Angin Yang Berdesir

Malam kini menjemput, singsingkan senja yang kian meredup, kala dipandang kilauan siluetnya memabukkan, Angin berdesir memberi sedikit sapuan kesegaran, namun tidak jarang ia juga bisa menyesakkan setiap mata yang memandang, ya hanya hembusan kabar angin yang berdesir walau semu terkadang banyak hal yang dapat tertipu akan hal ketidak pastiannya.

Elusannya kian memuncak, beri kehangatan yang hanya sesaat, entahlah saat berdua bersamanya ada saja angin yang terhembus ke dalam hati ini, ada saja rasa khawatir yang kian membuntukan akal.

Ada rasa penasaran untuk mengetahui perasaan yang sebenarnya, kadang ada keraguan setiap kali lantunan Cintanya disampaikan, tapi pancaran ketidak yakinannya membuat rasa sakit menjalar melabuh ke ulu hati ini

Rasanya aneh setiap kali Kita bersama, Kamu selalu menampilkan sisi cuekmu, sedangkan Aku menatap dengan pandangan memuja, layaknya kucing yang disuguhi Ikan segar.

Kamu baik, bahkan terlalu baik untuk dimengerti, hanya saja ada misteri yang sedang tersembunyi, Aku Cinta, tapi Kamu entah, ditanya pun seakan enggan menjawabnya, ada tatapan kosong dibalik matamu dan selalu ada saja angin yang merubuhkan keyakinanku.

Tengah ada rasa yang Kamu sembunyikan, entah itu asam,manis ataupun pahit Kamu selalu saja timbulkan ekspresi yang sama, entah sandiwara atau apa yang sedang Kamu lakoni,yang jelas Kamu tetap saja enggan untuk berbagi.

Kadang aneh melihat tingkahmu yang seolah menutupi, kabut dan embun adalah sesosok yang berbeda dan memiliki arti yang berbeda pula, begitupun Kamu ada titik hal yang berbeda dari setiap langkahmu dan dapat dipastikan perubahan yang berbeda disetiap gerakannya.

Anehnya setiap kali berpapasan dengan Mantanmu ada aura memikat dan memabukkan serta pancaran kebahagiaan dari wajah yang kian berseri.

Selalu ada pertanyaan bercampur kekecewaan, sadar akan rasa yang masih membelenggu dirinya dan ada rasa menyesal, telah mengambil hati yang masih terikat akan hati sebelum diri ini ada serta rasa sakit, ketika Aku hanya memiliki sebagian raganya bukan hatinya.

Aku ada, Aku berdiri, Aku memiliki Cinta dan semua itu sebatas rasa, namun yang lebih sakit adalah ketidak keterbukaan Kamu menerimaku, hanya karena rasa kasihan, tapi maaf Aku tidak selemah itu Kasih.

Aku mencintai bukan untuk dipaksakan, bukan pula untuk dikasihani, karena hal ini Aku terpandang sebagai wanita kejam yang bahagia di atas keterpaksaan lelakinya, Aku tidak menyangkal rasa sakit tertoreh dari bahagia yang sepihak.

Betapa bodohnya diriku yang mencintai seseorang yang bahkan tidak mencintaiku, terlalu ambigunya Aku ketika tidak faham dengan setiap kolaborasi yang tidak menyatu, terlalu bertolak belakang untuk disatukan dan Aku hanyalah orang payah yang lemah akan perasaan.

Aku rasa mungkin melepasmu adalah yang terbaik, meski berat dan hati ini remuk redam, Aku yakin tidak akan ada lagi yang tersakiti, entah itu Aku tentang rasa yang tak terbalas ataupun Kamu tentang sebuah keterpaksaan.

Meski taruhannya adalah rasaku, tapi apa salahnya melihat bahagianya menemukan kebahagiannya sendiri yang sesaat  telah terampas oleh diriku, mungkin setelah kuletakkan pada tempat yang benar akan ada angin yang membawa harumnya kedamaian.

Semoga saja tiada hari penyesalan atas keputusan  yang telah Aku tempuh, karena Aku bisa melihat tatapanmu yang masih ingin memilikinya, maka dari itu ku kembalikan pada rumah hati yang tetap dengan kata maaf yang telah lancang menamainya dengan kata sayang, untuk terakhir kalinya dan setelah itu, Aku akan pergi menjauh dan menyusun kembali hati yang telah patah.

Angin sampaikan maaf yang tidak terhingga kepada Dia dan Kamu, Aku merasa sebagai sosok yang menghancurkan cinta keduanya, tidak kudustai mereka saling mencintai meski keadaan mereka bukanlah sepasang kekasih lagi, Aku tahu ada rasa yang sama sama kuat di dalamnya.

Biarkanlah angin yang bantu kalian kembali merajut tali dengan desiran yang sama, sebelum Kamu temui Aku, Dia memang telah ada dan kalau pun Kamu ingin kembali dengan Dia itu hakmu, akan ku serahkan dengan janji semoga bahagia memberkati kalian.

Aku mencintaimu dengan caraku, kamu tidak perlu membalas atas rasaku, karena itu juga akan menyedihkan jika Kamu paksa hatimu untukku yang tidak memiliki ruang disana, bahagialah. Dengan begitu Aku pun bisa merasakan bahagia itu melalui Kamu walaupun alasannya bukan Aku, hanya satu tekadku Kasih, Aku lepas Kamu dengan Dia, asalkan Kamu bahagia.