku,jadi mau kaya apapun, kamu itu tetap cantik,karena kamu mewarnainya dan membuat hidup Aku lebih indah.”pujinya.

“Makasih ren.”ucapku memeluknya,sembari mengelus punggungku Ren menjawab”iya,sama-sama,lain kali jangan kaya gini lagi,kan udah mau punya anak,masa kaya gitu,pokonya harus lebih dewasa lagi yah.”ucapnya dan mencium puncak kepalaku.

Pagi menjelang,dengan ambisi pancaran sinarnya memancar menelusup ke dalam jendela.”Ren bangun.”ucapku yang hanya dibalas deheman darinya,”sayang bangun yu udah pagi.”ucapku lagi sambil mengguncang guncang tubuhnya namun tidak ada balasan.

Karena tidak ada balasan,ku gosokkan kepalaku di dada bidangnya dan Cupss,ku kecup tepat di bibirnya,melumatnya,mengakses setiap giginya dan berhasil,akhirnya Ren terbangun,Ku lepaskan tautan bibirku dengan menyeringai.

“Ahh… sayang,kamu nakal sudah menggodaku,ayo lanjutkan.”ucapnya, “huhh enak saja sana mandi duluan nanti Aku.”ucapku “enggak ada mandi kalo enggak ada morning kissnya.”ucapnya sambil memonyong-monyongkan bibirnya.

Cupss..”udah,sana mandi!” ucapku, “sayang kecepetan kamu mah,iya Aku mandi,tapi lebih bagus kalo kita mandi bareng.”ucap Ren jail sambil menggendongku.

“Ren..turunin Aku,nanti Aku mandi kalo kamu sudah.” ”Tidak ada penolakan, kan biar cepet, itung-itung menghemat waktu.”ucapnya tertawa.

Tuhkan Kamu itu modus,katanya menghemat waktu,lihat jam,tadi kita di toilet sampai satu jam tahu.”ucapku jengkel, “Ya lagian kamu sih,enggak ngasih Aku jatah,Aku juga cape puasa terus.”ucapnya.

“Kasian tahu adek, masa kamu enggak kasian sama Dia.”ucapku sambil mengelus-ngelus perutku yang datar.

“Adek enggak bakalan kenapa-kenapa,justru Dia seneng kalau di jengukin Ayahnya.”ucapnya Pede,”pokonya nanti malam Aku tagih,dan Aku pastikan Kamu bakal Aku ajak ke Surga yang ke tujuh.”timpalnya kembali.

“Ihhh..dasar mesum.”namun tidak ku pungkiri Aku juga merindukan belaian dan setiap inci tubuhnya, “Cieee..yang malu malu rindu sama Aku.”ucapnya, tidak terasa tawa kami pun pecah, beginilah kebahagiaan di pagi hari,karena bahagia itu sederhana,sesederhana untuk saling berbagi entah itu manis ataupun pahit.

Aku memandangmu tanpa perlu menatap,Aku mendengarmu tanpa perlu alat,Aku menemuimu tanpa perlu hadir,Aku mencintaimu tanpa perlu apa-apa karena kini ku miliki segalanya dan bersama Kamu, Aku tidak pernah takut lagi untuk menjadi seorang yang pemimpi.

Biarkanlah Kau Jadi Anganku Yang Tak Terbalas

Part : 1

Malam hari yang indah bertabur sang permata Tuhan di Angkasa bersama sang dewi malam,semilir angin menelusup masuk ke dalam diri,ada rasa dingin yang mulai tersalurkan menerobos diam dalam jiwa.

Jam berdenting,menandakan malam kian larut,para jiwa-jiwa tinggal dalam alamnya sendiri,tetapi Aku masih setia dalam penantianku.

Sunyi seperti selimutku,hampa bagaikan alas yang setia bersamaku,dalam diam Aku memandang sebuah foto kecil,seorang Laki-laki tampan yang selalu bersemayam dalam Hati,Hatiku teriris jika mengingat kejadian silam.

Tanpa terasa Air mata telah bebas meluncur membasahi pipiku,dia orang yang ku cintai membenci diriku,bahkan Aku seperti makhluk menjijikan baginya.

Flashback on

“Ren, Aku membuatkan Cokelat untukmu, Kamu coba yah!”pintaku.

“Alah cokelat murahan seperti ini, Kamu kasih ke Aku? Tidak usah nanti Aku sakit perut!” ucap Ren ketus.

“Tapi Ren, Aku membuatnya dengan susah payah.” Ucapku

“Gua gak perduli, dan Cokelat ini cuman cocok di tempat ini!” ucapnya sambil membuang cokelat itu kedalam tong sampah.

Flashback off

Lelah mendera,tidak terasa mataku menutup, esok pagi yang cerah menyambut jiwa yang bersemangat.

Sepanjang waktuku di Sekolah, Aku tidak melihat Ren, sampai akhirnya pulangpun Dia tidak ku temukan.

Saat sampai di Rumah, Handponeku berdering,saat ku buka ternyata ada SMS.

From: Ren

“ Sei,nanti jam 2 lo masak makanan buat gua, dan sekalian bawa ke Rumah gua!”

Seketika Aku tersenyum memandang pesan itu, Aku segera melangkah menuju Dapur,tidak perlu waktu yang lama masakan telah jadi, Aku masukkan kedalam wadah, setelah semuanya cukup Aku melangkah tergesa gesa membawa ransel kesayanganku.

Langkah ku semakin cepat, ketika rintik-rintik hujan kian membasahi Bumi, “Tok…Tok…Assalammu’alaikum.” Ucapku.

Ceklek… pintu terbuka dan nampak wanita paruh baya menatapku sambil tersenyum, “Ehhh..Seila, ada apa kesini? Kok tumben.” Ucap ibunya Ren.

“Emmm…. Itu bu, Ren memintaku untuk memasak, katanya Ibu tidak ada.” Ucapku. “Ren bilang seperti itu? Padahal Ibu baru saja selesai memasak dan Ren sedang tidak ada di Rumah.” Ucap Ibu Ren.

“Ren kemana bu? Ini kan hujan, nanti Dia sakit!”ucapku khawatir, “katanya ke Toko Buku dekat taman Komplek.”ucap Ibu Ren.

Aku segera berlari keluar tanpa menghiraukan tatapan bingung Ibu Ren, dikejauhan Aku dapat melihat Ren yang tengah tertawa dengan seorang wanita.

Tawa lepas yang tidak pernah Aku rasakan dari Ren, Hatiku sakit tapi Aku tahan, Dia berbalik dan menatapku yang tengah berdiri sembari berpayung.

“Seila…………… sini!” ucapnya memerintah, Aku berjalan mendekati mereka, “Kami akan pulang, jadi kamu Seila, tolong payungi kami berdua!” ucap Ren sambil memandang Gisella.

“Aku hanya mengangguk, sebagai tanda setuju, saat diperjalanan pulang, Aku hanya bisa bersabar dan berusaha agar air mataku tidak menetes,jarak menuju Rumah Ren masih lumayan jauh, tapi badanku sudah menggigil, karena sepanjang perjalan badanku tertimpa air hujan, bajuku basah kuyup, akibat tubuhku yang tidak terpayungi.

Meskipun sakit Aku akan terus bertahan demi seseorang yang Aku cintai,bahagia dan terlindungi,sampai hembusan nafas terakhirku,Aku bersumpah akan menjadi sesuatu yang dia pinta.

Saat tiba di Rumahnya, Ren langsung melengos pergi, melihat hal itu Aku segera menyimpan masakanku di atas meja dengan harapan semoga ia memakannya, Aku pun segera melengos pergi.

Setibanya di Rumah, Aku terduduk, merenung dan menangis, Aku memang bodoh ,mempertahankan dan mencintai orang lain  yang tidak pernah bisa ku miliki.

Menggapai tapi tak pernah di dapat,Ren lihatlah kebelakang ada Aku yang tulus mencintaimu,mengapa tidak pernah kau toleh dan kau rangkul?

Aku selalu bersamamu,di sisimu dalam situasi apapun, tapi kenapa kau tidak mencoba untuk membalas dan menghargai pengorbananku, jika kau pikir itu bisa membuatku membencimu itu salah, karena rasa cintaku yang besar mengalahkan dan menutup mata, hati, dan otakku untuk membencimu.

Keesokan harinya, Aku terbangun seperti biasa menoleh pada foto kecil, memandang sosok laki-laki yang setiap detiknya Aku rindukan, sembari tersenyum memandangnya Aku bangkit untuk memulai kehidupan.

Setelah Rumah beres, dan Aku sudah rapih nan wangi, Aku duduk sembari melihat jendela di luar, terlihat jelas sepasang kekasih yang bergandengan tangan berjalan beriringan.

Hatiku iri menyaksikan pemandangan itu, menyesakkan,jika membayangkan penantianku tidak pernah terbalas.

Mungkin dalam matanya, Aku hanyalah bahan lelucon dirinya,padahal hatiku tergores saat dia mengolok-olokku,tapi tawanya yang membuatku ikhlas menjadi leluconnya.

Sampai kapan ini akan berakhir? Lama-lama Aku jengah atas sifatnya, tapi Aku beruntung, Dia mengijinkanku di sisinya, meskipun bukan sebagai kekasih tapi KACUNG.

Aku tidak pernah perduli,asalkan didekatnya dan Dia didekatku , Aku rela melakukan segala cara,Ren harus mengetahui isi hatiku,Aku segera berlari keluar menuju Rumah Ren, saat dipersimpangan jalan Aku menemui Ren yang tengah mengendarai motornya,Aku segera berdiri di tengah jalan, untuk memberhentikan Ren.

“Heh…lo bodoh atau apa sih,kalo lo ketabrak berabe urusannya!” ucap Ren emosi,”ada yang perlu Aku omongin Ren.” Ucapku bergetar, “tapi gak kaya gini caranya.” Ucap Ren.

Tiddd..tidd  tepat suara klakson di sebelah kanan dan Brukkk,Ren terjatuh tertimpa motornya seketika dia tidak sadarkan diri,dengan sedikit kekuatan dan darah yang terus mengalir di kepalaku,Aku menggucang-guncang tubuh Ren,namun naas tubuhku ikut ambruk dan semua buram tidak terlihat.

Aku mengerjap-ngerjap mataku,Aku menoleh Ren terlelap sambil dibelit kabel-kabel,hatiku terenyuh,sakit saat melihatnya menderita.

Sesaat setelah itu ada Dokter yang menghampiri,Aku dengan sigap “Dokter tolong Ren,sembuhkan Dia jikalau perlu Jiwaku yang jadi taruhannya.”

“baiklah Anda ikut saja ke ruang operasi sekarang!”ucap Dokter,”Tapi Dokter saya ingin menitipkan sepucuk surat ini untuk Ren,mungkin tidak berharga,tapi ini pesan saya untuk dia,jadi tolong Dokter berikan pesan ini untuk dia.”ucapku lirih,

Entah berapa lama Aku tertidur, mataku yang terpejam mulai terbuka dengan disambut paparan sinar matahari,ku pandang sekeliling cat putih ini.

Hingga mataku tertuju pada satu titik,di sana berdiri seorang Dokter dengan jas putih kebanggannya,Dia tersenyum sambil mendekat “Apa sudah baikan Ren?” ucap Dokter itu ramah.

Aku hanya mengangguk pertanda benar,”oh ….iya ini ada surat titipan dari temanmu.” Ucapnya menyodorkan

Seketika Aku terlonjat sahabat? Oh…Seila,”Dok sekarang Dia dimana?” ucapku sembari menahan sakit.

“Anda dapat mengetahuinya dalam surat itu.” Ucapnya berlalu. Entah dorongan darimana Aku pun segera membuka sepucuk surat itu.

From :Seila

To : Ren

Dear Ren

Mungkin saat kau terbangun,Kamu tidak melihatku di sana,bukan maksud apa-apa,tapi Aku tahu kehadiranku tidak pernah kau sambut dengan baik.

Ren, maaf jika selama ini Aku selalu mengusik hidupmu,sekarang Aku melepasmu,untuk mencari kebahagiaan yang selama ini Aku kekang,mencari seseorang yang benar-benar Kamu Cintai,Dia beruntung mendapatkan Cintamu Ren,sedangkan Aku yang mencintaimu bertahun-tahun hanya mampu bercerita dalam diam,tanpa mampu mengungkapkannya,karena Aku tahu Cintamu tidak pernah ada untukku,Kamu Ren, hanya sekelebat anganku yang tidak pernah mampu tergapai untuk sanggup ku miliki.

Ren jangan pernah cari Aku lagi,karena sampai kapanpun kamu tidak akan pernah menemukanku,walaupun begitu Aku bahagia,Kita bersama meskipun Aku akan menjadi Detak jantungmu,yang menyertai disetiap waktunya,dan sumsum tulang belakangku sebagai penyangga hidupmu.

Aku tidak pernah menyesal memberikan itu semua demi orang yang ku cinta dan itu Kamu Ren,jadi tolong terima pemberianku yang terakhir ini,sebagai kenangan dan hadiah ulang tahunmu dariku.

“Happy Birthday Ren!” sehat selalu yah bersama bagian bagian kecil diriku,jika kau rindu padaku tanyakanlah pada Hatimu,karena di sana ada Aku yang bersemayam dalam bentuk yang berbeda bahkan hanya sebagai sosok kenangan.

Terima kasih untuk semuanya,terima kasih untuk kenangannya Ren, jadikan ini sebagai simbol kenang-kenangan dari diriku untuk terakhir kalinya, Ren I Love You.

Test..tesst tidak terasa air mata jatuh membasahi pipiku,dia orang yang mencintaiku menaruhkan hidupnya untukku,yang tidak pernah sekalipun Aku hargai usahanya tapi Dia membalasku dengan harapan Hidupnya untukku.

Yang orang lain tidak mau melakukannya, dan Dia Orang yang akhir-akhir ini mengisi pikiranku pergi meninggalkanku yang sementara Cinta yang kini merekah untuknya dalam angan yang sama tanpa mampu terbalaskan dan terpisah dalam ruang waktu yang berbeda.

“Seiiillaa…….” Teriakku,namun teriak pun tidak akan pernah mampu mengembalikan Dia yang telah terlelap tidur dalam Dunia Keabadian.