Di Bawah Naungan Bulan

Suatu suratan takdir ketika diri ini jatuh dalam pelukanmu merasakan cinta yang membuncah begitu hebat, anugerah Tuhan yang paling indah saat Tuhan biarkan Aku di sisimu walau mungkin hanya tuk mampu genggam sebagian tanganmu.

Cinta ini pertahankan langkahku tuk berada di sisimu, sementara mata ini tak henti memuja ciptaan sang kuasa, saat senyum manis di wajahnya, semburat kebahagiaan penuhi rongga dada ini.

Saat rasa rindu yang senantiasa hadir disetiap waktunya rasa cinta yang terukir tertanam indah di hati ini.

Berbulan bulan bahkan bertahun tahun ini tak terasa tangan ini senantiasa pada sosok pria tampan yang selalu setia menggenggam erat tangan ini.

Beri isyarat bahwa dirinya tidak akan pernah lepaskan diri ini sendirian, keeratan ini jeratkan Aku pada peluknya yang tidak akan pernah bosan ku jamah dadanya.

Yang setiap sang surya menyingsing ia lantunkan pesan pesan cinta yang menggelora, lihat betapa indahnya kebersamaan kita.

Bahkan kebersamaan ini kalahkan cerahnya sinar mentari, pandangan teduhmu itu lebih indah daripada sekeliling kota ini.

Kecupanmu pada keningku ini salurkan rasa kasih yang tiada henti mengalir, alirkan sejumlah electron yang mampu beriku tenaga tuk menjalani hari demi hari bersamamu.

Tak pernah lelah jiwa ini jikalau dirimu masih setia bersamaku karena sedalam ini  Aku menyayangimu lebih dari apapun dan tidak akan mampu dijelaskan oleh kata kata.

Karena apa? Karena Cintaku tentang rasa bukan tentang materi yang tidak akan mampu diucap Aku merasakannya bukan berfikir merasa apa.

Lihatlah bulan malam ini betapa indahnya, secerah wajahmu ketika menghadapku, berbicara denganku dengan tutur katamu yang manis luluhkan hatiku seperti es yang mencair begitu saja, entah kenapa kau selalu hadirkan tawa dalam hidupku.

Dan tak hentinya senyumku terbit untuk dirimu semua hanya untukmu, apapun itu ku usahakan dan bagiku bagaimana pun Kamu Ku tetap sayang.

Bahagiaku kian membuncah ketika janjimu selalu terngiang dalam pendengaranku yang kau bisikkan “Lusa Kita akan segera Menikah, persiapkan mentalmu untuk lihat betapa kekarnya setiap inci tubuh calon Suamimu.”

Betapa menggelikannya ucapan itu namun tak mampu tutupi juga bahwa Aku terpaku atas pembicaraan itu, selangkah lagi Kita akan lewati ke jenjang serius dan nanti Aku bukanlah kekasihnya tetapi pendamping yang telah halal menurut agama dan Negara.

Tess…. Air mata jatuh, bukan ketidak inginan tetapi keinginan yang tak lama lagi tersampaikan hidup bersama sosok yang di cinta bahkan mengarungi manis pahitnya pernikahan bersama.

Hal luar biasa yang tidak mampu terfikir dalam benak, bercampur satu dengan kebahagiaan, akan ada hal yang hilang, kebebasan tak mampu lagi jadi patokan, karena nanti ada yang mengatur, kesibukkan senantiasa bertambah yang mungkin cukup menyenangkan.

Dan semua itu akan Ku terima lapang dada, dengan senang hati serta penuh antusias, senyum yang mengembang tak pernah luntur di bibir ini.

Setiap aktifitas, kebahagiaan ini selalu ada, setiap detiknya setiap dentingan waktu ku hitung seberapa bagian yang hilang untuk hantarkan Aku pada sosok kerupawanan Ratu semalam.

Tak pernah bosan setiap hari Ku pandang kalender yang mengait menggantung indah di dinding, jiwa ini semakin semangat ketika hari hari itu kian mendekat.

Esok pagi yang indah Ku lewati, sang pujaan mengajakku untuk melihat lihat gaun penganting yang akan ku kenakan, terpampang jelas di sana gaun putih yang menjuntai indah telah siap ku kenakan di waktu yang tepat nanti.

Saat ia mendorongku untuk mencobanya, ku pegang gaun pengantar menuju peralihanku mendapat gelar seorang istri, dengan lembut ku elus  gaun itu dengan ucapan syukur tiada henti.

Rasa takjub yang menggema seakan hilangkan kehawatiran, ku pandang cermin terlihatlah pantulan diri ini yang terlihat molek dengan balutan busana menawan, mempercantik diri ini dihadapannya.

Siang ini Kami habiskan waktu bersama memandang Taman Kota yang terlihat ramai oleh Anak anak, tertawa lepas saat kekonyolan mereka menjadi jadi.

Dalam benak, siapkah Aku tuk memiliki semua hal itu? Anak kecil yang nantinya menemani hariku dan terus mengajakku bermain, hal yang menakjubkan memang.

Saat malam menyapa, hening menjemput begitu sahdunya, rasa gelisah entah kenapa ada dalam diri ini, bingung rasanya tafsirkan rasa ini.

Rasa takut kehilangan yang entah kenapa terjadi, rasa ke khawatiran yang tak tahu sebabnya, rasa perpisahan tapi kenapa?

Pagi ini ia hubungi Aku, suara merdunya sambut cerahnya Pagi ini, kata katanya yang indah mampu bangkitkan gairahku, pagi ini ia berpesan “Jaga Hati, jaga pikiran, Hari ini Aku pamit untuk membeli mahar perkawinan, nantikan kepulanganku, Aku Mencintaimu.”

Kata kata itu loloskan pikiranku, hangatkan hati, percaya bahwa semua akan berjalan secara baik baik dan kita selamanya akan bersama yang terkait oleh suatu ikatan dan lebih merekatkan kebersamaan kita lebih dari hari ini.

Guncangan apa ini? Tuhan selamatkan Dia dimanapun berada, lindungi Dia dari apa pun yang terjadi, Aku mencintainya dan sangat mencintainya, biarkan Kami pada satu kebersamaan untuk menghadapi esok.

Semua rubuh dan ini bagai tempat asing untukku, mengapa ia tidak mengabariku berjam-jam berlalu tapi tiada kabar, khawatir ini membuncah, selamatkan Dia Tuhan.

“Aku Mencintaimu.” Pesan itu baru masuk ke ponsel padahal ia mengirim semenit setelah re-rumahan rubuh, Aku meneleponnya tapi tak kunjung dapat.

Suara Ambulance penuhi sekitar pengungsian, terlihat jelas kemeja kotak-kotak bercampur darah, itu baju yang ku beri untuk Dia, tidak mungkin! dengan langkah semakin cepat, begitu pun hati yang bertanya-tanya, ku buka penutup wajah itu terpampang jelas sang Kekasih pujaan menutup mata.

Bagaimana mungkin? Di sisinya tertulis Korban Meninggal tertimpa bangunan, Tuhan Dia pergi menghadapmu, secepat itukah? Tinggalkan Diriku pada janji yang esok harus terjadi tapi kandas dilanda musibah.

Mengapa harus terjadi? Lantas pernikahan Kita? Angan-angan kita membina rumah tangga? Selangkah lagi kita raih! Kenapa Kau jemput Dia ya Rabb, jemput kekasih pujaanku.

Raga ini hampa tanpa ada lagi penyangga, tiada lagi semangat hidup Ku jalani, Cinta suci yang harus terukir ambruk tertelan takdir, tidak semudah itu melupakan cinta bertahun-tahun yang kini harus pergi selama-lamanya, Cinta tulusku kini kembali pada pelukan sang illahi, terimakasih untuk Cinta tulusmu yang setia mengalir menuju relungku.

Air mata ini tak sanggup Aku tahan, tak sanggup Aku pendam rasa sesak dalam dada,saat liang lahad terbuka untuknya, bagaimana pun selama ini ia selalu menemani hari hariku, mewarnainya bersama dalam suka cita.

Tetes demi tetes ini isyaratkan kerapuhan diri ini, karena bukan kenangan buruk yang membuatku bersedih, tapi kenangan indah yang Aku tahu, tak akan mampu terulang kembali.

Di bawah naungan bulan malam inilah saksi bisu raga pilu yang rapuh menerima takdir dan bulan inilah akhir kebersamaan terakhir kami, di sini Aku Mencintaimu.

–Selamat Tinggal kekasih pujaanku-

Iklan