Mengagumimu Dalam Do’a

Siang kembali hadir di dalam lembaran yang baru, berdiri mengganti waktu, meninggalkan urusan yang tidak perlu dan menggantikannya dengan tawa yang baru, hangat yang kian memburu dengan berlapiskan kata rindu.

Aku yang mengagumimu dibalik batu, bersembunyi tanpa mau diketahui. Aku yang mencintaimu tapi takut akan cinta yang tak terpenuhi. Aku akui bahwa bukan pria saja yang harus memulai, tapi perempuan juga punya kesempatan yang sama untuk memperjuangkan. Sekali lagi aku takut, aku benar benar takut akan wanita wanita yang mengelilingimu.

Mereka begitu cantik dan anggun, dengan kehidupannya yang dilimpahi oleh harta, sedangkan aku hanya sosok sederhana yang berkecukupan dan memiliki standar jauh dari kata cantik.

Mungkin aku hanyalah seonggok debu kecil yang perlu dibersihkan, entahlah tidak perlu diperdulikan, hanya saja cintaku tak perlu kamu nilai kecil juga, karena cinta beralaskan hati bukan berdinding harta dan memilikimu bukan suatu kepastian untuk dimiliki, maka ku pasrahkan rasa ini pada tangan tangan sang ilahi.

Hanya Tuhanku yang tahu, cintaku tak sekecil kamu kira, maka dari itu ku pasrahkan hati kepada sang pemegang hati, sampai saat ini sajadahku hingga kini masih setia menjadi saksi tersebutnya namamu dalam sujud dan tengadahnya tanganku.

Sampai detik ini pun, entah sudah keberapa kali air mata ini menetes karena nyeri tentang kehinaan, setegar apapun entah kenapa air mata ini selalu merembes membuat anak anak sungai yang mengalir di pipiku. Tidak ada yang lebih sakit, selain mendapat cacian dari orang yang dicintai.

Sungguh, aku memang tidak memaksamu membalas rasaku, kalaupun kamu memintaku menjauh, sampai saat ini aku selalu memberi jarak dalam setiap langkahmu, tapi jika kamu memintaku menghapus rasa atas nama cinta, maaf aku tak kuasa, tak kuasa menghapusnya, karena ini perihal hati yang terjaga oleh sang illahi.

Aku tidak pernah memaksamu, kalaupun kamu masih tidak menginginkan, maka carilah kebahagiaanmu, karena cintaku ini untuk melihatmu tertawa bukan tertekan, maaf tapi aku tidak mau berhenti menggumamkan namamu di atas sujud dan do’aku, biar Tuhan yang memilah, layakkah aku mencintaimu, jadi biarkan aku menjadi sang pengagum dibalik siang malamku.

Walaupun lebih banyak sakit dari mengagumimu tapi aku tidak pernah berhenti menebalkan rasa itu, tidak perlu kamu tahu siapa pengagummu, cukup ketahui ada sesosok perempuan yang dengan ikhlas memberimu rasa sayang dengan sepenuh hati.

Tuhan mungkin ini belum saatnya namun maafkan atas rasaku yang telah lancang kepadanya, maaf karena hatiku bersekutu dengan harapan, kalaupun ada mantranya aku pun ingin menghilangkannya dan mengobati disetiap luka yang tergores karenanya.

Dari dulu aku memang takut untuk memadu kasih tapi ternyata yang menyakitkan adalah ketika dirimu menjadi pengagum rahasianya yang tak pernah dilihat ataupun didengar rasanya. Ya, katakan aku memang lemah akan perasaan pada seorang pria, aku memang bisa membiarkannya tanpa tahu cara menghentikannya, ya menghentikan luka patah hati yang tak terbalas. Aku mengerti dan sangat mengerti dengan kebodohan rasaku ini, maaf aku terbiasa dikendalikan tanpa mau mengendalikan.

Jadi kapan mentari ataupun senja, mengeringkan rasaku pada satu nama itu, sungguh aku telah lelah menyebutnya dalam setiap do’a, lelah akan perasaan ini, tapi mengapa rasaku tidak mau berhenti ataupun sekedar menyurut, mengering lalu tak berbekas?

Jadi sampai kapan aku mengagumimu tiada henti? Pengagum rahasiamu yang berlindung dibalik do’a, awalnya memang tidak melelahkan, tapi dalam dan semakin dalam ku temukan hal hal yang menyayat. Hingga akhirnya aku tersadar bahwa yang menyakitkan itu seharusnya saat kita terlalu berharap pada seseorang yang sangat kita cintai, tapi belum tentu orang yang kita cintai membalas rasa ini ataupun mengaminkan apa yang kita minta pada sang illahi.

Cinta memang membutakan akal, menjerat disetiap langkahku, membuatku terfokus akan sosok kamu yang belum tentu tercipta untukku. Yang dengan rajin ku rapalkan namamu di atas sajadahku yang terbentang, dengan khusu membingkai permohonan cinta pada sang maha cinta untuk dipersatukan, sekalipun aku bersikukuh untuk dipersatukan, apalah daya kalau semesta tidak menginginkan dan aku hanya diciptakan sebagai pengagummu yang berkedok do’a.

Harapan belum tentu menjadi nyata dan hal itu aku temukan saat aku mengagumimu terlalu dalam, saatnya aku untuk berhenti mengharapkanmu, sampai hari ini sudah lebih dari cukup untuk aku menyukaimu, untuk aku merindukanmu, untuk aku menantikanmu, dan sekarang aku ingin mengambil kendali, karena merasa tak akan pernah kamu cintai.

Iklan

14 thoughts on “Mengagumimu Dalam Do’a

  1. Sekarang hadir dengan tampilan yang baru, Penulis Masa Depan di tanggal 18 September 2017 sudah genap melangkah bersama rekan rekan selama satu tahun di internet. semoga Penulis masa depan bisa melangkah lagi bersama untuk tahun tahun yang akan datang, tampilan lebih baik disuguhkan bagi yang berkunjung lewat Pc maupun Smartphone, tapi lebih bagus sih di pc 🙂 Terimakasih sudah setia menemani penulis masa depan selama satu tahun dan untuk masa mendatang ❤ 🙂 😉 😀

    Disukai oleh 4 orang

  2. Haii widiam25…?
    Aku panggilnya apa nih..? widi? atau diam?
    makasih udah mampir blog.ku.. jgn lupa follow :V
    btw, tulisan2 kamu melow ya? tapi aku suka.. berasa banget seni puitis nya 🙂
    sukses terus…
    ditunggu next episodenya 😀

    Suka

    1. Boleh Widia juga bebas kok 😊 iyah nanti aku follback yah, justru yang harusnya makasih aku, karena kamu yang lebih dulu berkunjung ke blog saya, kalau boleh tahu, nemu blog aku bagaimana?

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s