Secerah Mentari Pagi

Kita yang telah dipersatukan sekian puluh tahun dengan kebahagiaan, kemudian kita pondasikan keharmonisan menjadi pilar kehidupan kita. Kamu yang sekiranya Tuhan titipkan padaku unuk menjadi pembimbing dalam kehidupan yang kelam.

Kamu tahu dua puluh tahun yang lalu, aku adalah wanita yang hanya ingin bermain main dengan hidupmu, tetapi takdir seakan balas mempermainkan hidupku. Kamu dan keluarga besarmu datang ke rumah untuk mengkhitbahku kamu membawa mimpi baru untuk membingkai rumah tangga yang sakinah mawaddah warahmah.

pada awal mula itu, ya mungkin aku merasa jengkel dengan tingkahmu yang membangunkanku disepertiga malam, dikeheningan malam kamu membimbingku untuk lebih dekat dengan sang pencipta, kadang aku iri saat dirimu tengah mengaji suara merdumu menembus batinku, sedikit demi sedikit kamu terangkan keimanan dalam relung hati ini. Sedikit demi sedikit pula kamu merubah cara pandangku tentang dirimu dan dari islam yang telah lama sempat aku tinggalkan.

Kamu yang dengan setia menggenggam tangan seraya berbisik, aku memang tidak bisa menjanjikan kemewahan untukmu karena yang aku bisa tawarkan hanyalah kebahagiaan bersamamu, tidak pula menjanjikan sehidup semati, yang aku mau kita sehidup sesurga bersama. Karena alasanku aku ingin engkau yang ku pinang kembali menjadi pendampingku di surganya nanti, menemaniku dan bersama memetik buah keimanan kita di dunia.

Jangan pernah ada tangis saat melepas salah satu diantara kita, wahai istriku. Jikalau engkau yang dijemput terlebih dahulu, maka akan aku ikhlaskan, akan ku pasrahkan segala rasa, dan akan tetap ku panjatkan do’a untukmu siang dan malam hanya untukmu yang telah menemani. Akan tetapi jikalau aku yang lebih dulu tuhan jemput, jangan pernah engkau tangisi kepergian ini, karena setiap yang bernyawa pasti akan mati dengan takaran waktu yang telah Allah tetapkan, Allah lebih tahu takdir kita, maka teruskanlah hidupmu bersama islam yang melekat ditubuhmu. Berdirilah untuk beribadah di fajar, dikala mentari mulai beranjak, bersujudlah pada sang pemilik, mengadulah pada sang kuasa dimalamnya yang tersembunyi. Ingatlah bahwa diri ini selalu menunggu di dunia maupun di keabadian yang tengah menanti.

Dari saat itu, aku memulai mengubah diri bukan karena ia saja, tetapi karena Allah sang pencipta yang telah menciptakan dia yang menyempurnakan sebagian agama Allah, ia yang menyadarkanku dari gelapnya kebutaan tentang agama, ia juga yang telah membawa sinar keimanan selayaknya mentari yang beranjak menyelimuti bumi dikala pagi, ya indah dan sangat mengagumkan.

Aku telah memantapkan untuk melabuhkan hati kepadamu. Kamu bilang “Hidup selayaknya perjalanan menuju Allah” tetapi untukku selain perjalanan menuju Allah, aku pun perlu menempuh perjalanan untuk memberikan cintaku kepada yang hak yaitu takdirku, untukmu ya zauji.

aku cinta karena allah

Secerah mentari kamu menyinari jiwaku. Disaat sepenggal mentari kamu menuntun, menggerakkan tubuhku mengikuti gerakmu menghadap illahi. Kamu berdiri kokoh memimpin dan memulai shalat sebagai imam, kamu luar biasa, takdir tuhan yang tidak pernah aku sangka.

Kamu selalu tahu cara menarikku dari pusaran kebimbangan, kamu yang selalu mengajarkanku arti keimanan dan ketaatan,saat aku telah terbiasa dengan keadaan, terbiasa dengan kehadiranmu yang tidak pernah lelah menuntun langkah.

Disepenggal mentari itu, terdengar bunyi sirine yang memekakan telinga, kamu datang kembali ke rumah diiringi pasukan yang engkau pimpin, luruh seketika air mata dan tubuh ini. Apakah ciuman dikening dan pelukan hangat lima hari kemarin adalah bentuk perpisahan darimu? Masih teringat dua hari yang lalu kamu bilang. “semuanya telah usai, kita membawa kemenangan untuk islam.” Kamu menyampaikan dengan senyum suka cita, tetapi ada yang berbeda dibalik wajahmu, kamu berkata kembali “ Akan lekas kembali.”

Ya, kamu memang lekas kembali. Tetapi bukan kembali seperti ini yang aku harapkan. “Tolong bangun, kamu telah berjanji untuk tetap mendampingiku sampai menua nanti.” Ada dekapan hangat seorang ibu yang membelit tubuhku, seraya berbisik “kamu masih punya Dia sayang, jangan sia-siakan Dia juga, seperti dulu kamu menyianyiakan suamimu.” Ucapan ibunya membuat ia tersentak dan menoleh kearah tepat retina cokelat milik ibunya, dengan tatapan nanar penuh luka.

“Terkadang Tuhan mengajarkan kita sesuatu dengan hal yang menyakitkan agar kita faham arti sebuah kebahagiaan.”

Hal tersebut membuat diri ini menyadari, bahwa kesedihan sejati bukan karena putus cinta, tetapi karena menyadari apa yang dulu selalu menemani hari, kini sudah pergi dan tidak ada di sini lagi.

Dulu kamulah alasanku mampu berdiri setelah terpuruk. Kini kepergianmu membuatku rapuh, ingin aku lari dari luka dan air mata. Namun aku tidak mampu berdiri dengan jiwa dan raga yang telah lemah tak berdaya, seakan pergimu membuat duniaku hancur seketika.

Aku adalah bumi dan kamu adalah mentari. Bumi selalu membutuhkan mentari disetiap harinya untuk menyinari, lantas apa yang akan dilakukan bumi saat kehilangan mentari?

Aku memang merasa kehilangan dirimu tetapi sepantasnya aku bersyukur kepada Allah, ketika ia mengambil satu hal yang penting dalam hidupku, ia mengirim satu hal yang lebih penting lagi untukku.

****

Engkau memang telah lama pergi,tapi tempatmu di sini tidak akan pernah bisa hilang, karena kamu adalah salah satunya alasan diriku menunggu, menunggu pertemuan abadi denganmu kembali.

banyak pembelajaran yang bisa saya ambil dari cerita ibu, yang tidak mau disebut namanya, terimakasih telah berbagi pengalaman pahit, semoga bisa menjadi ilmu bagi saya untuk lebih menghargai peran masing masing orang di muka bumi ini, tidak lupa semoga saya bisa lebih banyak bersyukur kepada sang pemilik atas apa yang telah dikaruniakannya kepada saya ❤

Iklan

7 respons untuk ‘Secerah Mentari Pagi

      1. Iya, sejenis ada ketertarikan gitu. 😎 Kabar lagi sendu (sendiri dan rindu) karena memang udah lama kita tak bersapa. Mba widia, apakabarnya sehat?

        Suka

      2. Alhamdulillah kalo saya mah, tapi kalo tentang tulisan saya,Emm kayaknya gak baik baik saja, disebabkan tidak ada inspirasi yang bisa saya salurkan 😒😖 gimana sekarang udah ada gandengan belum?

        Suka

      3. Tulisannya sedih nanti, kalau digituin. Ayolah bersamai ia dengan senyuman.. eh? Sekarang lagi sendiri makanya masih bisa nulis2. Kalau ada gandengan, belum tentu. Makanya sendu. ^^ 😌😌😌

        Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s