Untukmu…

Untukmu yang pernah begitu sangat aku perjuangkan.

Harus aku akui, sosokmu pernah begitu sangat aku cintai. Kehadiranmu pun masih selalu aku nanti. Tetapi…. Itu dulu, tidak bisa aku pungkiri, aku menyerah dalam perjuangan ini, sebab luka hati tidak lagi mampu aku tahan sendiri.

Jika aku ingat kembali ke masa silam, saat itu, aku tidak pernah berhenti untuk berjuang. Begitu banyak hal yang telah aku korbankan, termasuk juga beragam kebodohan yang pernah aku lakukan.

Memang benar, tidak sepantasnya aku katakan demikian. Terlebih lagi, jika yang saat ini aku rasakan adalah kepingan penyesalan. Sebab, siapapun akan membandingkannya dengan makna dan ketulusan. Namun luka yang kamu berikan hanya terus menuai kepiluan.

Kamu tidak akan pernah tahu keadaan hatiku kini seperti apa jadinya. Lebih dari sekedar patah. Hancur…. Bahkan tidak ada lagi bagian yang  jelas menyimpan nama untuk seseorang  yang dulu pernah ada. Entah itu cinta, rindu, benci atau yang lainnya. Terlalu semu untuk aku rasakan.

Mencintaimu, menyayangimu, merindukanmu itu semua….

Tidak pantas aku sesalkan.

Sebab, segalanya bukanlah sebuah kesalahan.

Untukmu, iya kamu… aku menyesal, karena pernah melakukan begitu banyak kebodohan. Mencari tahu segala tentangmu diam – diam, berusaha untuk masuk ke dalam duniamu dengan beragam cara dan alasan. Mengorbankan banyak hal hanya  agar bisa menjadi sosok yang kamu harapkan, bahkan juga bertahan untuk tetap bertahan dalam keadaan yang sudah jelas begitu menyedihkan.

Salahku memang.

Tanpa sengaja pernah meninggikan mimpi,harapan, juga khayalan termasuk balasan cinta dan tempat di hatimu yang sempat aku dambakan. Kini, derai air mata sudah mulai berkurang, sebab yang tersisa hanyalah besarnya rasa penyesalan.

Pahami ini!

Suatu hari nanti, mengingatku hanya akan membuat air matamu jatuh. Sebab, aku adalah orang yang kamu tinggalkan ketika perasaannya sedang kamu tinggikan, dan rasa sesalmu bukan jadi alasan untuk hatiku kembali membuka pintu.

Memang betul, sampai saat ini rasaku belum sepenuhnya hilang untuk dirimu, tapi tak terbersit niat sedikitpun untuk kembali kepadamu. Tunggulah jika Allah sudah menjumpakan aku dengan seseorang yang memang adalah takdirku, jangankan kenangan bersamamu, dirimu saja mungkin sudah tak sudi untuk ku ingat kembali.

****

Akan ada waktunya aku memang akan terbiasa tanpamu.

Bahkan tanpa sedikitpun rasa kepadamu.

Iklan

10 respons untuk ‘Untukmu…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s