Terang dibalik Gelapnya Malam

Pada dentingan malam, aku berdiri diam, termenung di depan cermin, memandang kosong dengan mata sembab yang bercucuran air, nanah yang mengucur dalam hati karena perih yang tergores dalam hati.

Fajar kian berkilau menerangi malam yang tampak terang, sinarnya tampak terlihat dibalik celah celah gordeng yang Nampak tak terlalu rapat, ku hela nafas yang semakin memburu, dada kian sesak, saat pikiran jauh melayang pada masa itu. Masa saat dahulu masih bisa berjalan seiring, dan seirama.

Saat itu, aku masih bisa memandangnya tanpa celah, berjalan beriringan tanpa ada beban yang membelenggu, menanam rasa, tanpa tahu tujuan rasa itu, melabuhkannya pada suatu hal, kita memang tidak sadar, tentang tawa yang selama ini berseri, berawal dari tatap yang mampu timbun rasa.

Awalnya kita memang dua teman yang saling menghangatkan, menyayangi, dan membunuh rasa sepi yang selalu hinggap dalam diri, kita baru sadar apa yang selama ini kita pahami, belum bisa disebut kata faham. Kita sama sama menyembunyikan isi hati yang sebenarnya menggerayapi rasa yang telah ada sejak lama kita bersama.

Hingga akhirnya aku bersandiwara tentang apa yang ku lihat seolah olah terang, padahal sebenarnya aku tengah menyelimuti gelap yang ku tutup seapik mungkin.

Masih teringat di ingatanku, berapa tinggi badanmu, semua ukuran bajumu, dan tentang kemeja merah, baju yang sering kamu gunakan, kalaupun kamu tahu, diri ini selalu mencuri curi kesempatan untuk menghirup aroma parfummu, atau menuangkannya sedikit pada bajuku,di kala kamu akan pergi bertugas ke kota jauh di sana.

Saat kita masih bisa berpengangan tangan, dan berjalan bersamamu menikmati indahnya senja yang membelah hamparan ilalang yang hidup dan tumbuh dengan subur. Ditengah kehangatan senja jingga, tersiur angin menghembus bunga ilalang yang terbang layaknya kapas, terang masih dapat ku lihat, tapi jauh dari kata itu, telah tergores gelap yang kian menelan kehangatan.

Pagi itu masih bisa ku lihat senyummu yang ku lihat dari wajahmu yang cerah, kamu berdiri di depan gerbang dengan sebuah mobil yang selalu kamu pakai, lalu berbalik menghampiriku yang tertegun memandangmu sebagai lelaki bukan lagi sebagai sahabat karib. Lalu ku kira itu hanya sebuah kekaguman biasa yang mungkin nantinya akan lenyap seiring waktu, nyatanya rasa itu tetap ada, meskipun aku tidak pernah memintanya untuk tetap di hati, tetapi entah mengapa, rasa itu terus melekat, merayap, dan kokoh menjadi sebuah cinta.

Dan pikiranku melayang pada pagi tadi, ketika terdengar bahwa ia telah pergi, ku lihat tubuhnya yang putih bersih tampak memucat tak lagi bertenaga, tak lagi memelukku dengan tawa riangnya, dan hanya tinggal seonggok raga yang arwahnya telah terbang tinggi menuju dunia kebebasan.

Dibalik kepergian yang mendadak, kamu masih bisa mengulas senyum manis di bibir tipismu sebagai bentuk salam perpisahan pada orang orang yang setia menemanimu, kamu dengan damainya pergi ditengah tangisan pecah yang meledak ledak.

Perasaaan tak rela menggelayuti hati, ketika perlahan lahan tubuhmu tertutup tanah basah yang terguyur hujan hari ini, kenapa kamu harus pergi? Ketika aku baru sadar, bahwa selama ini bukan kekaguman yang aku miliki, melainkan rasa suka dan cinta yang sewajarnya antara perempuan dan laki laki, bukan lagi bentuk kekaguman yang selama ini aku terka terka dan perkirakan. Aku dibutakan oleh label persahabatan yang selama ini kita ikrarkan.

Disaat kamu pergi, aku baru sadar, bahwa kedudukanmu terlalu penting dikehidupan dan keberlangsungan hatiku, bukan hanya sebagai sahabat yang selama ini kita jalani, tapi ternyata kamu bisa merasuk menjadi kekasih yang belum pernah kita bina, tetapi membekas dalam hati dan ingatan.

Lalu hari hari yang kulewati terasa menyayat, entah aku yang belum bisa mencoba mengikhlaskan atau memang kepergiannya yang selalu ku sugestikan sebagai mimpi buruk. Karena memang jauh di dalam hati, ku yakini kamu masih hidup dan masih mampu tersenyum sekiranya kamu menatapku.

Tapi selalu saja aku terbangun dari mimpi panjang itu, ataupun bangkit dari dunia ilusi yang selalu ku bangun tinggi tinggi, tapi pada akhirnya aku selalu kalah dan jatuh berurai air mata lagi dan lagi. Kali ini aku pasrah akan terang yang kulihat, tapi gelap yang kurasa.

Kamu mungkin hanya segelintir asmara yang tuhan titipkan hanya untuk sementara, yang membuat terang saat badai, dan redup lalu mendatangkan badai kembali. Jujur kesakitanku masih tetap ada, melihat gundukan tanah yang masih basah oleh tetesan kesakitan menatap nama nisan yang tertulis dengan rasa ketidak sukarelaan yang ada.

Terang izinkan aku membisikan gelap yang ada pada hati, dan untukmu, bagaimana kabarmu di sana? Kamu curang, kamu sudah tenang di sana, sedangkan aku masih berharap di sini menunggumu, kamu tidak perlu memikirkanku lagi, sedangkan aku? Bahkan setiap hari aku menangisi kepergianmu, kepergianmu memang tidak terduga, begitupun rasa sakitku akan kehilanganmu, tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Tetapi terimakasih telah pernah membuatku bahagia, pernah ada walapun aku masih saja tidak bersyukur dan ingin kamu ada lebih lama, semoga kamu tenang di sana bersama do’aku dan rinduku.

Di balik perih tersebut, ada sepasang mata yang menatapnya dengan rasa kesedihan yang sama.

***

Sekarang aku selalu tersenyum, seolah olah gelap yang pernah hinggap telah pergi tanpa sisa, nyatanya bagaimana aku bisa kembali bahagia? Jika penerangku telah pergi ke pelukan sang pencipta.

Iklan

27 respons untuk ‘Terang dibalik Gelapnya Malam’

      1. Karna air beras melambangkan..hidup kehidupan…seperti hidup ini…manusia tidak ada yg…suci/bersih kecuali yg sudah ditentukan sang maha kuasa..

        Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s