Kemilau Rembulan

Ku pandang langit hitam,bersinarlah sang rembulan dengan sosok beraninya, keyakinan terpancar dari sinarnya tapi tidak menutupi anggun sosoknya.

Jiwa lelah ini memujanya, memuja pancarannya yang tiada duanya, saat yang lain berkelip tetap dialah pemenangnya.

Sepertiga malam ini ku sempatkan keningku bersujud,kepada sang kekasih semua umat, ku serahkan takdir yang tak menentu ini padanya.

Saat hening malam,jiwa ini teriris pilu mengingat ni’mat yang mengalir tiada henti, sementara raga lemah ini jarang mengingat kebesarannya.

Malu rasa ini menghadapnya, namun ragaku kembali ke tempat sandarannya, saat hampa ia hadirkan gelak tawa, saat sibuk ia siapkan waktu istirahat,saat sakit ia siapkan segala obat.

Namun mengapa sulit ucapkan satu kata syukur dibanding seribu ni’matnya?saat gelap, ia siapkan cahaya menderang saat mentari menyapa,namun mengapa satu sujudan tak mampu laksanakan? Walaupun itu bagian kewajiban.

Sementara sang mentari di tengah perputarannya ia sempatkan dzikir bentuk pemujaan pada sang illahi, pujian bagi Tuhan sekalian Alam.

Tuhan… ampunilah jiwa ini yang lemah,jiwa yang rapuh saat hantaman penggoda syaiton menerpa, jiwa yang terpuruk meratapi dosa-dosa yang begitu menggunung.

Tapi engkau,dengan kasih sayang,sentuhan lembutmu itu berikan segala ni’mat pada ciptaanmu,padahal kau tahu ia tidak pernah mengingatmu.

Saat mereka tidak ingat, kau guncangkan satu tarikan, bumi pun bergoyang dan mereka baru berkata “Ya Tuhan ampunilah kami! Lindungi kami dari marabahaya.

Sementara mereka tidak mampu lindungi diri dari tipuan indahnya Dunia, keindahan Dunia ini silaukan mata mereka dari petunjukmu, halangi ketetapan yang belokkan tujuan mereka.

Angin segar yang terpa mereka,untuk lupakan akhir setiap makhluk yang hanya ingatkan mereka dengan kelimpahan benda yang sama sekali tak berujung untuk milikinya.

Hujan genangi Bumi pagi ini, kunci mereka dalam sangkarnya yang kau takuti mereka dengan gemuruh petir yang menyambar-nyambar.

Padahal saat itu ia buktikan keberadaannya diantara kelupaanmu terhadapnya, agar kau sadar bahwa kehidupan ini ada yang mengatur.

Saat panas mendera ia perlihatkan balasan bagi orang-orang yang melupakannya, bahwa panas ini tak seberapa dengan panasnya di hari kelak.

Lihatlah sang pencipta dengan Ar-Rahman dan Ar-rahimnya setia menunggu umatnya kembali ke jalan kebenaran tanpa henti mengawasi,mengikuti umatnya dalam setiap gerak.

Memberi ilmu kepada setiap orang yang engkau kehendaki tapi mirisnya mereka gunakan berlomba dalam kesesatan.

Padahal betapa indahnya mengasihi dan menyayangi ke tiap jalan benar, betapa damai dirasa,tapi mengapa kaki sulit melangkah?

Sulit tinggalkan kegelapan sementara seberkas cahaya telah menanti, menjemput dan menggiring kepada ketentraman, namun asyiknya itu hingga cahaya terlewatkan, pergi sampai tangan tak mampu lagi lampaui untuk ambil kesempatan dulu sedia kala.

Sayang sekali, kesempatan telah terlewatkan sehingga kamu hanya tinggal mengecap pahit yang kini membekas teritinggal di sana.

Ingat pntu taubatnya tidak akan pernah tertutup untuk mereka yang mau memperbaiki, mau belajar dari awal, sabarlah lintasannya dan bagi mereka yang teguh menjalaninya ampunan Allah senantiasa bersamanya.

Tataplah langit biru itu, betapa mengangumkannya bukan? Begitupun orang-orang yang memperbaiki kesalahannya dan kini senantiasa mengingat sang illahi, mereka jugalah yang patut dikagumi.

Kamu harus ingat, setelah hujan, badai dan petir, pastilah terbit matahari beserta seulas pelangi yang mengiring.

Itulah pertanda bagi setiap kegigihan serta usaha mereka pasti kan lihat juga hasilnya, setiap usaha tidak ada yang tidak mungkin.

Meskipun mungkin pelangi itu hanya sesaat, tapi setidaknya ada keyakinan dalam hati bahwa di Dunia ini tidak ada yang tidak mungkin, karena sang pemilik ini pasti tahu mana umatnya yang berusaha dan mana umatnya yang hanya diam di tempat.

Jangan pernah takut untuk terjadi perubahan, mungkin kan terjadi perubahan yang besar dan akan kehilangan suatu hal, tapi takutklah dengan perubahan keyakinan pada sang Illahi, mantapkan pada diri ini bahwa biarlah takdir penentunya karena diri ini masih ada yang memegang keadilan dengan seadil adilnya.

Dan engkau jangan berpuas diri jikalau memiliki ilmu, karena setinggi apapun ilmu agamamu kamu akan tetap sulit melangkah jika hatimu penuh kerapuhan, maka ikhlaskan apapun itu, serahkan pada sang Illahi supaya tunjukkan jalannya dan lindungi jiwa ini dengan rahmatnya.

Ia seperti kemilau rembulan yang saat gelap pun akan pancarkan sinarnya di tengah keheningan yang mungkin ungkap rahasia tabir Illahi.

 

 

Iklan

Dua Asa

Setiap detakkan tidak terasa mengiring jiwa, angin bersiur membawa dingin menerpa diri,wajah cantik bersama seorang pria berjalan bersama mengikat janji,bagai alunan melodi yang mengalun indah,masuk ke relung jiwa semarakkan hari ini.

Kau tahu, setiap dentingan waktu pikiran ini enggan teralihkan, entah esok atau lusa, jiwa tidak mau meninggalkan sosok Dia dalam benak.

Entah sampai kapan kau mengisi jiwaku? Sementara dirimu telah tinggalkan Aku sendirian.

Seberat apapun itu,berapa kali ku coba, mengapa bayangmu yang selalu mengisi relungku?

Setiap kali detakkan itu, yang ku sebut adalah  namamu,jika dulu kita ikatkan janji saling bersama,lantas kenapa harus terhenti? Sementara rasa masih ada.

Mengapa harus berjalan sendirian? Sementara angan berjalan bergandengan ?

Mengapa harus melupakan? Sementara Cinta selalu merekah dalam ruang hati.

Sementara semburat merah dalam pipiku selalu ku ingat saat kita bertemu dan kau sapaku.

Sebesar itukah Cintamu yang kau tanamkan padaku dan seluas itukah harapanku saat masih bisa mengingat tiap inci tubuhmu disaat kebersamaan itu masih terjalin.

Bagaimana bisa Aku melupakanmu? Sementara sampai detik ini angin selalu membawa aroma tubuhmu.

Memang jauh jarak pemisah namun kenapa terasa lebih dekat saat hati merasakannya.

Saat dua jiwa itu bertemu,hati ini ingin bersama namun bibirku kelu enggan rasanya untuk berkata hanya tatapan yang mampu isyaratkan.

Dulu mata teduh itu milikku yang saatku tatap tersirat rasa kerinduan,entahlah,sekarang mata itu bukanlah lagi teduh yang saat ditatap kosong tanpa rasa.

Bagaimana bisa? Sementara rindu ini selalu membuncah,semudah itukah melupakan?

Lupakah kau tentang ukiran Cinta yang pernah kita torehkan bersama?

Dua asa yang pernah hampir kita raih namun harus padam ditelan masa,bukan salahmu atau salahku Cinta ini terhenti, tapi karena masanya telah usai,kebersamaan kita ada masanya sampai perpisahan itu renggut semua keindahan.

Semburat senja telah lukiskan langit baru, sinarnya yang meredup kini warnai hampanya kesendirian,gelap kini warnai separuh jiwa,rindu kikiskan bagian ragaku.

Sumber kekuatanku kini pergi,yang dulunya bahu sandaran, kini hilang yang saat lemah dengan sedia ku genggam tangannya kini tinggal cerita.

Aku tahu waktu tidak akan pernah mampu terulang, seperti gelas pecah tidak akan pernah menjadi gelas kembali hanya kepingan kaca yang harus terbuang.

Begitupun sebuah ikatan,jika telah usai rasanya tidak akan pernah sama seperti dahulu.

Adakah angin yang mampu sampaikan rinduku,terbangkan segala mimpi dan angan yang tercipta.

Kenapa kau terpa Aku seperti ini? Duri selalu menancap dalam hati, tapi benci tidak hidup dalam hati.

Manis itu ingin ku kecap rasanya, namun tidak pernah hadir dikesendirian,sementara anganku setia dalam sosokmu yang hadir dalam tidur panjangku.

Jiwa ini telah lelah dengan ketidak adilan, dimana setiap puteri dalam dongeng mendapatkan pangeran, mengapa Aku hidup dalam suatu ketiadaan?

Rembulan pancarkan sinarnya saat gelap menyapa, Aku tak pernah mampu tuk jadi rembulan yang gagahnya menepis gelap dengan pancaran sinarnya,susah untuk menjadinya sementara kekuatan telah habis dalam masa lalu.

Guratan sedih telah tampak pada wajahku, dalam kegelisahan ini kau sempatkan bayangmu dalam mimpi.

Sampai kapan kisah ini kan terhenti, sementara masanya telah usai, masa lalu itu menghantui tidak sempatkan Aku tuk menghapusnya.

Tabir Cinta, bantulah Aku,bantu jiwaku hentikan semuanya,hentikan penderitaan yang selama ini menghiasi hatiku yang terluka.

Biarkan sejarah yang mencatatnya, bukan akalku tuk mengingatnya, hati tenang,simpan semua rasa dalam 1 masa ruang waktu.

Biarlah berubah,perpisahan memanglah menyakitkan, namun lebih baik daripada dipaksakan dan sekarang mulailah menata rindu yang baru, katakan pada masa lalu “kita adalah cerita yang telah usai.” Dua Asa telah pergi, melangkah sendiri  tuk cari kebahagiaan yang mungkin lebih indah dibanding masa lalu.

Bukannya Aku lemah atau mudah menyerah tapi bijaksana, mengerti kapan harus berhenti.