Dua Asa

Setiap detakkan tidak terasa mengiring jiwa, angin bersiur membawa dingin menerpa diri,wajah cantik bersama seorang pria berjalan bersama mengikat janji,bagai alunan melodi yang mengalun indah,masuk ke relung jiwa semarakkan hari ini.

Kau tahu, setiap dentingan waktu pikiran ini enggan teralihkan, entah esok atau lusa, jiwa tidak mau meninggalkan sosok Dia dalam benak.

Entah sampai kapan kau mengisi jiwaku? Sementara dirimu telah tinggalkan Aku sendirian.

Seberat apapun itu,berapa kali ku coba, mengapa bayangmu yang selalu mengisi relungku?

Setiap kali detakkan itu, yang ku sebut adalah  namamu,jika dulu kita ikatkan janji saling bersama,lantas kenapa harus terhenti? Sementara rasa masih ada.

Mengapa harus berjalan sendirian? Sementara angan berjalan bergandengan ?

Mengapa harus melupakan? Sementara Cinta selalu merekah dalam ruang hati.

Sementara semburat merah dalam pipiku selalu ku ingat saat kita bertemu dan kau sapaku.

Sebesar itukah Cintamu yang kau tanamkan padaku dan seluas itukah harapanku saat masih bisa mengingat tiap inci tubuhmu disaat kebersamaan itu masih terjalin.

Bagaimana bisa Aku melupakanmu? Sementara sampai detik ini angin selalu membawa aroma tubuhmu.

Memang jauh jarak pemisah namun kenapa terasa lebih dekat saat hati merasakannya.

Saat dua jiwa itu bertemu,hati ini ingin bersama namun bibirku kelu enggan rasanya untuk berkata hanya tatapan yang mampu isyaratkan.

Dulu mata teduh itu milikku yang saatku tatap tersirat rasa kerinduan,entahlah,sekarang mata itu bukanlah lagi teduh yang saat ditatap kosong tanpa rasa.

Bagaimana bisa? Sementara rindu ini selalu membuncah,semudah itukah melupakan?

Lupakah kau tentang ukiran Cinta yang pernah kita torehkan bersama?

Dua asa yang pernah hampir kita raih namun harus padam ditelan masa,bukan salahmu atau salahku Cinta ini terhenti, tapi karena masanya telah usai,kebersamaan kita ada masanya sampai perpisahan itu renggut semua keindahan.

Semburat senja telah lukiskan langit baru, sinarnya yang meredup kini warnai hampanya kesendirian,gelap kini warnai separuh jiwa,rindu kikiskan bagian ragaku.

Sumber kekuatanku kini pergi,yang dulunya bahu sandaran, kini hilang yang saat lemah dengan sedia ku genggam tangannya kini tinggal cerita.

Aku tahu waktu tidak akan pernah mampu terulang, seperti gelas pecah tidak akan pernah menjadi gelas kembali hanya kepingan kaca yang harus terbuang.

Begitupun sebuah ikatan,jika telah usai rasanya tidak akan pernah sama seperti dahulu.

Adakah angin yang mampu sampaikan rinduku,terbangkan segala mimpi dan angan yang tercipta.

Kenapa kau terpa Aku seperti ini? Duri selalu menancap dalam hati, tapi benci tidak hidup dalam hati.

Manis itu ingin ku kecap rasanya, namun tidak pernah hadir dikesendirian,sementara anganku setia dalam sosokmu yang hadir dalam tidur panjangku.

Jiwa ini telah lelah dengan ketidak adilan, dimana setiap puteri dalam dongeng mendapatkan pangeran, mengapa Aku hidup dalam suatu ketiadaan?

Rembulan pancarkan sinarnya saat gelap menyapa, Aku tak pernah mampu tuk jadi rembulan yang gagahnya menepis gelap dengan pancaran sinarnya,susah untuk menjadinya sementara kekuatan telah habis dalam masa lalu.

Guratan sedih telah tampak pada wajahku, dalam kegelisahan ini kau sempatkan bayangmu dalam mimpi.

Sampai kapan kisah ini kan terhenti, sementara masanya telah usai, masa lalu itu menghantui tidak sempatkan Aku tuk menghapusnya.

Tabir Cinta, bantulah Aku,bantu jiwaku hentikan semuanya,hentikan penderitaan yang selama ini menghiasi hatiku yang terluka.

Biarkan sejarah yang mencatatnya, bukan akalku tuk mengingatnya, hati tenang,simpan semua rasa dalam 1 masa ruang waktu.

Biarlah berubah,perpisahan memanglah menyakitkan, namun lebih baik daripada dipaksakan dan sekarang mulailah menata rindu yang baru, katakan pada masa lalu “kita adalah cerita yang telah usai.” Dua Asa telah pergi, melangkah sendiri  tuk cari kebahagiaan yang mungkin lebih indah dibanding masa lalu.

Bukannya Aku lemah atau mudah menyerah tapi bijaksana, mengerti kapan harus berhenti.