Dua Asa

Setiap detakkan tidak terasa mengiring jiwa, angin bersiur membawa dingin menerpa diri,wajah cantik bersama seorang pria berjalan bersama mengikat janji,bagai alunan melodi yang mengalun indah,masuk ke relung jiwa semarakkan hari ini.

Kau tahu, setiap dentingan waktu pikiran ini enggan teralihkan, entah esok atau lusa, jiwa tidak mau meninggalkan sosok Dia dalam benak.

Entah sampai kapan kau mengisi jiwaku? Sementara dirimu telah tinggalkan Aku sendirian.

Seberat apapun itu,berapa kali ku coba, mengapa bayangmu yang selalu mengisi relungku?

Setiap kali detakkan itu, yang ku sebut adalah  namamu,jika dulu kita ikatkan janji saling bersama,lantas kenapa harus terhenti? Sementara rasa masih ada.

Mengapa harus berjalan sendirian? Sementara angan berjalan bergandengan ?

Mengapa harus melupakan? Sementara Cinta selalu merekah dalam ruang hati.

Sementara semburat merah dalam pipiku selalu ku ingat saat kita bertemu dan kau sapaku.

Sebesar itukah Cintamu yang kau tanamkan padaku dan seluas itukah harapanku saat masih bisa mengingat tiap inci tubuhmu disaat kebersamaan itu masih terjalin.

Bagaimana bisa Aku melupakanmu? Sementara sampai detik ini angin selalu membawa aroma tubuhmu.

Memang jauh jarak pemisah namun kenapa terasa lebih dekat saat hati merasakannya.

Saat dua jiwa itu bertemu,hati ini ingin bersama namun bibirku kelu enggan rasanya untuk berkata hanya tatapan yang mampu isyaratkan.

Dulu mata teduh itu milikku yang saatku tatap tersirat rasa kerinduan,entahlah,sekarang mata itu bukanlah lagi teduh yang saat ditatap kosong tanpa rasa.

Bagaimana bisa? Sementara rindu ini selalu membuncah,semudah itukah melupakan?

Lupakah kau tentang ukiran Cinta yang pernah kita torehkan bersama?

Dua asa yang pernah hampir kita raih namun harus padam ditelan masa,bukan salahmu atau salahku Cinta ini terhenti, tapi karena masanya telah usai,kebersamaan kita ada masanya sampai perpisahan itu renggut semua keindahan.

Semburat senja telah lukiskan langit baru, sinarnya yang meredup kini warnai hampanya kesendirian,gelap kini warnai separuh jiwa,rindu kikiskan bagian ragaku.

Sumber kekuatanku kini pergi,yang dulunya bahu sandaran, kini hilang yang saat lemah dengan sedia ku genggam tangannya kini tinggal cerita.

Aku tahu waktu tidak akan pernah mampu terulang, seperti gelas pecah tidak akan pernah menjadi gelas kembali hanya kepingan kaca yang harus terbuang.

Begitupun sebuah ikatan,jika telah usai rasanya tidak akan pernah sama seperti dahulu.

Adakah angin yang mampu sampaikan rinduku,terbangkan segala mimpi dan angan yang tercipta.

Kenapa kau terpa Aku seperti ini? Duri selalu menancap dalam hati, tapi benci tidak hidup dalam hati.

Manis itu ingin ku kecap rasanya, namun tidak pernah hadir dikesendirian,sementara anganku setia dalam sosokmu yang hadir dalam tidur panjangku.

Jiwa ini telah lelah dengan ketidak adilan, dimana setiap puteri dalam dongeng mendapatkan pangeran, mengapa Aku hidup dalam suatu ketiadaan?

Rembulan pancarkan sinarnya saat gelap menyapa, Aku tak pernah mampu tuk jadi rembulan yang gagahnya menepis gelap dengan pancaran sinarnya,susah untuk menjadinya sementara kekuatan telah habis dalam masa lalu.

Guratan sedih telah tampak pada wajahku, dalam kegelisahan ini kau sempatkan bayangmu dalam mimpi.

Sampai kapan kisah ini kan terhenti, sementara masanya telah usai, masa lalu itu menghantui tidak sempatkan Aku tuk menghapusnya.

Tabir Cinta, bantulah Aku,bantu jiwaku hentikan semuanya,hentikan penderitaan yang selama ini menghiasi hatiku yang terluka.

Biarkan sejarah yang mencatatnya, bukan akalku tuk mengingatnya, hati tenang,simpan semua rasa dalam 1 masa ruang waktu.

Biarlah berubah,perpisahan memanglah menyakitkan, namun lebih baik daripada dipaksakan dan sekarang mulailah menata rindu yang baru, katakan pada masa lalu “kita adalah cerita yang telah usai.” Dua Asa telah pergi, melangkah sendiri  tuk cari kebahagiaan yang mungkin lebih indah dibanding masa lalu.

Bukannya Aku lemah atau mudah menyerah tapi bijaksana, mengerti kapan harus berhenti.

Biarkanlah Kau Jadi Anganku Yang Tak Terbalas

Part : 2 End

“Seilaaaaaaaaa….”teriakku,nafasku terengah-engah seperti sedang di kejar orang lain,ku lihat diriku,memakai boxer merah dan kaos putih,ku lirik sekitar, kamarku? Apa,jadi tadi cuman mimpi? Tapi kenapa seperti nyata? Apa jangan-jangan seila benar sudah pergi.

Dengan seribu langkah Aku turun dari kamar sambil membawa kunci motor,sekarang yang ku pikirkan adalah seila,sampai Aku tidak sadar atas diriku yang belum tersentuh air sama sekali.

Tidak butuh waktu lama ,Aku telah tiba di Rumahnya, Aku segera membuka pintunya dan mencari sosok wanita yang ku cari,Aku tidak perduli orang lain menyebutku lancang atau apa, yang Aku pikir dia yang ku Cinta masih hadir dalam sosoknya yang selama ini ku kenal.

Dari kejauhan Aku dapat melihatnya,Ku dekap dia”Sei..maaf-in gua yah,ehh ralat maksudnya Maafin Aku yah,kalo selama ini Aku punya banyak salah.”ucapku tulus

Ku lihat Dia ,tapi hanya diam tidak memberikan respon sedikitpun.

Di sisi lain

“Ren? Kenapa Dia di sini? Mendekap ku? Ini bukan mimpikan,jika ini hanya mimpi Aku mohon jangan bangunkan,biarkan Aku seperti ini dalam posisi ini untuk mengecap manisnya cinta,Awws..kenapa sakit ini mendera kembali,Aduhh ada Ren lagi,Heemm”ucapku dalam hati.

“Sei…dengarkan Aku.” Dia berlutut,memeluk kakiku sambil mendongak memberikan raut wajah kasihan untuk ku iba.

“Aduhhh..rasa sakitnya semakin menjadi jadi, Aku tidak kuat.” Ucapku dalam benak.

Dutttttttt…. Tanpa aba-aba bom itu meledak tepat di muka Ren,perlahan-lahan rangkulannya melonggar dan lepas, sementara itu Aku berlari memasuki suatu ruangan ,yang entah sudah berapa kali ku masuki.

“Huft lega…”ucapku riang,”Ren? Ouh tidak!” perlahan –lahan kubuka pintu toilet dengan hati-hati, ku lihat ruang tengah,tidak ada siapapun,”mungkin Dia sudah pergi.” Ucapku tenang

Tapi tiba-tiba muncul suara dari belakang”Bagaimana sudah tuntas?Apakah meteornya sudah berjatuhan?” ucapnya dengan diiringi tawa.

“Ini minum,Aku tahu kamu sedang sakit perut tercium dari Bom-mu yang maha dahsyat itu.”ucapnya tawanya pun ikut meledak.

Mendengar hal itu Aku tertunduk malu,”maaf” ucapku.”Ia tidak apa-apa,tenang saja Aku sudah terbiasa menghirup aroma gas metana,hidungku sudah faham dan kebal bau-bau tersebut.”ucapnya sambil tersenyum.

“Sini berbaringlah!” ucapnya sambil menepuk-nepuk pahanya,Aku hanya mematuhinya dan menempatkan kepalaku di pahanya,Ku pandang ciptaan Tuhan yang sempurna itu,terlihat jelas dia memberikan minyak kayu putih ke perutku dengan telaten.

Namun tiba-tiba ponselku berdering,saat Aku ingin terbangun,Bibirku tanpa sengaja mendarat di pipinya,cukup lama kami berpandangan, fokus pada isi hati masing masing dan sibuk dalam detakan nadi yang seakan ingin pecah berdetak tak beraturan.

Aku tersadar dan menjauh,Ren tersenyum penuh arti,sementara pipiku memanas,memberikan tanda merah seperti kepiting rebus, saat ku buka ternyata bukan pesan atau telepon melainkan sebuah alarm pengingat.

Begitulah kejadian satu tahun silam yang akhirnya merekatkan kami berdua,ku sandarkan pungguku ke tepian ranjang itu, ku lirik samping kanan ranjangku,ada makhluk tampan yang tengah terlelap tidur dalam alam bawah sadarnya.

Seulas senyum terukir manis di bibirku,tidak pernah terbayang apa yang ku harapkan kini ada dalam genggaman, mencoba bersama dalam sebuah ikatan suci illahi,dan kini akan ada anggota baru keluarga kecil kami, si malaikat kecil yang meringkuk manis di rahimku.

Tapi meski begitu,Ren tidak terlihat seperti sosok pria dewasa yang akan mendapat gelar seorang Ayah,malah,Dia terlihat seperti Laki-laki remaja yang tengah duduk di bangku kuliah.

Bahkan dalam tidurnya, ia mencerminkan seperti anak kecil,disetiap tidurnya Dia akan miring ke kiri menghadapku,turun ke bawah dan memeluk pahaku,ingat, bukan diriku,kami tidak tampak seperti sepasang suami istri, malah seperti Ibu dengan Anaknya,huft memang naas.

Yang lebih menyebalkan saat di Rumah sakit ketika kami chek up untuk mengetahui perkembangan si baby,saat sedang menunggu giliran ada seorang wanita yang duduk disebelah kiri Ren.

“kak..kesininya sama mamahnya kaka yah,tante kenalin nama Aku Tasya.”ucapnya sambil tersenyum.”Apa mamahnya Ren?” ucapku dalam hati,ingin sekali ku sergahl perkataannya,tapi Dia terus berbicara.

“kak.. Tasya boleh main ke rumahnya kaka yah, tante boleh yah.”ucapnya memelas,Aku hanya memutarkan bola mataku,tanda tidak ikhlas.

“Tasya, maaf sebelumnya,yang di sebelah Aku itu bukan mamahku,tapi Istriku, sebentar lagi Aku akan menjadi seorang Ayah.” Ucap Ren

Aku yang mendengar itu tersenyum penuh kemenangan,”Apa? Jadi ini istri Kaka kok tubuhnya kaya Babon yah,ehh maaf maksudnya kaya ibu-ibu.” Ucapnya polos

Mendengar hal itu emosiku ingin rasanya meledak,dengan wajah cemberut “sayang kita pulang!” ucapku sambil menarik tangannya.

“Tapi chek upnya gimana?”ucap Ren. “Kapan-kapan.”ucapku,sesampainya di Rumah ku hentak hentakkan kakiku di lantai.

“Sayang masih marah yah,Aku minta maaf.” Ucapnya lirih,”berani-beraninya tuh cewek ganjen bilang Aku kaya babon, emang sih sedikit melar,tapi enggak kaya babon juga.”ucapku pada Ren.”Emangnya Aku kaya babon enggakkan?”tanyaku lagi.

“Iyah kamu kaya babon.”ucapnya,”iihhhh..Ren kamu jahat.”ucapku sembari ingin pergi,tapi langkahku di cegah olehnya,”dengerin dulu dong kelanjutannya.”ucapnya.

“Meski pun Kamu kaya babon atau apa pun,Aku bakal tetep cinta,kamu kayak gini juga kan gara-gara Aku,kamu inget enggak semboyan Aku,Kamu itu anget-anget ngangenin,justru tubuh kamu yang kaya gini anget dipeluk dan ngangenin pengen dipeluk terus.” Ucap Ren panjang lebar.

Aku merasa senang mendengarnya,namun segera ku tutupi, “sudahlah,mulai besok Aku mau diet.”ucapku “ihh jangan, nanti kenapa napa sama ade gimana?”ucapnya khawatir.

“Aku kasih tahu yah,Aku itu diibaratkan kanvas kosong sedangkan kamu pewarnanya yang turut mewarnai hidup Aku,jadi mau kaya apapun, kamu itu tetap cantik,karena kamu mewarnainya dan membuat hidup Aku lebih indah.”pujinya.

“Makasih ren.”ucapku memeluknya,sembari mengelus punggungku Ren menjawab”iya,sama-sama,lain kali jangan kaya gini lagi,kan udah mau punya anak,masa kaya gitu,pokonya harus lebih dewasa lagi yah.”ucapnya dan mencium puncak kepalaku.

Pagi menjelang,dengan ambisi pancaran sinarnya memancar menelusup ke dalam jendela.”Ren bangun.”ucapku yang hanya dibalas deheman darinya,”sayang bangun yu udah pagi.”ucapku lagi sambil mengguncang guncang tubuhnya namun tidak ada balasan.

Karena tidak ada balasan,ku gosokkan kepalaku di dada bidangnya dan Cupss,ku kecup tepat di bibirnya,melumatnya,mengakses setiap giginya dan berhasil,akhirnya Ren terbangun,Ku lepaskan tautan bibirku dengan menyeringai.

“Ahh… sayang,kamu nakal sudah menggodaku,ayo lanjutkan.”ucapnya, “huhh enak saja sana mandi duluan nanti Aku.”ucapku “enggak ada mandi kalo enggak ada morning kissnya.”ucapnya sambil memonyong-monyongkan bibirnya.

Cupss..”udah,sana mandi!” ucapku, “sayang kecepetan kamu mah,iya Aku mandi,tapi lebih bagus kalo kita mandi bareng.”ucap Ren jail sambil menggendongku.

“Ren..turunin Aku,nanti Aku mandi kalo kamu sudah.” ”Tidak ada penolakan, kan biar cepet, itung-itung menghemat waktu.”ucapnya tertawa.

Tuhkan Kamu itu modus,katanya menghemat waktu,lihat jam,tadi kita di toilet sampai satu jam tahu.”ucapku jengkel, “Ya lagian kamu sih,enggak ngasih Aku jatah,Aku juga cape puasa terus.”ucapnya.

“Kasian tahu adek, masa kamu enggak kasian sama Dia.”ucapku sambil mengelus-ngelus perutku yang datar.

“Adek enggak bakalan kenapa-kenapa,justru Dia seneng kalau di jengukin Ayahnya.”ucapnya Pede,”pokonya nanti malam Aku tagih,dan Aku pastikan Kamu bakal Aku ajak ke Surga yang ke tujuh.”timpalnya kembali.

“Ihhh..dasar mesum.”namun tidak ku pungkiri Aku juga merindukan belaian dan setiap inci tubuhnya, “Cieee..yang malu malu rindu sama Aku.”ucapnya, tidak terasa tawa kami pun pecah, beginilah kebahagiaan di pagi hari,karena bahagia itu sederhana,sesederhana untuk saling berbagi entah itu manis ataupun pahit.

Aku memandangmu tanpa perlu menatap,Aku mendengarmu tanpa perlu alat,Aku menemuimu tanpa perlu hadir,Aku mencintaimu tanpa perlu apa-apa karena kini ku miliki segalanya dan bersama Kamu, Aku tidak pernah takut lagi untuk menjadi seorang yang pemimpi.

Biarkanlah Kau Jadi Anganku Yang Tak Terbalas

Part : 1

Malam hari yang indah bertabur sang permata Tuhan di Angkasa bersama sang dewi malam,semilir angin menelusup masuk ke dalam diri,ada rasa dingin yang mulai tersalurkan menerobos diam dalam jiwa.

Jam berdenting,menandakan malam kian larut,para jiwa-jiwa tinggal dalam alamnya sendiri,tetapi Aku masih setia dalam penantianku.

Sunyi seperti selimutku,hampa bagaikan alas yang setia bersamaku,dalam diam Aku memandang sebuah foto kecil,seorang Laki-laki tampan yang selalu bersemayam dalam Hati,Hatiku teriris jika mengingat kejadian silam.

Tanpa terasa Air mata telah bebas meluncur membasahi pipiku,dia orang yang ku cintai membenci diriku,bahkan Aku seperti makhluk menjijikan baginya.

Flashback on

“Ren, Aku membuatkan Cokelat untukmu, Kamu coba yah!”pintaku.

“Alah cokelat murahan seperti ini, Kamu kasih ke Aku? Tidak usah nanti Aku sakit perut!” ucap Ren ketus.

“Tapi Ren, Aku membuatnya dengan susah payah.” Ucapku

“Gua gak perduli, dan Cokelat ini cuman cocok di tempat ini!” ucapnya sambil membuang cokelat itu kedalam tong sampah.

Flashback off

Lelah mendera,tidak terasa mataku menutup, esok pagi yang cerah menyambut jiwa yang bersemangat.

Sepanjang waktuku di Sekolah, Aku tidak melihat Ren, sampai akhirnya pulangpun Dia tidak ku temukan.

Saat sampai di Rumah, Handponeku berdering,saat ku buka ternyata ada SMS.

From: Ren

“ Sei,nanti jam 2 lo masak makanan buat gua, dan sekalian bawa ke Rumah gua!”

Seketika Aku tersenyum memandang pesan itu, Aku segera melangkah menuju Dapur,tidak perlu waktu yang lama masakan telah jadi, Aku masukkan kedalam wadah, setelah semuanya cukup Aku melangkah tergesa gesa membawa ransel kesayanganku.

Langkah ku semakin cepat, ketika rintik-rintik hujan kian membasahi Bumi, “Tok…Tok…Assalammu’alaikum.” Ucapku.

Ceklek… pintu terbuka dan nampak wanita paruh baya menatapku sambil tersenyum, “Ehhh..Seila, ada apa kesini? Kok tumben.” Ucap ibunya Ren.

“Emmm…. Itu bu, Ren memintaku untuk memasak, katanya Ibu tidak ada.” Ucapku. “Ren bilang seperti itu? Padahal Ibu baru saja selesai memasak dan Ren sedang tidak ada di Rumah.” Ucap Ibu Ren.

“Ren kemana bu? Ini kan hujan, nanti Dia sakit!”ucapku khawatir, “katanya ke Toko Buku dekat taman Komplek.”ucap Ibu Ren.

Aku segera berlari keluar tanpa menghiraukan tatapan bingung Ibu Ren, dikejauhan Aku dapat melihat Ren yang tengah tertawa dengan seorang wanita.

Tawa lepas yang tidak pernah Aku rasakan dari Ren, Hatiku sakit tapi Aku tahan, Dia berbalik dan menatapku yang tengah berdiri sembari berpayung.

“Seila…………… sini!” ucapnya memerintah, Aku berjalan mendekati mereka, “Kami akan pulang, jadi kamu Seila, tolong payungi kami berdua!” ucap Ren sambil memandang Gisella.

“Aku hanya mengangguk, sebagai tanda setuju, saat diperjalanan pulang, Aku hanya bisa bersabar dan berusaha agar air mataku tidak menetes,jarak menuju Rumah Ren masih lumayan jauh, tapi badanku sudah menggigil, karena sepanjang perjalan badanku tertimpa air hujan, bajuku basah kuyup, akibat tubuhku yang tidak terpayungi.

Meskipun sakit Aku akan terus bertahan demi seseorang yang Aku cintai,bahagia dan terlindungi,sampai hembusan nafas terakhirku,Aku bersumpah akan menjadi sesuatu yang dia pinta.

Saat tiba di Rumahnya, Ren langsung melengos pergi, melihat hal itu Aku segera menyimpan masakanku di atas meja dengan harapan semoga ia memakannya, Aku pun segera melengos pergi.

Setibanya di Rumah, Aku terduduk, merenung dan menangis, Aku memang bodoh ,mempertahankan dan mencintai orang lain  yang tidak pernah bisa ku miliki.

Menggapai tapi tak pernah di dapat,Ren lihatlah kebelakang ada Aku yang tulus mencintaimu,mengapa tidak pernah kau toleh dan kau rangkul?

Aku selalu bersamamu,di sisimu dalam situasi apapun, tapi kenapa kau tidak mencoba untuk membalas dan menghargai pengorbananku, jika kau pikir itu bisa membuatku membencimu itu salah, karena rasa cintaku yang besar mengalahkan dan menutup mata, hati, dan otakku untuk membencimu.

Keesokan harinya, Aku terbangun seperti biasa menoleh pada foto kecil, memandang sosok laki-laki yang setiap detiknya Aku rindukan, sembari tersenyum memandangnya Aku bangkit untuk memulai kehidupan.

Setelah Rumah beres, dan Aku sudah rapih nan wangi, Aku duduk sembari melihat jendela di luar, terlihat jelas sepasang kekasih yang bergandengan tangan berjalan beriringan.

Hatiku iri menyaksikan pemandangan itu, menyesakkan,jika membayangkan penantianku tidak pernah terbalas.

Mungkin dalam matanya, Aku hanyalah bahan lelucon dirinya,padahal hatiku tergores saat dia mengolok-olokku,tapi tawanya yang membuatku ikhlas menjadi leluconnya.

Sampai kapan ini akan berakhir? Lama-lama Aku jengah atas sifatnya, tapi Aku beruntung, Dia mengijinkanku di sisinya, meskipun bukan sebagai kekasih tapi KACUNG.

Aku tidak pernah perduli,asalkan didekatnya dan Dia didekatku , Aku rela melakukan segala cara,Ren harus mengetahui isi hatiku,Aku segera berlari keluar menuju Rumah Ren, saat dipersimpangan jalan Aku menemui Ren yang tengah mengendarai motornya,Aku segera berdiri di tengah jalan, untuk memberhentikan Ren.

“Heh…lo bodoh atau apa sih,kalo lo ketabrak berabe urusannya!” ucap Ren emosi,”ada yang perlu Aku omongin Ren.” Ucapku bergetar, “tapi gak kaya gini caranya.” Ucap Ren.

Tiddd..tidd  tepat suara klakson di sebelah kanan dan Brukkk,Ren terjatuh tertimpa motornya seketika dia tidak sadarkan diri,dengan sedikit kekuatan dan darah yang terus mengalir di kepalaku,Aku menggucang-guncang tubuh Ren,namun naas tubuhku ikut ambruk dan semua buram tidak terlihat.

Aku mengerjap-ngerjap mataku,Aku menoleh Ren terlelap sambil dibelit kabel-kabel,hatiku terenyuh,sakit saat melihatnya menderita.

Sesaat setelah itu ada Dokter yang menghampiri,Aku dengan sigap “Dokter tolong Ren,sembuhkan Dia jikalau perlu Jiwaku yang jadi taruhannya.”

“baiklah Anda ikut saja ke ruang operasi sekarang!”ucap Dokter,”Tapi Dokter saya ingin menitipkan sepucuk surat ini untuk Ren,mungkin tidak berharga,tapi ini pesan saya untuk dia,jadi tolong Dokter berikan pesan ini untuk dia.”ucapku lirih,

Entah berapa lama Aku tertidur, mataku yang terpejam mulai terbuka dengan disambut paparan sinar matahari,ku pandang sekeliling cat putih ini.

Hingga mataku tertuju pada satu titik,di sana berdiri seorang Dokter dengan jas putih kebanggannya,Dia tersenyum sambil mendekat “Apa sudah baikan Ren?” ucap Dokter itu ramah.

Aku hanya mengangguk pertanda benar,”oh ….iya ini ada surat titipan dari temanmu.” Ucapnya menyodorkan

Seketika Aku terlonjat sahabat? Oh…Seila,”Dok sekarang Dia dimana?” ucapku sembari menahan sakit.

“Anda dapat mengetahuinya dalam surat itu.” Ucapnya berlalu. Entah dorongan darimana Aku pun segera membuka sepucuk surat itu.

From :Seila

To : Ren

Dear Ren

Mungkin saat kau terbangun,Kamu tidak melihatku di sana,bukan maksud apa-apa,tapi Aku tahu kehadiranku tidak pernah kau sambut dengan baik.

Ren, maaf jika selama ini Aku selalu mengusik hidupmu,sekarang Aku melepasmu,untuk mencari kebahagiaan yang selama ini Aku kekang,mencari seseorang yang benar-benar Kamu Cintai,Dia beruntung mendapatkan Cintamu Ren,sedangkan Aku yang mencintaimu bertahun-tahun hanya mampu bercerita dalam diam,tanpa mampu mengungkapkannya,karena Aku tahu Cintamu tidak pernah ada untukku,Kamu Ren, hanya sekelebat anganku yang tidak pernah mampu tergapai untuk sanggup ku miliki.

Ren jangan pernah cari Aku lagi,karena sampai kapanpun kamu tidak akan pernah menemukanku,walaupun begitu Aku bahagia,Kita bersama meskipun Aku akan menjadi Detak jantungmu,yang menyertai disetiap waktunya,dan sumsum tulang belakangku sebagai penyangga hidupmu.

Aku tidak pernah menyesal memberikan itu semua demi orang yang ku cinta dan itu Kamu Ren,jadi tolong terima pemberianku yang terakhir ini,sebagai kenangan dan hadiah ulang tahunmu dariku.

“Happy Birthday Ren!” sehat selalu yah bersama bagian bagian kecil diriku,jika kau rindu padaku tanyakanlah pada Hatimu,karena di sana ada Aku yang bersemayam dalam bentuk yang berbeda bahkan hanya sebagai sosok kenangan.

Terima kasih untuk semuanya,terima kasih untuk kenangannya Ren, jadikan ini sebagai simbol kenang-kenangan dari diriku untuk terakhir kalinya, Ren I Love You.

Test..tesst tidak terasa air mata jatuh membasahi pipiku,dia orang yang mencintaiku menaruhkan hidupnya untukku,yang tidak pernah sekalipun Aku hargai usahanya tapi Dia membalasku dengan harapan Hidupnya untukku.

Yang orang lain tidak mau melakukannya, dan Dia Orang yang akhir-akhir ini mengisi pikiranku pergi meninggalkanku yang sementara Cinta yang kini merekah untuknya dalam angan yang sama tanpa mampu terbalaskan dan terpisah dalam ruang waktu yang berbeda.

“Seiiillaa…….” Teriakku,namun teriak pun tidak akan pernah mampu mengembalikan Dia yang telah terlelap tidur dalam Dunia Keabadian.

Malaikat Kecilmu

            Hari berlalu begitu saja, mentari mulai bersinar menerangi alam semesta, semilir angin berhembus menerpa memberikan rasa segar kepada setiap jiwa, manusia menyongsong rutinitasnya, untuk apa kekuatanmu? Untuk kau gunakan apa? Apakah untuk seseorang yang meringkuk di dalam sana?
             Senyummu kini menentramkan hariku, aku merasakannya bu, meskipun aku kecil dan belum sempurna untuk menjadi makhluk bumi, tapi Aku dapat merasakan senyumanmu, saat itu Aku sangat ingin sekali tertawa bersamamu,tetapi aku sadar masih banyak proses yang menanti untuk siap hidup di Bumi.
              Saat Kau menangis, Aku ingin sekali mendekapmu dan berkata “Ibu jangan menangis, ada aku yang akan selalu melindungimu dan berada di sisimu,jangan khawatir bu Aku akan menjadi jagoan kecil yang akan membuatmu selalu tersenyum.” Ingin sekali tanganku menggapainya, namun tangan mungilku belum bisa sampai untuk membelainya dan mulutku belum bisa untuk berkata “Aku menyayangimu bu dan aku beruntung bisa tinggal di rahimmu.”
            Kakiku menendang-nendang perutmu bu, bukan berarti aku memberontak, Aku hanya ingin kau ajakku berbicara Bu, tapi kenapa kau tidak pernah mengajakku berbicara kepadaku bu? Sekedar mengelus perutmu saja tidak pernah? Sebegitu bencikah kau kepadaku bu? Apa salahku bu yang membuatmu marah?
              Suatu hari kau bertengkar dengan seorang lelaki, yang kau sebut sebut sebagai Ayahku, bahagiannya Aku memiliki Orang Tua yang lengkap, tapi kenapa kau menangis bu? Apa yang ia perbuat kepadamu? Setiap kali kau menangis, Aku dapat merasakan kesedihanmu, jangan bersedih bu , karena bukan kau saja yang merasakan sakit itu, tapi aku juga dapat merasakan perihnya, jadi jangan beranggapan kau sendiri bu, Aku selalu bersamamu.
              “ kau harus bertanggung jawab Rey!”, ucap ibuku, “untuk apa Aku bertanggung jawab,Aku tidak pernah mencintaimu, Kau hanya pelampiasanku saja, dan Aku tidak pernah berharap dia lahir dari rahimmu!” ucapnya sinis.
               “Tapi kau lihatkan sebentar lagi dia akan lahir, apakah kau tidak kasian dengannya, lahir tanpa seorang ayah?” jawab ibu sembari mengelus perutnya, “ Aku tidak perduli hal itu” jawab  ayahku , “ kalau kau tidak perduli denganku, setidaknya kau perdulikan anakmu Rey!” ucap ibu sembari menangis, “ DIA BUKAN ANAKKU” ujarnya sembari melengos pergi.
                Ibu menangis dengan kencangnya, ia memukuli aku yang berada di perutnya, “kenapa ibu memukuliku? Apa aku berbuat salah? Jika ia aku meminta maaf, tolong hentikan bu rasanya sakit.” Akhirnya ibu tidak memukuliku lagi, mungkin ia sudah lelah dan telah terlelap tidur.
                Keesokan harinya ibu pergi entah kemana, aku merasakan dia yang berjalan dengan tergesa-gesanya, saat ia telah sampai di tujuannya, Aku dapat mendengar sayup sayup ibu yang sedang berbicara dengan seseorang.
                “Dok, apa bisa dilakukan sekarang?” ucapnya bertanya, “apa anda yakin akan melakukannya? Apa Anda tidak akan menyesal?” ucap seorang wanita bertanya kepada ibuku, “Saya tidak akan menyesal dok.” Ucap ibuku, “ silahkan anda berbaring disana!” ujar sang dokter.
                 Seketika Aku merasa badanku semuanya sakit, kakiku seperti di tarik tarik oleh sesuatu tapi entah apa, Aku tidak mengerti, setelah itu badanku terus diguncang-guncang dan di tarik, “Ibu……. Tolong Aku, Aku merasa sakit badanku, Ibu tolong Aku ia menarik narik badanku.” Kaki ku terputus ia menarik kembali badanku “Ibu tolong kakiku hilang, ibu kenapa kau tidak menghentikannya, Aku kesakitan bu, tolong hentikan, Aku meminta maaf jika selalu berbuat salah, selalu membuatmu lelah atas diriku.”
                 “ Ibu leherku seperti ingin putus dari kepalaku, ibu kepalaku berdenyut seperti ingin pecah,Ibu hentikan, ibu tolong A…KKKK..U.” Dan semuanya pun menjadi gelap.
                Tiba tiba Aku terbangun, aku melihat sekelilingku sangat indah, ada seorang anak lelaki sepertiku memhampiri diriku,”hai selamat datang di alam baru” ucapnya, “Alam mana? Dimana ibuku?” ucapku bertanya padanya.
                “Dia tersenyum kepadaku, kau harus terbiasa hidup di sini tanpa ibumu, kau dan aku sama, kita harus bisa terbiasa hidup di sini, Ibumu tidak menyayangimu dia membunuhmu dan mengirimmu ke tempat indah ini, dia tidak mengharapkanmu tapi tenang disini kau tidak sendirian ada aku dan teman yang lain serta tuhan yang sangat dekat dengan kita” ujarnya  lirih.
                  “Tapi Ibuku sendirian, siapa yang menjaganya,melindunginya dan menemaninya? Dia pasti kesepian.” Ucapku sembari menangis. Temanku pun membiarkan aku sendiri untuk menenangkan diri.
                   Tiba tiba ada seberkas cahaya yang sangat terang, “pergilah masuk sayang,bermainlah bersama teman yang lain, nikmatilah surga yang aku ciptakan, berbahagialah dan hidup kekal di dalamnya.”
                  “Tapi Tuhan bagaimana Aku bisa bahagia, sementara Ibuku di Bumi sedang kesepian,tidak ada yang menemani.”ucapku, “jangan khawatir sayang, Aku akan selalu melindungi umatku di bumi, dan memberikan kebahagian kepada setiap makhlukku, masuklah jemputlah kebahagiaan kekalmu di sini, Aku sangat dekat denganmu sekarang, wahai umatku yang suci.” Ucapnya tersenyum.
                   Aku pun memasuki tempat itu yang bak istana, sambil berkata, “ Jika Aku bisa, ingin sekali Aku mengajak ibu ke sini, lihatlah di sini sangat indah ada sungai yang mengalir, indah sekali bu, benarkah ibu tidak menyayangiku? Ibu pasti menyayangikukan? Sehingga ibu mengirimku ke tempat yang sangat indah ini, tapi ibu maafkan Aku, karena aku tidak bisa menjagamu,menemanimu saat kesepian, padahal aku ingin sekali memandang dan membelai wajahmu menyelipkan rasa hangat pada tubuhmu,menghapus setiap air mata yang meluncur bebas dari matamu, tapi harapanku tidak bisa jadi kenyataan bu, kita sudah berbeda alam,takdir Tuhan memisahkan kita, tapi ibu tidak usah khawatir, di sini Aku sangat bahagia, dan aku akan selalu mendo’akanmu supaya Tuhan memberikan kebahagian yang melimpah kepadamu, menjagamu, dan selalu menemanimu, maafkan Aku bu yang memberikan rasa lelah kepadamu, semoga Ibu di bumi selalu tersenyum, ibu akan selalu menjadi Ibu yang sangat aku sayangi, Aku sangat senang pernah hadir di dalam rahimmu, meskipun hanya sebentar, Sekali lagi maafkan Aku yang telah gagal menjadi Malaikat kecilmu bu.”

 

Jangan Biarkan Aku Sendiri

Awan menghitam,rintik rintik hujan ikut berhamburan mengiringi langit,angin pun menjadi saksi kebisuan pagi hari, matahari tampak malu-malu menampakkan cahaya keabadiannya, cahaya pengharapan semua umat.
Hari ini aku terbangun dengan malasna, dengan mata yang berkunang kunang setengah menutup, aku memaksakan diri menapaki lantai untuk bersiap ke sekolah.
Hem masih sepi, inilah kebiasaan rumahku di pagi hari,semua sibuk dalam kegiatannya masing-masing, “Bu…” dengan kerasnya aku berteriak, tidak ada jawaban mungkin tidak terdengar.
Sekali lagi Aku berteriak “Ibu…. Aku berangkat sekolah dulu yah.” namun tetap tidak ada jawaban, Aku pun berangkat dengan tergesa-gesa karena waktu semakin berlalu.
Sendiri, itulah setiap hal yang aku rasakan, hening , sepi, itulah pil pahit yang setiap hari aku dapatkan,tidak terasa aku telah tiba di sekolah, di sana Aku memandang sekeliling,betapa bahagianya mereka yang memiliki teman, bercengkrama dengan hangat,tertawa tanpa beban.
Namun apa daya Aku yang selalu ditakdirkan digaris kesendirian,hanya mampu diam dan termenung,Siang telah berlalu,aku telah pulang dari sekolah,rumah masih sepi,detik demi detik berlalu tapi tetap tidak ada perubahan, tetap sepi bahkan lebih seram dari kuburan.
Ceklek,Tampak suara pintu terbuka, Aku mencari sumber suara itu, dan tampaklah Ibu dibalik pintu,Aku berlari dan segera memeluknya dengan berkata “Ibu darimana saja ?Aku kesepian bu.” ucapku
“Ibu pulang bekerja, kenapa kamu kesepian?kamu kan sudah biasa ibu tinggal nak.” ucapnya, aku membalas perkataannya “tapi Bu, Aku juga ingin berlama lama dengan ibu,ada kalanya aku bosan untuk ditinggal dan sendirian.”
“Tapi ibu juga seperti ini membantu ayahmu untuk mencari uang, ini juga untuk masa depanmu,sudah cukup nak, ibu sudah lelah,ibu ingin beristirahat di kamar.”aku hanya mampu melihat punggung ibuku semakin menjauh.
Tidak lama ayah pulang, aku sangat antusias melihatnya, kali ini mereka tampak pulang lebih cepat, aku meneriakinya “Ayah…..” ucapku, tapi beliau tidak membalasnya,bahkan menolehpun seperti enggan, ia malah memasuki ruang kerjanya tanpa memperdulikan aku yang sedang mematung manahan tangis.
ibu…ayah….,andai kalian tahu aku selalu menantikan pelukan kalian,pelukan yang sama saat aku kecil, yang kalian terus peluk dengan erat, mengajakku berbicara dan bermain bersama, andai waktu bisa ku ulangi, aku berharap selalu menjadi makhluk kecil yang tangannya selalu kalian genggam.
Aku tahu kalian menyayangiku dan memprioritaskan masa depanku, tapi bukan berarti kalian mengacuhkanku seperti hal yang tidak penting, tapi yang aku harapkan kalian bisa menjadi saksi perkembangan usiaku, Ayahhh…. Ibu…., dengarlah tumbuh kembangku semkin cepat, tidak lama lagi aku akan menjadi sosok yang lebih dewasa.
Hari hariku bersama kalian akan semakin berkurang, akan ada kalanya, seseorang mengajakku untuk hidup bersama disitulah kita akan berpisah jarak dan jarang bertatap muka secara langsung.
Yah minimalnya, kalian meluangkan waktu untuk mengajakku berbicara dan bercerita,jangan simpan aku dalam ruang hampa ini, di situasi yang tidak pernah untuk dibayangkan, malam harinya, kami berkumpul di ruang keluarga, aku harap kami bisa bercerita dan menghadirkan suasana yang hangat.
seketika anganku ambruk, senyumku memudar ketika Aku lihat orang tuaku masih berkutik dengan laptop dihadapan mereka, tanpa menghiraukan Aku yang sedari tadi mennggunya mengajakku berbicara dan membangun suasana.
Aku ragu untuk mengajak mereka berbicara,karena Aku lihat cukup banyak map yang sedang mereka kerjakan,dentinga jam kian menyeruak di ruangan bagai melodi yang mengiringi,sekian lama Aku nantikan, tapi tetap tidak ada yang bersuara,akhirnya Aku memberanikan diri untuk memulai suara.
Dengan ragu Aku bertanya pada mereka “Ayah….Ibu……..apakah Aku anak yang kalian harapkan?”
Mereka pun menoleh kepadaku “Apa-apaan Kamu berkata seperti itu?Kamu adalah anak yang Ibu dan Ayah harapkan,Ibu dan Ayah bekerja demi kamu! ucap ibu dengan penuh penekanan.
“Tapi Ibu dan Ayah bersikap seolah-olah Aku tidak pernah diharapkan,Aku selalu diabaikan,dan kalian lebih memprioritaskan pekerjaann kalian daripada melihat masa-masa emasku.”ucapku terisak.
“Hey,Kamu itu anak yang tidak diuntung hah,Kamu mau jadi anak durhaka?Kamu di sekolahkan bukannya jadi orang pintar,malah jadi orang yang melawan orang tua.”
“Dengarkan Aku Yah,bukannya Aku bermaksud durhaka tapi Aku hanya ingin ada waktu luang untuk setiap ivent sekolah, kalian menyaksikanku,Aku menjadi juara kelas itu agar kalian bangga kepada Ku.”ucapku
PLAKK, seketika tamparan itu mendarat di pipi mulusku,”sekali lagi Kamu berkata, saya akan bunuh Kamu sekarang juga.” ucap Ayahku dengan penuh amarah.
Ku tatap ibuku dengan mata sendu penuh dengan air mata, tapi ia hanya menyaksikan tanpa berkutik untuk melindungiku, Ayahku berkata lagi “Kau lihat ,apa ini yang disebut Anak kita,jika Aku tahu Dia akan menjadi Anak yang seperti ini,seharusnya Dia digugurkan sebelum terlahir seperti ini.”
Hatiku seperti tertusuk tusuk oleh pisau belati,tidak menyangka Ayahku akan berkata seperti itu,”Apakah Aku sangat buruk? sampai Ayahku menyesali kehadiranku.” tanyaku dalam benak.
Tiba-tiba Ayahku menarik pergelangan tanganku, Dia menyiramku dengan air hingga badanku basah kuyup,Aku pun ia kurung di WC. Aku berteriak-teriak memanggil Ibu,namun terdengar oleh ku,Ayah memerintahkan Ibu untuk tidak membukakan pintu sebagai hukuman.
Sekali lagi Aku berteriak “Ibu Aku kedinginan,”namun sayang usahaku tetap sia-sia.Air mataku terus meluncur tanpa bisa ditahan,setega dan sekejam inikah,mereka menghukumku tanpa makanan dan minuman untukku.
Sampai akhirnya tangisku terhenti,Aku merasa kepalaku pening dan semua kian gelap tidak terlihat,hingga pagi pun tiba, Ibu meneriakkiku dari luar, Aku mendengarnya tapi mataku enggan untuk terbuka,sebenarnya Aku ingin berkata “ibu Aku kedinginan,Aku ingin kehangatan dari pelukanmu bu.”
Namun semua terasa sulit untuk diucapkan,Ibuku semakin khawatir dan memanggil Ayah,Ibu menyuruh Ayah untuk mengeluarkanku dari WC itu, saat pintu terbuka Ayah dan Ibu kaget melihatku dalam keadaan terlelap dengan muka pucat pasi.
Kepalaku semakin sakit,tapi Aku mampu merasakan Ibu yang sedang menangis memanggil-manggil namaku.Ingin sekali Aku memeluknya,menghapus air matanya dan berkata “Aku baik baik saja bu.”namun susah sekali pergi ke alam kesadaranku.
sakit itu semakin menjadi jadi,Tuhan jika umurku sampai di sini,biarkan Aku memandang wajah Ibu dan Ayahku.Entah dorongan darimana,Aku pun tersadar dan menatap kedua orang tuaku,terlihat kepanikan dari air mata yang mengalir deras.
Raut wajah mereka senang saat melihatku sadar,mereka meminta maaf dan berjanji selalu di sisiku,begitupun juga Aku yang meminta maaf dengan senyuman yang mengembang “Ayah….Ibu jangan biarkan Aku sendiri lagi.”