Kalah Dengan Jarak

Malam menjemput, langit pun kian pekat dengan hitamnya kegelapan, beribu ribu cahaya bintang menyertai,menambah indahnya suasana damai ini dengan secangkir cokelat hangat, ku resapi manis yang mengalir, hangat menyeruak, menyelimuti diri dari terpaan angin sepi.

Ku pandang pemandangan dengan lampu yang menghiasi sudut kota dan hamparan kehangatan yang terpancar dari rumah mereka, di ketinggian balkon rumahku, dapat kulihat nikmat tuhan yang mengagumkan.

Aku termenung dengan kilasan masa lalu, dikala itu ada sesosok laki laki tampan yang ku pandang baik, Kami memang dekat sebagai Teman, entah itu kesalahan ataupun bukan, hanya saja Kami terlampau dekat hingga menimbulkan suatu rasa.

Rasa yang aneh, melekat tak menentu arah, pernah sekali Kamu membicarakan tentang rasa itu, mungkin Kita terlalu lugu tidak menyadari dosa besar yang kian menghampiri.

Entah kenapa ada rasa belum pantas menerimanya, mungkin karena memang Kamu banyak yang mengagumi dan Aku rasa, itu terlalu berdosa untuk kita lakukan, sungguh tidak pernah ada niat untuk menyakiti perasaannya, tapi Aku tersadar, saling mengagumi merupakan kodrat yang wajar bagi Manusia, tetapi untuk menjalin status berpacaran bukankah akan ada dosa untuk kita kedepannya?

Ditambah akan ada hal lain yang dengan lancang pasti akan dilakukan, karena telah merasa memiliki, walaupun sebenarnya belum menjadi hak untuk dinikmati.

Mengiyakan ajakanmu adalah suatu kesalahan dengan lancang mengambil kata zinah dengan lawan jenis yang memang belum direstui oleh agama.

Maaf, jika membuatmu terluka, tetapi lebih baik Kita belajar dulu mencintai yang sesungguhnya, menebalkan iman dan takwa, memperbaiki segala perbuatan, agar Kita dipertemukan kembali dengan pengiring, selayaknya kata pantas.

Bukan hanya Kamu yang terluka, Aku sendiri pun meredam diri dari gejolak kesalahan, saat ini, Aku memilih menjauhimu, meski karenanya, Aku harus membakar diri dengan api kerinduan.

Saat ini, Aku memilih melepaskanmu, meski karenanya, Aku harus menusuk diri dengan duri kesepian, Aku khawatir, kelak jika memiliki seorang anak perempuan, ia mudah dibuai sembarang pria, ia mudah ditatap sembarang mata dan ia mudah dipeluk sembarang raga.

Ah tidak, Kita akan mulai membangun pondasi rumah tangga sebelum menikah dengan cara mematuhi aturan Allah, Tuhan maha Cinta, Aku takut jika nanti memiliki seorang anak laki laki, ia menjadi seseorang yang tidak bertanggung jawab, ia memacari anak gadis demi memuaskan syahwat atas nama Cinta, ah tidak, Kita akan mulai mendidik calon anak Kita yang bahkan belum lahir dengan menjauhi segala larangan Allah, Tuhan maha Cinta.

Maka sebelum pernikahan bahkan janur kuning pun belum melengkung, mari saling menghormati dengan cara menjaga jarak, toh ini semua tidak akan lama bukan? Ini hanya sementara.

Mari menjauhi sementara, agar kelak berdekatan selamanya, mari terpisah sementara, agar nanti bersama selamanya, mari melepaskan sementara agar lusa bersatu selamanya.

Kita hanya butuh waktu untuk lebih mempersiapkan diri, memantapkan keteguhan hati dan mempersiapkan lahir batinnya, Kita sangat perlu bertawakal untuk melalui setiap proses ini, Kamu tidak akan rugi dengan apa yang telah Kita lalui, karena setelah semuanya terlalui, Kita merupakan makhluk yang sama sama tangguh untuk dipersatukan.

Dipersatukan dengan layak, serta halal dimata agama, bukankah nantinya Allah akan lebih mudah meridhai Kita dalam membangun bahtera kehidupan yang lebih bersahaja dengan hanya ada Kita di dalamnya bersama Allah sang pengatur semesta.

Kita perlu bersabar memantaskan diri, berikhtiar serta mendekatkan diri kepada sang pengatur urusan Manusia, sembari berharap Kamulah jodoh yang tepat karena Allah.

Jangan pernah katakan Kita kalah, kalah di sini Kita tengah mengalah dengan ego yang menggandrungi dan meredamkan nafsu syahwat yang tak henti henti merasa puas.

Untuk jarak biarlah, bukankah menurut Al-Qur’an telah ditetapkan bahwa kaum Adam dan Hawa tidak diperbolehkan berdekatan sebelum tiba masanya dipersatukan, cukuplah Kamu dekati Allah, Maka Dia akan kikiskan Jarak untuk Kita dengan rahmat illahinya, iya ridhai Kita menggenggam Dunia dan Akhirat untuk ditapaki bersama.

Teguhkan niatmu wahai kaum Adam, bahtera rumah tangga itu bukan hanya tentang Cinta, tetapi tentang penyempurnaan faham agama dalam diri yang menuntun menuju Surga.

Ingatlah sang maha agung Allah, maka Allah akan mempersempit jarak dan meluaskan jalan untuk Kita tempuh bersama dengan tauhidnya dan bimbingan Cintanya.

Jika Kamu benar benar ingin disatukan dengannya yang Kamu Cinta, jangan lagi Kamu merusak Do’a dengan kemesraan yang tidak semestinya, bukankah segala pertemuan adalah ketentuannya?

Iklan

17 thoughts on “Kalah Dengan Jarak

  1. Selamat Malam, di bulan yang masih fitri ini saya mengucapkan permohonan maaf yang sebesar besarnya baik kesalahan yang disengaja maupun yang tidak disengaja, walaupun ini terlalu lambat untuk diucapkan tapi untuk meminta maafkan bukan hanya dihari lebaran saja πŸ™‚ edisi cerita bulan ini,mengangkat tema islami, untuk teman teman saya yang non muslim, mohon maaf jika banyak perkataan di sini yang kurang dipahami atau dimengerti.

    Terimakasih telah menyempatkan waktu untuk membaca karya saya yang belum seberapa yang di dalamnya memiliki banyak sekali kesalahan,sekali lagi terimakasih untuk dukungan serta motivasinya dan cinta yang melimpah bagi saya πŸ˜€ πŸ˜€ πŸ™‚

    Disukai oleh 2 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s