Segemerlap Pasir Putih

Ada deraian luka di balik putihnya pasir. Mungkin tidak menyayat hanya saja membekas, tidak terlihat namun terasa, tersembunyi,dan lambat laun akan terbongkar, entah itu oleh cumbuan ombak sebagai pihak ketiga. Atau elang yang memang sedang mencari mangsa, yang jelas, selalu ada jejak kaki yang tertinggal di atasnya. Entah sebagai petunjuk atau bagian memori yang sengaja ditinggalkan oleh sang pemilik. Pada akhirnya selalu ada kata sakit dibalik indahnya pasir putih yang kau pijak.

****

Aku tidak lupa, dari masa pertama kali kita jumpa, sampai hari-hari yang pernah membuat kita bersama. Kamu dan aku telah menuliskan banyak cerita, waktu yang tergulir sempat kita habiskan bersama-sama. Dulu kamu adalah lautan biru yang sangat indah, dan sayangnya dulu, aku lebih memilih menjadi pasir putih yang setia menemanimu. Ya,yang selalu diinjak banyak orang yang hendak mendekat padamu, namun aku selalu merasa bahagia, dan itu entah mengapa.

Rindu, mungkin memang iya, sempat ada diantara kamu dan aku bahkan saat itu aku berani menyebutmu sebagai cinta sampai aku lupa, bahwa patah hati selalu ada mengiringi, tetapi hatiku selalu berkilah dan berkata kalau dia memang yang terbaik. Ucapannya memang merdu untuk didengar, ku bilang dia memang seperti pasir. Di usap memang lembut,dipandang memang indah, namun kamu tahu? Saat angin melambungkannya ia membawa perih pada matamu yang selalu memandangnya.

wp-image-1774739987

Dan sekarang, ingin sekali ku katakan pada semua makhluk di sekitarnya, bahwa dia tak seindah yang kau lihat. Untukmu jangan lagi, jangan bersikap seolah olah kamu peduli, menyebutku sebagai sosok yang berarti, kemudian, membuatku terbuai pada banyaknya janji yang kamu beri. Ku mohon, jangan lagi! Karena sikap dan kata-katamu tiada berarti lagi.

Sekarang, aku ingin hidup dalam kenyataan saja. Kini bagimu aku bukan siapa-siapa. Aku hanya kamu jadikan tempat persinggahan ketika kamu butuh teman cerita, dan setelahnya kamu pergi begitu saja seperti air laut.

Ah sudahlah, terlalu pedih jika terus kembali mengenang kisah yang telah berlalu, sebab apa yang sempat terlukis dalam angan, nyatanya tidak sejalan dengan pengharapan. Kamu memang benar-benar seperti lautan yang tidak bisa dipastikan gelombang pasang surutnya.

Aku bosan menunggu. Karena kamu pun tidak pernah kembali menghampiriku. Aku lelah bertahan, jika pada nyatanya keberadaanku tak pernah lagi kamu pedulikan. Bahkan aku tidak mau lagi mengejar karena langkahmu terlalu cepat untuk ku gapai, mungkin benar, kita sudah tidak pantas berjalan beriringan.

Ingin ku perumpamakan, tapi aku lelah mengumpamakan sosoknya, bosan memujinya dalam tulisan. Karena kamu memang persis sekali seperti tsunami, yang meluluh lantahkan dan membawa bencana pada banyak pihak .

Menyakitiku.bukankah itu kebiasaanmu? Membiarkan air mataku jatuh, tanpa pernah kamu peduli itu. Ini hati, bukan pasir yang dengan bebas bisa kamu injak, bukan pula gudang yang bisa kamu obrak-abrik sesuka hatimu. Ini hati yang lama sembuh karena luka yang mendalam.

Tapi terlalu bodoh, sang pemilik hati meneruskan luka itu, padahal berkali kali terjatuh dan hati kembali terluka.

Akan ku katakan berkali-kali, bahkan aku tidak sekuat karang yang tetap berdiri kokoh meski sering diterjang ombak besar, bukan pula pasir yang mampu menahan goresan luka dari ombak, karena aku tahu semua yang terlihat indah tidak selalu tampak indah. Kadang yang indah seperti gulungan ombak, membawa badai besar yang mampu menghancurkan putihnya pasir yang tak bersalah. Dan kini orang tak bersalah yang kamu libatkan, telah lelah membiarkan hatinya terus menerus dihantam kepiluan.

Sikapmu terlalu sulit untuk ku bahasakan, hingga aku ragu mempertahankan apa yang pernah sama-sama kita impikan. Hatiku telah goyah untuk memilihmu menjadi tempat menetapku. Perlahan lahan semua tujuan yang pernah ku rancang terasa sia-sia. Perjuangan untuk tetap setia disampingnya, nyatanya malah memberi luka pada hatiku.

Aku benar benar telah menyerah. Pergilah kemana pun kamu mau, tapi jangan lagi kembali mengusik duniaku. Jangan tanyakan perih yang mendera hatiku. Aku harap ikhlas akan perlahan hadir bersama waktu dan seiring kepergianmu, akan ku coba untuk kembali menata duniaku.

Ada hati yang harus ku selamatkan. Ada masa depan yang harus ku perjuangkan, juga ada kehidupan kekal yang tengah menantiku. Kehidupan abadi inilah yang mesti aku kejar.

Izinkan aku menyendiri. Setelah kamu beri banyak luka hati. Aku ingin menyepi agar kembali bangkit untuk berdiri sendiri. Menahan luka pun aku masih tak mampu. Sudah cukup dosa yang telah tertoreh, cukup sudah! untuk apapun yang telah kamu toreh, aku tidak ingin lagi mencemari pantai pasir putih yang indah. Aku sadar sekalinya ada orang masuk yang menjamah keindahannya pasti ada saja kotoran yang tertinggal. Untuk itu akan ku tata kembali keindahannya, walaupun tak akan sama lagi sebelum ada seseorang singgah dan masuk pada zona yang telah bebas dilewatinya.

Lukaku, duniaku, biarkan itu menjadi urusanku. Pergilah saja dengan langkah yang ingin kamu tuju, kamu dan aku biarlah hanya sekedar kisah yang berlalu. Tutup rapatlah dan buka lembaran baru.

****

Untuk hati yang dilanda luka, bangkitlah! karena kamu lebih indah dari sebuah pantai, dan kamu lebih putih dari sekian pasir di lautan sana.

Iklan

36 respons untuk β€˜Segemerlap Pasir Putih’

    1. terimakasih hilal achmar, terimakasih atas semangat yang kamu pacu untuk saya. saya juga berharap bisa terus berkembang begitupun juga kamu. kita bisa berkembang dibidang yang kita sukai kan πŸ™‚ kalau boleh tahu, apa yang kamu ingat tentang sosok jalaluddin Rumi? saya ingin tahu dari cara pandang seseorang yang mengaguminya. salam hangat dan selamat pagi.

      Disukai oleh 1 orang

      1. Rumi, pasti diingat oleh jutaan orang, bahkan di benua dengan tradisi Barat seperti Eropa dan Amerika. Jika anda ingin mengetahui cara pandang saya tentang Rumi jawaban saya adalah: Cara pandang Rumi! Rumi mempunyai cara pandang berbeda dengan kebanyakan manusia, dia mempunyai cara pandang sendiri tentang anak atau istri misalnya. Cara pandang sufi (ahli filsafat Islam dengan tradisi timur) dan cara pandang filosof (ahli filsafat juga, tetapi dari tradisi Barat) didasari oleh kesadaran yang tinggi. Tanpa kesadaran yang tinggi, tidak akan menghasilkan sudut pandang yang berbeda, dan tidak mungkin menghasilkan karya besar. Karya besar itu mengikuti sistem dan metodologi. Tanpa sistem dan metodologi, tidak mungkin Rumi menghasilkan karya yang monumental. Jika anda menyadari ini, anda mungkin akan memulai karya besar anda, dengan sistematika dan metodologi yang benar seperti contohnya Rumi, dalam bidang puisi dan sufi, atau Bill Gates dalam bidang software & computer. Atau seperti banyak dari tetangga kita, yang memulai dan menekuni suatu bidang hingga sukses. Selamat berkarya, semoga sukses.

        Disukai oleh 2 orang

      2. ah saya juga tadi telah menelusuri biografi mengenai jaluddin rumi. tiap bait puisinya memang sangat luar biasa. di dalamnya kaya dan sarat akan spiritual, namun hebatnya jaluddin rumi bisa menyamarkannya di sana bukan hanya pandangannya kepada islam tapi juga tentang beberapa agama besar lainnya, sehingga saat ini, karyanya bukan hanya dibacakan di mesjid tapi di tempat ibadah lainnya contohnya gereja, dan dia seseorang yang berasal dari komunitas islam, tapi sangat diterima di amerika yang notabenenya kurang menerima islam. meskipun dia telah meninggal 800 tahun yang lalu, tapi karyanya masih harum di belahan bumi manapun. saya juga berharap bisa menekuni bidang yang saya sukai saat ini, meskipun karya saya belum seberapa tapi dari setiap bait yang saya tuliskan, saya selalu mengambil inti tentang apa yang saya buat. seringkali saya kecewa terhadap karya yang saya buat, namun saya juga tidak bisa menyalahkan kemampuan, karena seseorang bisa hebat bisa dipandang dengan jam terbang dan waktu yang telah ia lalui. saya harap kamu juga tetap berkarya dan bisa sukses bersama-sama. bisakah anda memberikan tanggapan, entah itu komentar atau kritikan tentang karya saya. agar saya bisa belajar untuk lebih baik lagi.

        Disukai oleh 2 orang

      3. Saya akan memberi komentar tentang karya anda yang akan datang, setelah anda memperbesar kapasitas diri anda dengan cara pandang yang berbeda dari orang lain. Dengan begitu, saya bisa membandingkan karya anda hari ini kebelakang, dan karya yang akan anda posting setelah hari ini, kedepan. Terima Kasih.

        Suka

      4. Ya, tidak berbeda secara signifikan. Segemerlap Pasir Putih itu terlalu bertele-tele pada era digital. Siapa yang dengan sabar membaca hari ini? Pada awal posting di blog, saya juga bertele-tele. Kemudian, saya meringkas posting saya menjadi satu atau dua kalimat saja. Untuk puisi atau paparan, posting 15 – 20 kalimat saya kira moderat. Saya kira kita harus mengikuti arah dan kecepatan generasi milenial. Salam.

        Disukai oleh 1 orang

      5. Jangan bingung. Maksud saya begini: Sekarang era milennials, orang serba cepat. Dulu roman, semakin maju era, semakin ringkas ‘cerita’. Roman jadi novel jadi cerpen jadi kata mutiara jadi statement. SMS (short mesage service), WA, BBM, adalah media ‘cerita’ singkatdi era milennials. Diri dan pemikiran kita hendaknya ringkas, dan mudah diingat orang. Salam.

        Disukai oleh 1 orang

      1. Mungkin pelabuhan terakhir anda bukan di dirinya. Carilah tempat lain yang belum pernah anda jumpai, bisa saja kan dia ada di sana terselubung oleh keindahan pasir. Kalau gak keliatan gali aja siapa tahu terkubur putihnya pasir
        😁

        Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s