Biarkanlah Kau Jadi Anganku Yang Tak Terbalas

Part : 1

Malam hari yang indah bertabur sang permata Tuhan di Angkasa bersama sang dewi malam,semilir angin menelusup masuk ke dalam diri,ada rasa dingin yang mulai tersalurkan menerobos diam dalam jiwa.

Jam berdenting,menandakan malam kian larut,para jiwa-jiwa tinggal dalam alamnya sendiri,tetapi Aku masih setia dalam penantianku.

Sunyi seperti selimutku,hampa bagaikan alas yang setia bersamaku,dalam diam Aku memandang sebuah foto kecil,seorang Laki-laki tampan yang selalu bersemayam dalam Hati,Hatiku teriris jika mengingat kejadian silam.

Tanpa terasa Air mata telah bebas meluncur membasahi pipiku,dia orang yang ku cintai membenci diriku,bahkan Aku seperti makhluk menjijikan baginya.

Flashback on

“Ren, Aku membuatkan Cokelat untukmu, Kamu coba yah!”pintaku.

“Alah cokelat murahan seperti ini, Kamu kasih ke Aku? Tidak usah nanti Aku sakit perut!” ucap Ren ketus.

“Tapi Ren, Aku membuatnya dengan susah payah.” Ucapku

“Gua gak perduli, dan Cokelat ini cuman cocok di tempat ini!” ucapnya sambil membuang cokelat itu kedalam tong sampah.

Flashback off

Lelah mendera,tidak terasa mataku menutup, esok pagi yang cerah menyambut jiwa yang bersemangat.

Sepanjang waktuku di Sekolah, Aku tidak melihat Ren, sampai akhirnya pulangpun Dia tidak ku temukan.

Saat sampai di Rumah, Handponeku berdering,saat ku buka ternyata ada SMS.

From: Ren

“ Sei,nanti jam 2 lo masak makanan buat gua, dan sekalian bawa ke Rumah gua!”

Seketika Aku tersenyum memandang pesan itu, Aku segera melangkah menuju Dapur,tidak perlu waktu yang lama masakan telah jadi, Aku masukkan kedalam wadah, setelah semuanya cukup Aku melangkah tergesa gesa membawa ransel kesayanganku.

Langkah ku semakin cepat, ketika rintik-rintik hujan kian membasahi Bumi, “Tok…Tok…Assalammu’alaikum.” Ucapku.

Ceklek… pintu terbuka dan nampak wanita paruh baya menatapku sambil tersenyum, “Ehhh..Seila, ada apa kesini? Kok tumben.” Ucap ibunya Ren.

“Emmm…. Itu bu, Ren memintaku untuk memasak, katanya Ibu tidak ada.” Ucapku. “Ren bilang seperti itu? Padahal Ibu baru saja selesai memasak dan Ren sedang tidak ada di Rumah.” Ucap Ibu Ren.

“Ren kemana bu? Ini kan hujan, nanti Dia sakit!”ucapku khawatir, “katanya ke Toko Buku dekat taman Komplek.”ucap Ibu Ren.

Aku segera berlari keluar tanpa menghiraukan tatapan bingung Ibu Ren, dikejauhan Aku dapat melihat Ren yang tengah tertawa dengan seorang wanita.

Tawa lepas yang tidak pernah Aku rasakan dari Ren, Hatiku sakit tapi Aku tahan, Dia berbalik dan menatapku yang tengah berdiri sembari berpayung.

“Seila…………… sini!” ucapnya memerintah, Aku berjalan mendekati mereka, “Kami akan pulang, jadi kamu Seila, tolong payungi kami berdua!” ucap Ren sambil memandang Gisella.

“Aku hanya mengangguk, sebagai tanda setuju, saat diperjalanan pulang, Aku hanya bisa bersabar dan berusaha agar air mataku tidak menetes,jarak menuju Rumah Ren masih lumayan jauh, tapi badanku sudah menggigil, karena sepanjang perjalan badanku tertimpa air hujan, bajuku basah kuyup, akibat tubuhku yang tidak terpayungi.

Meskipun sakit Aku akan terus bertahan demi seseorang yang Aku cintai,bahagia dan terlindungi,sampai hembusan nafas terakhirku,Aku bersumpah akan menjadi sesuatu yang dia pinta.

Saat tiba di Rumahnya, Ren langsung melengos pergi, melihat hal itu Aku segera menyimpan masakanku di atas meja dengan harapan semoga ia memakannya, Aku pun segera melengos pergi.

Setibanya di Rumah, Aku terduduk, merenung dan menangis, Aku memang bodoh ,mempertahankan dan mencintai orang lain  yang tidak pernah bisa ku miliki.

Menggapai tapi tak pernah di dapat,Ren lihatlah kebelakang ada Aku yang tulus mencintaimu,mengapa tidak pernah kau toleh dan kau rangkul?

Aku selalu bersamamu,di sisimu dalam situasi apapun, tapi kenapa kau tidak mencoba untuk membalas dan menghargai pengorbananku, jika kau pikir itu bisa membuatku membencimu itu salah, karena rasa cintaku yang besar mengalahkan dan menutup mata, hati, dan otakku untuk membencimu.

Keesokan harinya, Aku terbangun seperti biasa menoleh pada foto kecil, memandang sosok laki-laki yang setiap detiknya Aku rindukan, sembari tersenyum memandangnya Aku bangkit untuk memulai kehidupan.

Setelah Rumah beres, dan Aku sudah rapih nan wangi, Aku duduk sembari melihat jendela di luar, terlihat jelas sepasang kekasih yang bergandengan tangan berjalan beriringan.

Hatiku iri menyaksikan pemandangan itu, menyesakkan,jika membayangkan penantianku tidak pernah terbalas.

Mungkin dalam matanya, Aku hanyalah bahan lelucon dirinya,padahal hatiku tergores saat dia mengolok-olokku,tapi tawanya yang membuatku ikhlas menjadi leluconnya.

Sampai kapan ini akan berakhir? Lama-lama Aku jengah atas sifatnya, tapi Aku beruntung, Dia mengijinkanku di sisinya, meskipun bukan sebagai kekasih tapi KACUNG.

Aku tidak pernah perduli,asalkan didekatnya dan Dia didekatku , Aku rela melakukan segala cara,Ren harus mengetahui isi hatiku,Aku segera berlari keluar menuju Rumah Ren, saat dipersimpangan jalan Aku menemui Ren yang tengah mengendarai motornya,Aku segera berdiri di tengah jalan, untuk memberhentikan Ren.

“Heh…lo bodoh atau apa sih,kalo lo ketabrak berabe urusannya!” ucap Ren emosi,”ada yang perlu Aku omongin Ren.” Ucapku bergetar, “tapi gak kaya gini caranya.” Ucap Ren.

Tiddd..tidd  tepat suara klakson di sebelah kanan dan Brukkk,Ren terjatuh tertimpa motornya seketika dia tidak sadarkan diri,dengan sedikit kekuatan dan darah yang terus mengalir di kepalaku,Aku menggucang-guncang tubuh Ren,namun naas tubuhku ikut ambruk dan semua buram tidak terlihat.

Aku mengerjap-ngerjap mataku,Aku menoleh Ren terlelap sambil dibelit kabel-kabel,hatiku terenyuh,sakit saat melihatnya menderita.

Sesaat setelah itu ada Dokter yang menghampiri,Aku dengan sigap “Dokter tolong Ren,sembuhkan Dia jikalau perlu Jiwaku yang jadi taruhannya.”

“baiklah Anda ikut saja ke ruang operasi sekarang!”ucap Dokter,”Tapi Dokter saya ingin menitipkan sepucuk surat ini untuk Ren,mungkin tidak berharga,tapi ini pesan saya untuk dia,jadi tolong Dokter berikan pesan ini untuk dia.”ucapku lirih,

Entah berapa lama Aku tertidur, mataku yang terpejam mulai terbuka dengan disambut paparan sinar matahari,ku pandang sekeliling cat putih ini.

Hingga mataku tertuju pada satu titik,di sana berdiri seorang Dokter dengan jas putih kebanggannya,Dia tersenyum sambil mendekat “Apa sudah baikan Ren?” ucap Dokter itu ramah.

Aku hanya mengangguk pertanda benar,”oh ….iya ini ada surat titipan dari temanmu.” Ucapnya menyodorkan

Seketika Aku terlonjat sahabat? Oh…Seila,”Dok sekarang Dia dimana?” ucapku sembari menahan sakit.

“Anda dapat mengetahuinya dalam surat itu.” Ucapnya berlalu. Entah dorongan darimana Aku pun segera membuka sepucuk surat itu.

From :Seila

To : Ren

Dear Ren

Mungkin saat kau terbangun,Kamu tidak melihatku di sana,bukan maksud apa-apa,tapi Aku tahu kehadiranku tidak pernah kau sambut dengan baik.

Ren, maaf jika selama ini Aku selalu mengusik hidupmu,sekarang Aku melepasmu,untuk mencari kebahagiaan yang selama ini Aku kekang,mencari seseorang yang benar-benar Kamu Cintai,Dia beruntung mendapatkan Cintamu Ren,sedangkan Aku yang mencintaimu bertahun-tahun hanya mampu bercerita dalam diam,tanpa mampu mengungkapkannya,karena Aku tahu Cintamu tidak pernah ada untukku,Kamu Ren, hanya sekelebat anganku yang tidak pernah mampu tergapai untuk sanggup ku miliki.

Ren jangan pernah cari Aku lagi,karena sampai kapanpun kamu tidak akan pernah menemukanku,walaupun begitu Aku bahagia,Kita bersama meskipun Aku akan menjadi Detak jantungmu,yang menyertai disetiap waktunya,dan sumsum tulang belakangku sebagai penyangga hidupmu.

Aku tidak pernah menyesal memberikan itu semua demi orang yang ku cinta dan itu Kamu Ren,jadi tolong terima pemberianku yang terakhir ini,sebagai kenangan dan hadiah ulang tahunmu dariku.

“Happy Birthday Ren!” sehat selalu yah bersama bagian bagian kecil diriku,jika kau rindu padaku tanyakanlah pada Hatimu,karena di sana ada Aku yang bersemayam dalam bentuk yang berbeda bahkan hanya sebagai sosok kenangan.

Terima kasih untuk semuanya,terima kasih untuk kenangannya Ren, jadikan ini sebagai simbol kenang-kenangan dari diriku untuk terakhir kalinya, Ren I Love You.

Test..tesst tidak terasa air mata jatuh membasahi pipiku,dia orang yang mencintaiku menaruhkan hidupnya untukku,yang tidak pernah sekalipun Aku hargai usahanya tapi Dia membalasku dengan harapan Hidupnya untukku.

Yang orang lain tidak mau melakukannya, dan Dia Orang yang akhir-akhir ini mengisi pikiranku pergi meninggalkanku yang sementara Cinta yang kini merekah untuknya dalam angan yang sama tanpa mampu terbalaskan dan terpisah dalam ruang waktu yang berbeda.

“Seiiillaa…….” Teriakku,namun teriak pun tidak akan pernah mampu mengembalikan Dia yang telah terlelap tidur dalam Dunia Keabadian.

Iklan