Purnama Hampir Tenggelam

Ada banyak cerita yang ku susun dalam hati, yang sewaktu waktu bisa bergulir dengan tangis dan ku papah dalam sepi. Bulan tetap bersinar dalam terangnya punama malam, bersinar dalam kelamnya malam.

Meskipun orang lain melupakannya, tetapi bulan enggan meninggalkannya, ia akan tetap terang menderang walaupun habis tenggelam oleh kelamnya malam.

Bulan layaknya manusia yang berperasaan, ia akan timbul dengan secercah harapan terang lalu redup dengan segenggam perasaan kelam.

Kamu tahu rasanya berharap? Lalu terhempas dengan kenyataan yang tidak pernah kamu impikan. Apakah rasa cinta akan tetap ada? Meskipun orang yang telah lama kamu puja telah terlampau jauh berbeda.

Yakinkah kamu memendam rasa? Meskipun kamu telah tahu bahwa akhirnya akan memberatkan satu pihak. Sudahkan kamu teguh menjungjungnya walaupun pada detik akhirnya akan membuatmu muak dengan semua perasaan hati. Cintamu akan setengah hati, hatimu menjadi retak lalu menjadi puing puing yang tak bermakna.

Masihkah kamu tetap bertahan? Atau pergi, melangkah, mundur dengan teratur, selayaknya bulan yang keadaan dan sinarnya berhenti menetap untuk mencumbu bumi.

Tetapi bulan akan semakin menderang ketika langit kian pekat dengan gelapnya malam, akan kian indah dan mengagumkan dikala syahdunya, gemerlap dan heningnya malam.

Lantas apakah kamu tetap bertahan dengan kelabunya rintangan yang kian menggerus harapan? Atau tetap kokoh berdiri dengan sepinya kosa kata, kala kalian duduk berdua? Masih bisa disebut hubungankah jika tanpa dilandasi interaksi? Juga, apakah masih bisa disebut bersama meskipun kenyataannya kalian tengah menunda perpisahan?

Pada akhirnya kamu akan tetap lelah dan berhenti untuk menerangi gelapnya malam, akan tetap lelah saat merasa tak lagi diharapkan atau tak ada lagi pengharapan.

Jenuh pasti merajaimu, merantai hatimu dan membuatmu bimbang untuk bertahan, bersabar menanti kepatian, atau memang kamu yang terlalu berharap, jika dia bisa menyelesaikan semuanya tanpa lagi menyakiti hatimu?

Jadi sampai kapan kamu masih menunggu keajaiban tuhan? Kamu tetap diam tanpa melakukan action sedikitpun. Tuhan memang baik tetapi bukan berarti dia dengan mudahnya membebaskanmu dari jeratan takdir. Kamu perlu sedikit usaha demi pencapaianmu memenangkan takdir, hidup dan sesuatu yang ingin kamu genggam. Tetapi bila saatnya telah tiba kamu tidak bisa lagi memaksakan takdir untuk tetap bersama, seperti  kamu yang tidak akan bisa mempertahankan bulan untuk tetap bersinar dengan cahayanya sendiri.

Kamu memang tetap bisa berjalan melewati hari, walaupun tanpa ada lagi harapan, tapi untuk tetap bertahan dengan segenggam harapan, rasanya akan sulit untuk kamu jalani.

Bulan memang memiliki fase untuk tidak tetap bertahan dalam pancarannya, adakalanya ia akan meredup tenggelam dan berganti oleh sang fajar yang kian disambut hangatnya sang mentari.

Begitupun dirimu yang kian rapuh ditelan oleh kebimbangan, disatu sisi kamu ingin bersama dan tetap terus mempertahankan, tetapi dilain sisi, kamu juga tidak ingin hatimu tergerus oleh rasa amarah yang tercipta dari sebuah keterdiaman. Diam tanpa ada balasan ataupun keinginan yang sama.

Hingga pada inti hatimu yang terdalam, terngiang sebuah pertanyaan sekaligus pernyataan, “kamu terlalu mencintainya, dan akan terlampau sangat mencintainya, sampai hanya akan terasa sakit dari rasa cinta tersebut, tetapi tidak ada yang bisa membuatmu merasakan itu kecuali diriku. Tidak ada lagi yang bisa membuatmu merasakan kebahagiaan besar kecuali dirinya. Dengan semua perasaan itu bagaimana mungkin kamu bisa meninggalkannya?”

Sayangnya, kasih sayang yang telah kamu nikmati hanya sebahagiaan masa lalu, kejujuran dan keterbukaan yang selama ini kalian jungjung serta pikul kian mengerut menjadi bantalan bantalan tipis.

Lantas, apakah kamu masih bisa menyangkal tetap mencintainya? Meski di hati telah bergemuruh bibit kebencian. Coba kamu pandang bumi ini, bumi masih tetap luas dengan ruang ruang kebahagiaan yang belum kamu telusuri.

Bulan memang satu, tetapi walaupun dalam kelam, ia tetap dikelilingi bintang yang kian rupawan serta menarik. Kenapa kamu masih tetap bertahan pada satu pria yang jelas telah menyakiti? Padahal kamu sendiri tahu, masih luas hamparan pria dengan berjuta kebaikan yang mereka simpan dalam tiap pribadinya.

Hanya karena satu pria, kamu mempertahankan hidup dan dirimu dalam kekelaman takdir, tidur dalam kepelikan dan berusaha tabah melawan kepahitan, diantara itu semua, tubuhmu dan hatimu tetap egois untuk tetap menentang takdir yang tak berujung.

Kamu rela kehilangan cahayamu, sebahagiaan dan dirimu hanya untuk menepi pada perapian cintanya, tanpa sadar, kamu telah sama seperti bulan yang sukarela menyerahkan daya tariknya demi ujung yang kian kelabu, lalu kapan kamu dapat mengendalikan purnama untuk tetap menderang tanpa harus tenggelam kembali. Jadi, akankah kamu menyerah dan memutuskan ketidakpastian atau tetap bertahan menggenggam duri yang membuatmu tersayat sakitnya sembilu hati?

Iklan

9 respons untuk ‘Purnama Hampir Tenggelam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s