Siluet Indah Dikala Senja

Jingga temani laraku yang bersemayam, tabahkan dan luaskan serta lapangkan dada ini, sirami hati ini dengan cahayamu yang memukau, lembutkan kalbuku, tapi jangan jadikan Aku lemah akan perasaan.

Senja jemputlah Aku dengan semerbaknya harum ketenangan, bimbing Aku ke dalam kebenaran dan teduhkan Aku dengan kebijaksanaan, belailah Aku dengan keindahan serta pulangkan Aku dengan kepercayaan.

Ku tengadahkan wajah kepada langit jingga, malam kian menjemput namun kilauannya masih sama memukau, cukup memabukkan untuk dipandang dan terlalu menentramkan untuk sekedar dirasakan.

Lagi lagi Aku enggan beranjak dari keindahannya, keindahan senja yang ingin ku genggam untuk ku bawa pulang, tidak ada hal lain yang menghangatkan selain pancaran jingganya yang memberi siluet di mega langit yang terbentang.

Pancarannya teduhkan mata, hangatkan jiwa, penantian ternyaman yang tenggelamkan rasa,gelisah,kecewa menjadi satu tergantikan dengan satu kata bahagia.

Kala penantian itu terjalin, entah kenapa selalu ada kata menyerah ditengah perjalanannya, menyerah meraih ampunannya, padahal jikalau ditengok telah banyak rintangan yang telah Aku dan Kamu tempuh untuk dilewati, selemah itukah jiwa ini?

Sampai mana nafas ini memburu, hati terkadang menjerit, tidak kuat menahan tangis, tersadar bahwa Iman ini terlalu rapuh untuk dipikul, terlanjur mudah hancur tanpa pondasi yang utuh.

Jingga, dekatkan Aku seperti sore dengan malam, antarkan Aku menjadi hamba yang mengabdi kepada Tuhanku sang penguasa arsyinya, sebelum gelap merenggut, terpalah Aku dengan cahaya illahinya.

Lindungi Aku dari kesesatan yang menjerat, sebelum Puasa ini terbayar lunas kepada sang Rabb semesta Alam, cahayanya masih sama menerpanya, masih sama menyelimuti diri yang berdosa ini dengan penuh rahmat tak terhingga.

Di dalam perenungan, sekelebat masa lalu membayangi, ada rasa menyesal yang tertahan, Andai bisa ku mengulang Waktu yang telah hilang dan terbuang, Andai bisa perbaiki, segala hal yang telah terjadi.

Tapi waktu tak akan pernah berhenti, detik pun tak akan pernah kembali, Ya Rabb harap ampunilah hambamu ini.

Waktu kian berputar, Rembulan dan Matahari, Bunga yang mekar akan layu serta akan mati, senja berganti malam dan malam akan berakhir, hari akan berganti, takdir hidup akan terus dijalani.

Seperti jingga di Sore hari, meski indah tetap saja akan pudar karena setelah pertemuan pasti akan ada perpisahan, tapi tolong Ya Rabb sebelum nafas ini terhembus untuk yang terakhir kalinya sebelum mata ini terpejam untuk selamanya dan sebelum jiwa ini terbaring lemah diatas pembaringan abadi yang beralaskan Tanah, ku mohon bimbing Aku menjadi makhluk yang senantiasa bertawakal , menjadi hamba yang senantiasa terlindungi dari kesalahan dan kebodohan, semoga pintu taubat senantiasa terbuka untuk hambamu ini yang berlumur dosa.

Dari sekian banyak terpaan panasmu, hanya indahnya siluet yang dapat ku rengkuh dengan berjuta rahmat yang setiap detiknya mengalir bebas membasahi Kalbu, merangkai kata nikmat dalam hidup yang berselimut tawa dan air mata yang saling bergantian datang sebagai pelipur lara, penghujam jiwa.

Sembari menunggu kumandang syahdu Adzan dengan bait bait Cinta serta Lafadz asmara, Senja kian bergulir menuju peraduannya, menunggu pekatnya Malam yang akan muncul dengan riak riak air yang terpantul kilauan emasnya.

Mata kian terpaku memandang kuasa sang Rabb yang tak tertandingi, memandang indahnya Alam penciptaan sang semesta dengan guratan guratan harmoni sang Senja jingga.

Dentuman bedug kian terdengar syahdu, di bawah mega jingga ku rapalkan Do’a yang menyayat kalbu dengan lafadz asmaranya yang memanggil jiwa lemah yang kian rapuh.

Ya Rabb, Kau maha tahu rapuhnya Aku, sekian banyak waktu, entah itu Siang atau Malam Dunia yang terlalu ku tuju menjerat akhlakku, saat hari ini ku jatuh, baru ku sadari bahwa Aku terlampau jauh tidak mentafakuri segala nikmatmu, padahal dirimulah yang harus menjadi segalanya di dalam hidupku yang fana ini.

Tuhan ku angkat ke dua tanganku menghadapmu disenja cerah ini, sudikah engkau menerima Cintaku Ya Rabb? berdarah darahpun akan ku tempuh demi menggapai tarikat Cintamu, Ya Rabb Aku tersadar bahwa hambamu ini selayaknya tak pantas menggapai tujuh Surgamu, tapi Ku harap Cinta dan ampunanmu, membasuh jiwaku yang terlampau kotor dengan keluhuran Arasy  yang luas akan semesta Cintamu, wahai sang pembolak balik hati yang maha mengasihi.

Dipenghujung hari ini, ku tegakkan kaki, teguhkan niat, rapalkan Do’a dengan syahdunya panggilan Tuhan, ku semayamkan janji perbaikan diri dan untukmu Senja, Kamu akan tetap ada, tidak perduli ada atau tidak adanya Manusia, Senja akan selalu datang dengan anggun dan ceria, maka hari ini Aku ingin menjadi Senja, Aku akan tetap bahagia dan ceria seperti Senja yang mewarnai Langit dengan siluetnya.

Entah kenapa Aku jatuh cinta kepada Senja, kepada Cahaya yang dijelaskannya kepada angin yang dihembuskan kepada takdir yang dibawanya, bahkan setelah Senja padam, entah karena Hujan atau Malam, Aku masih tetap jatuh Cinta kepadanya, Oh Siluet Indah Dikala Senja.

Iklan