Perumpamaan Yang Menyayat

Jika mereka dan Dunia menampik kehadiranmu. Maka tenanglah, masih ada Ayah, yang bersuka cita hadir di sisimu.

Lelaki hebat yang sejak lama telah membuka dekapan hangatnya untukku. Cinta pertama yang aku miliki dan tiada seorang pun yang mampu menggantikannya. Dia… adalah jiwa yang bersedia memasang tubuhnya untuk makhluk mungil yang dicintainya, bagiku tiada perumpamaan untuk dirinya, karena kehebatannya semesta tunduk pada pijakannya, bumi terguncang oleh do’anya dan api membara karena kemurkaannya.

****

Seorang ayah adalah cinta pertama bagi anak perempuannya, ia memang lelaki terhebat yang tuhan ciptakan, dari perangainya yang tegas ia tanamkan kedisiplinan, dari kekuatannya ia tidak pernah mengeluh tentang peluh yang menetes di keningnya. Di balik tubuh tegapnya ia melindungi anak gadisnya dari setiap pria yang mencoba mendekati kesayangannya. Disetiap senyum yang ia tampilkan ada seribu beban yang ia sembunyikan, tanpa kata, tanpa ucapan. Kekuatan dan ketegarannya telah terpancar. Ialah salah satu kebanggaan yang ku miliki.

Screenshot_2017-12-31-18-50-11~2.png

Dia memang bukan lelaki yang romantic, tapi dia cukup menyejukkan hati dikala ada caci maki yang menghampiri. Tangannya mungkin kasar tapi selalu bisa memelukku dari kerasnya dunia. Matanya pernah menetes penuh haru saat  memandang tubuh mungil darah dagingnya. Dia bukan sosok yang mudah mengungkapkan cinta pada anaknya karena keistimewaan itulah ia malah mengungkapkan segalanya melalui teguran yang sering kali disalah artikan.

Dia tidak pandai mengurai canda tawa, karena sifat penjagaannya yang kuat dia sulit menciptakan  tawa, tapi…  dia hebat, dia luar biasa dengan segala yang ia miliki.

Dulu dia mendekapku saat kantuk mulai melanda, dia selalu menceritakannku kisah kisah hebat nabi dan para sahabatnya. Padahal, saat itu dia baru pulang dari rutinitasnya mengais rezeki, dia dengan kuat menepis segala lelah yang menderanya, demi anak yang ia sayang.

Tiap bait yang kutuliskan, aku menangis melihatnya yang telah tua renta, namun semangat hidupnya masih bergelora dan terus  mengalir diseluruh tubuhnya. Dia selalu menebar senyuman kepada mereka yang memandangnya. Dia yang selalu membangga-banggakan aku di tengah obrolan teman-temannya, menceritakan segalanya dengan senyuman, seolah-olah aku ini pantas untuk menjadi kebanggaan semua orang. Nyatanya tidak, aku rasa, belum ada satu pun hal yang bisa aku berikan untuk menghapus segala lelah yang menderanya.

Seringkali aku mengadu tentang takdir yang ku terima padanya. Dia selalu saja bisa menyejukkan hatiku dari kata makian orang di luar sana. Ia selalu menyakinkan bahwa apa yang yang mereka lihat, dan apa yang mereka katakan hanyalah kebohongan semata. Lantas, dia akan memelukku dengan erat seraya berkata “ Jika mereka dan Dunia menampik kehadiranmu. Maka tenanglah, masih ada Ayah, yang bersuka cita hadir di sisimu.”

Aku tumbuh besar dari belaian kasihmu. Namun, saat seseorang masuk, aku mulai menjauh dan sibuk dengan duniaku sendiri. Jarak pun mulai menjadi benteng di antara kita. Kalau ku tahu itu membuatmu meneteskan air mata, sungguh  ingin ku putar waktu yang telah kulewati untuk ku perbaiki. Ayah maaf, jika aku sempat menggores hatimu karena lupa akan sosokmu, maaf jika keasyikanku membuatmu terabaikan. Dan setelah sosok yang pernah menghampiri pergi meninggalkan dengan luka. Aku sadar ada banyak hal yang kulupakan tentangmu Ayah.

Memang benar kata seseorang, “ jika kamu tidak pernah bersyukur kepada allah atas setiap senyuman, maka kamu juga tidak berhak menyalahkan allah atas setiap air mata, dan sekarang aku merasa malu untuk kembali mengadu kepadamu. Setelah banyak sekali waktu yang telah kulewati dengan benteng tinggi yang entah kapan ada, menciptakan jarak di antara kita. Aku ingin sekali memelukmu ayah, namun ada rasa tidak pantas, setelah selama ini aku meninggalkanmu dan sibuk pada duniaku.

Saat perumpamaan semua orang membuat hatiku tersulut perih, aku sadar, ayah dari dulu selalu mendekap dan menutupku dari segala luka, hanya karena diriku ia menanggung perih seorang diri, dan ayahku yang berharga ini, sempat ku lewatkan. Padahal aku tahu ayah selalu setia di sampingku, tapi kenapa aku tak bisa setia dan  malah melewatkan kebersamaan kami di waktu senjanya?

Ayah, aku merasa gagal menjadi kebanggaanmu, aku merasa tidak pernah bisa membalas pengorbananmu selama ini. Telapak kaki ini menjadi saksimu mencari rezeki, menyekolahkanku, membesarkanku penuh cinta dan kesabaran. Aku ingat engkau juga seringkali mengalah untuk sekedar suapan nasi ataupun segelas minuman, dan engkau rela menahan lapar di tengah tenaga yang terkuras untuk menghidupiku, dan saat itu kita berusaha keras menjalani kehidupan di saat uang kita dalam fase tak mencukupi.

Ayah… aku tak mampu mengimbangi lantunan cintamu yang menyebar di seluruh penjuru langit gelap-Nya, engkau bisikan namaku di setiap sujudmu pada sang illahi rabbi, aku tahu ayah, engkau sangat menyayangiku lebih dari nyawamu sendiri. Engkau memang tidak banyak mengungkapkan rasa sayang, tapi rasa pedulimu sudah cukup menjelaskan bahwa aku kau anggap istimewa.

Kehadiranmu menjaga, pandanganmu meneduhkan, kedatanganmu dirindukan, dan perlindunganmu amatlah terasa. Aku merindukanmu ayah, kenapa aku baru menyadari segala pengorbanannya saat tugasmu telah usai. Ayah aku ingin berbicara banyak hal tentang kalimat cinta yang belum sempat aku sampaikan. Namun kini perumpamaan takdir membawaku ke dasar sesal yang menjerat hatiku dengan kesakitan.

****

Ayah, Dunia sudah membuatmu begitu kelelahan, semoga Allah memberkahi setiap keringatmu, semoga setiap langkahmu adalah ibadah, semoga keluarga yang engkau nahkodai bermuara di surga.

 

Iklan

30 respons untuk ‘Perumpamaan Yang Menyayat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s