Kehadiranmu

Satu kata yang tidak pernah dapat ku sampaikan, satu kata yang membuatku tidak mampu lukiskan sosoknya, seribu harapan dan do’a yang Aku yakin dari dirinya.

Suatu kejayaan yang lahir dari tetesan air matanya serta perangaian yang lembut, satu jiwa yang dengan sigapnya merengkuh diri ini ketita terpuruk.

Suatu ikatan yang sejak lama terbina dari buaiannya, yang ku kira bidadari Surga yang Tuhan kirimkan untuk menyangga dan mendidikku sejak kecil.

Ibu satu kata itu yang tidak mampu ku goreskan dengan tinta ini, satu ucap yang membuat lidah kelu serta air mata bercucuran, sosok kehangatan yang ingin ku rengkuh setiap saat.

Nasihatnya selalu terngiang dalam benak, tidak mampu ku pungkiri kata katanya berputar bagai rol film yang tiada hentinya mengisi kekosongan.

Lihat diriku terlahir darinya dengan susah payah, perjuangan panjang telah ia lewati demi Anaknya melihat indah Dunia, yang terkadang darah dagingnya sendiri melupakan.

Tangan lembutnya setiap hari hantarkan Aku pada sosok pagi dengan kantukan yang mungkin masih ada, tangan sigapnya beradu dengan pisau dapur.

Wajahnya yang ayu ia perlihatkan saat Aku berjalan dan pertama kalinya mengucap kata Ibu, tetesan air matanya meluncur, haru bercampur bahagia pertama kalinya mendengar sebutan itu.

Betapa tegarnya diri itu, dibalik kehangatan dan kelembutannya, hatinya yang lapang mampu tampung cacian dan makian anaknya.

Meskipun begitu ia tetap sayangi sepenuh hatinya, yang terkadangan bekerja membantu Ayah, agar apa? Agar anaknya bersekolah dan berkecukupan, itu semua atas dasar kasih sayang yang besar untuk anaknya, terkadang Kita sendiri lupa apakah Ibu sendiri sudah makan atau menahan laparnya untuk kebahagiaan anaknya.

Ia mencintai Kita berlebihan, tapi kita entah mencintainya atau tidak yang Uangnya sengaja disimpan untuk kepentingan kita, tapi kita buang tanpa hiraukan Dia.

Terkadan ingin ku peluk sososk itu tapi Aku bukanlah anak-anak yang dengan mudahnya ungkap kerinduan, ingin bersamanya tapi kesibukkan yang membuatku lupa padanya.

Waktu kian bergulir, rambutnya perlahan lahan memutih, wajahnya yang dulu segar kini pancarkan panjang waktu yang ia tempuh.

Tubuhnya yang kuat kini mulai melemah, tubuhnya kini mengecil, mulut yang senantiasa memberi bimbingan kini yang keluar hanyalah keluhan.

Dulu diri itu yang memapah diri ini dan menjaga diri ini saat belajar berjalan, kini Aku yang memapah dan membimbingnya untuk berjalan.

Aku ingat masa lalu saat tak mampu makan sendiri dan tidak mau makan ia setia menyuapiku yang mungkin harus berlari lari, keadaan ini terbalik, Aku yang sekarang harus sabar dan membujuknya untuk memakan makanan ini, suapan demi suapan lainnya.

Dulu semua hal kita lalui bersama, berbagi bersama dalam naungan atap yang sama, tapi sekarang Aku beranjak dewasa, cepat atau lambat kIta akan terpisah dengan kegiatan sendiri.

Terkadang kesal memdengar ucapan ucapannya yang seakan menghakimi, tidak pernah tersirat suatu saat akan ada diriku disituasinya, waktu waktu yang berharga kini kian bergulir meninggalkan jejak jejak yang seakan tertinggal.

Memang terkadang Kita tidak boleh terlalu berharap pada keadaan yang tidak menentu, berharap semua yang akan kucapai Ibu melihatnya namun kita tak mampu pastikan  waktu itu  semua.

Akulah yang sampai saat ini berharap senyuman manis menghiasi wajahnya, sayangnya Aku tak mampu saksikan itu semua karena keluarga baru kecilku ini perlu diriku.

Dari saat itulah semua berubah dan Aku pun tak mampu berada di dekatnya lagi,  tak mampu bebas bersandar di tubuhnya, sekarang Aku bukanlah tanggung jawabnya tetapi tanggung jawab imamku yang harus ku patuhi.

Waktu kian cepat berlalu, kini detik demi detik peralihanku menjadi seorang Ibu kurasakan, lelah letih yang mendera tubuh, hanya dengan beberapa langkah saja tubuh melemah.

Susah payahnya ku rasa saat ingin berdiripun susah untuk berdiri kembali, rindu ini kembali mengingatkanku pada sosok Ibu disana, kabar tentang kesehatannya sekarang.

Jalan  satu satunya hanya telephone yang mampu mendekatkan kami dan melepas semua rindu, terdengar suara lemahnya menyapaku, menanyakan kabarku dan keadaan diriku sekarang, disaat itu juga ia sangat antusias menceritakan diriku semasa kecil.

Aku tahu, disitu terselip rasa kesedihan yang luar biasa, berjauhan dengan anaknya yang dulu masih kecil kau asuh dan kau timang-timang lalu esok lusanya kau harus siap melepaskannya demi orang yang ia cintai di luar sana.

Membesarkan darah dagingnya penuh kasih sayang tapi tahun berikutnya mereka meninggalkanmu tanpa kasihan dan tidak perduli betapa beratnya melepas sosok kesayangannya, kesayangannya yang sampai kapanpun akan menjadi orang tersayang dan nomor satu di hatinya, hanya dihatinya.

Namun semua tampak sia sia, saat bidadari surga kita Tuhan renggut ke sisinya, disitulah teringat hari hari berharga yang Kita lalui bersamanya, poin poin yang mungkin terlewatkan.

Kini ku sadari saat buah Cintaku lahir, kurasakan sosok kasih sayang yang hebat pada Anaknya, sosok was was dan tidak tenang saat harus menitipkan anak demi sebuah pekerjaan.

Itukah kasih Ibu sepanjang masa? Yang tak terhingga sepanjang masa, yang sekali memberi tak pamrih untuk membalas, Aku menyesal melewatkan detik detik terakhir bersamamu, detik paling berharga kepulanganmu.

Aku tak tahu kapan lagi kita akan bertemu, walau di Akhirat kelak kita dipertemukan, tapi kita kan kembali ke masa dimana kita akan bertemu tanpa saling mengenal,  Aku harap di Akhirat kelak meski pun tak saling mengenal setidaknya Aku melihat senyuman tulusmu dan sapaan hangatmu.

Aku rindu ceritamu bu, cerita diriku kecil, puteri kecilmu dan masa masa menyenangkan bermain bersamamu, tapi kini kau telah tiada Bu, lalu dengan siapa Aku mengadu dan berbagi kisah? Terkadang Aku menahan nafas sendiri, ku sadari, tanpamu, Hidupku nyaris Mati.

-Happy Mothers Day-

Iklan

Di Bawah Naungan Bulan

Suatu suratan takdir ketika diri ini jatuh dalam pelukanmu merasakan cinta yang membuncah begitu hebat, anugerah Tuhan yang paling indah saat Tuhan biarkan Aku di sisimu walau mungkin hanya tuk mampu genggam sebagian tanganmu.

Cinta ini pertahankan langkahku tuk berada di sisimu, sementara mata ini tak henti memuja ciptaan sang kuasa, saat senyum manis di wajahnya, semburat kebahagiaan penuhi rongga dada ini.

Saat rasa rindu yang senantiasa hadir disetiap waktunya rasa cinta yang terukir tertanam indah di hati ini.

Berbulan bulan bahkan bertahun tahun ini tak terasa tangan ini senantiasa pada sosok pria tampan yang selalu setia menggenggam erat tangan ini.

Beri isyarat bahwa dirinya tidak akan pernah lepaskan diri ini sendirian, keeratan ini jeratkan Aku pada peluknya yang tidak akan pernah bosan ku jamah dadanya.

Yang setiap sang surya menyingsing ia lantunkan pesan pesan cinta yang menggelora, lihat betapa indahnya kebersamaan kita.

Bahkan kebersamaan ini kalahkan cerahnya sinar mentari, pandangan teduhmu itu lebih indah daripada sekeliling kota ini.

Kecupanmu pada keningku ini salurkan rasa kasih yang tiada henti mengalir, alirkan sejumlah electron yang mampu beriku tenaga tuk menjalani hari demi hari bersamamu.

Tak pernah lelah jiwa ini jikalau dirimu masih setia bersamaku karena sedalam ini  Aku menyayangimu lebih dari apapun dan tidak akan mampu dijelaskan oleh kata kata.

Karena apa? Karena Cintaku tentang rasa bukan tentang materi yang tidak akan mampu diucap Aku merasakannya bukan berfikir merasa apa.

Lihatlah bulan malam ini betapa indahnya, secerah wajahmu ketika menghadapku, berbicara denganku dengan tutur katamu yang manis luluhkan hatiku seperti es yang mencair begitu saja, entah kenapa kau selalu hadirkan tawa dalam hidupku.

Dan tak hentinya senyumku terbit untuk dirimu semua hanya untukmu, apapun itu ku usahakan dan bagiku bagaimana pun Kamu Ku tetap sayang.

Bahagiaku kian membuncah ketika janjimu selalu terngiang dalam pendengaranku yang kau bisikkan “Lusa Kita akan segera Menikah, persiapkan mentalmu untuk lihat betapa kekarnya setiap inci tubuh calon Suamimu.”

Betapa menggelikannya ucapan itu namun tak mampu tutupi juga bahwa Aku terpaku atas pembicaraan itu, selangkah lagi Kita akan lewati ke jenjang serius dan nanti Aku bukanlah kekasihnya tetapi pendamping yang telah halal menurut agama dan Negara.

Tess…. Air mata jatuh, bukan ketidak inginan tetapi keinginan yang tak lama lagi tersampaikan hidup bersama sosok yang di cinta bahkan mengarungi manis pahitnya pernikahan bersama.

Hal luar biasa yang tidak mampu terfikir dalam benak, bercampur satu dengan kebahagiaan, akan ada hal yang hilang, kebebasan tak mampu lagi jadi patokan, karena nanti ada yang mengatur, kesibukkan senantiasa bertambah yang mungkin cukup menyenangkan.

Dan semua itu akan Ku terima lapang dada, dengan senang hati serta penuh antusias, senyum yang mengembang tak pernah luntur di bibir ini.

Setiap aktifitas, kebahagiaan ini selalu ada, setiap detiknya setiap dentingan waktu ku hitung seberapa bagian yang hilang untuk hantarkan Aku pada sosok kerupawanan Ratu semalam.

Tak pernah bosan setiap hari Ku pandang kalender yang mengait menggantung indah di dinding, jiwa ini semakin semangat ketika hari hari itu kian mendekat.

Esok pagi yang indah Ku lewati, sang pujaan mengajakku untuk melihat lihat gaun penganting yang akan ku kenakan, terpampang jelas di sana gaun putih yang menjuntai indah telah siap ku kenakan di waktu yang tepat nanti.

Saat ia mendorongku untuk mencobanya, ku pegang gaun pengantar menuju peralihanku mendapat gelar seorang istri, dengan lembut ku elus  gaun itu dengan ucapan syukur tiada henti.

Rasa takjub yang menggema seakan hilangkan kehawatiran, ku pandang cermin terlihatlah pantulan diri ini yang terlihat molek dengan balutan busana menawan, mempercantik diri ini dihadapannya.

Siang ini Kami habiskan waktu bersama memandang Taman Kota yang terlihat ramai oleh Anak anak, tertawa lepas saat kekonyolan mereka menjadi jadi.

Dalam benak, siapkah Aku tuk memiliki semua hal itu? Anak kecil yang nantinya menemani hariku dan terus mengajakku bermain, hal yang menakjubkan memang.

Saat malam menyapa, hening menjemput begitu sahdunya, rasa gelisah entah kenapa ada dalam diri ini, bingung rasanya tafsirkan rasa ini.

Rasa takut kehilangan yang entah kenapa terjadi, rasa ke khawatiran yang tak tahu sebabnya, rasa perpisahan tapi kenapa?

Pagi ini ia hubungi Aku, suara merdunya sambut cerahnya Pagi ini, kata katanya yang indah mampu bangkitkan gairahku, pagi ini ia berpesan “Jaga Hati, jaga pikiran, Hari ini Aku pamit untuk membeli mahar perkawinan, nantikan kepulanganku, Aku Mencintaimu.”

Kata kata itu loloskan pikiranku, hangatkan hati, percaya bahwa semua akan berjalan secara baik baik dan kita selamanya akan bersama yang terkait oleh suatu ikatan dan lebih merekatkan kebersamaan kita lebih dari hari ini.

Guncangan apa ini? Tuhan selamatkan Dia dimanapun berada, lindungi Dia dari apa pun yang terjadi, Aku mencintainya dan sangat mencintainya, biarkan Kami pada satu kebersamaan untuk menghadapi esok.

Semua rubuh dan ini bagai tempat asing untukku, mengapa ia tidak mengabariku berjam-jam berlalu tapi tiada kabar, khawatir ini membuncah, selamatkan Dia Tuhan.

“Aku Mencintaimu.” Pesan itu baru masuk ke ponsel padahal ia mengirim semenit setelah re-rumahan rubuh, Aku meneleponnya tapi tak kunjung dapat.

Suara Ambulance penuhi sekitar pengungsian, terlihat jelas kemeja kotak-kotak bercampur darah, itu baju yang ku beri untuk Dia, tidak mungkin! dengan langkah semakin cepat, begitu pun hati yang bertanya-tanya, ku buka penutup wajah itu terpampang jelas sang Kekasih pujaan menutup mata.

Bagaimana mungkin? Di sisinya tertulis Korban Meninggal tertimpa bangunan, Tuhan Dia pergi menghadapmu, secepat itukah? Tinggalkan Diriku pada janji yang esok harus terjadi tapi kandas dilanda musibah.

Mengapa harus terjadi? Lantas pernikahan Kita? Angan-angan kita membina rumah tangga? Selangkah lagi kita raih! Kenapa Kau jemput Dia ya Rabb, jemput kekasih pujaanku.

Raga ini hampa tanpa ada lagi penyangga, tiada lagi semangat hidup Ku jalani, Cinta suci yang harus terukir ambruk tertelan takdir, tidak semudah itu melupakan cinta bertahun-tahun yang kini harus pergi selama-lamanya, Cinta tulusku kini kembali pada pelukan sang illahi, terimakasih untuk Cinta tulusmu yang setia mengalir menuju relungku.

Air mata ini tak sanggup Aku tahan, tak sanggup Aku pendam rasa sesak dalam dada,saat liang lahad terbuka untuknya, bagaimana pun selama ini ia selalu menemani hari hariku, mewarnainya bersama dalam suka cita.

Tetes demi tetes ini isyaratkan kerapuhan diri ini, karena bukan kenangan buruk yang membuatku bersedih, tapi kenangan indah yang Aku tahu, tak akan mampu terulang kembali.

Di bawah naungan bulan malam inilah saksi bisu raga pilu yang rapuh menerima takdir dan bulan inilah akhir kebersamaan terakhir kami, di sini Aku Mencintaimu.

–Selamat Tinggal kekasih pujaanku-