Tetesan Air

Sepi yang membunuh, membuat diri terkutuk dalam kerapuhan jiwa, menyesap rindu yang kian mengekang, menjerat diri dalam lubang kegagalan, menyebar rindu tidak pasti yang tak tahu arah mengarahnya.

Kini tak perlu berkata kata, langit Malam ini telah menuliskan sebaris rindu untukmu melalui rintik hujan yang jatuh tepat di depan kamarmu.

Bukankah ini suatu pembuktian bahwa rinduku hadir menyelimuti diri yang jelas jelas ku tahu, bahwa kamu tidak pernah menginginkan keberadaanku, sekeras itu kah hatimu? Bahkan air hujan pun tahu hingga luluh dengan rintikan air yang jatuh tepat menghiasi kepedihan ini.

Sungguh bingung berada di situasi yang sangat melelahkan ini dengan beribu ribu rindu yang ku lepaskan untukmu, kamu hanya menatapnya dengan lirikan tajam, seakan membunuhku dengan tusukan belatimu yang begitu tajam, hingga akhirnya ku pasrahkan rinduku dengan sekelebat bayangnya, menatap nanar tubuhnya yang kian menjauh, menghilang, tertelan kegelapan.

Kenapa Aku masih rindu kepada seseorang yang telah lama pergi? Kenapa Aku masih cinta kepada seseorang yang telah jelas menyakiti? Kenapa Aku masih mengharapkan Dia yang benar tidak akan pernah kembali?

Jika di jalan itu ia begitu tega meninggalkanmu, di sini ada Aku yang bergegas melakukan apapun demi semua kebaikan dan kebahagiaanmu, lantas apa yang membuatmu enggan menolehku? Berhentilah mengedepankan egomu, jelas jelas ada Aku yang akan menyambutmu dengan berhamburan pelukan hangatku.

Hanya satu yang Kita butuhkan, Kita hanya perlu bertemu agar segalanya lekas membaik percayalah, merindukanmu itu tak semudah menulis kalimat yang kamu baca ini, bacalah dengan seksama tiap penggalan kata yang selalu memanggil manggil namamu dengan sejuta kerinduan yang hanya kamu balas dengan rintik hujan yang tiap hari menemani sepiku.

Segila gilanya rindu, mungkin itu milikku, buah Cinta sebelah tangan dari tegur sapa yang tidak pernah Kamu perdulikan.

Lihatlah ketika senja jingga digantikan Malam purnama, akan ada masa dimana rasa lelah bekerja berubah menjadi rindu yang amat menyiksa.

Rindu yang amat menyiksa ketika bayangmu selalu ada menghiasi diri ini, ada banyak sekali yang ingin Aku ceritakan padamu saat bertemu nanti, tentang panasnya Matahari di Kotaku dan tentang rindu yang hebat sanggup meluluh lantahkan hatiku.

Yang saat ini Aku pertanyakan, akankah Kamu mau menemuiku? Memberantas rasa sepi yang menggerogoti, memelukku dengan pelukan hangat bersama jutaan senyum manismu, tapi mungkin itu hanyalah sekedar mimpi yang fatamorgana.

Ku tengadahkan wajah kepada langit gelap, Malam rebahlah sesaat lagi, sajakku belum selesai menyelimuti sekujurnya, agar ia terlelap dengan kehangatan rindu dari tiap baitnya dan biarkan Aku mati dalam cinta yang tak terbalas.

Sebenarnya Aku lelah dengan penantian ini, penantian yang tak berujung menyiksaku dengan kepingan rindu yang tak pernah kamu anggap, jikalau usahaku memang harus terhenti, Aku tak sanggup melabuhkan hatiku pada yang lain, karena Aku bukanlah pengecut yang meninggalkanmu dengan berjuta juta usahaku, tapi terkadang Aku sadar, Kamu lampu, Kamu cahaya, Kamu sumber energi, Kamu arus listrik dan Aku hanyalah kegelapan yang paling mencintaimu, bukan sebaliknya.

Jika kegelapan disebut ketiadaan Cahaya, biarkan rindu ini disebut ketiadaan Cinta dengan malam yang mulai larut, namun rindu enggan surut namamu yang selalu ku sebut mengiring detak dan denyut jantung ini.

Lalu Aku bisa apa? Memendam rasa yang bergejolak ini? Apakah menurutmu itu tidak menyakiti? Lantas bagaimana keadaan hati ini? yang kian hari kian melepuh, tapi anehnya rindu ini tetap ada dalam hati.

Aku tak tahu setebal apa hati ini, yang jelas selalu ada kata yang berkobar, memperjuangkan namamu, semangat yang membara agar nantinya Kamu bisa ku miliki.

Namun nyatanya, Aku sadar, bahwa yang bukan untukku sekeras apapun ku paksakan selama apapun ku pertahankan tetap saja tak akan pernah menjadi milikku.

Begitupun Kamu, sekeras apapun usahaku, sejauh apapun Aku mengejar tetap saja tidak akan pernah sampai, karena Kita tidak segaris, tidak seperaduan dan tempat yang terlalu berbeda jauh lintangnya membelah takdir.

Aku lelah memberi nama rindu rinduku dengan namamu, cukup sakit menamai sesuatu dengan apa yang tak bisa ku miliki, kini atau pun nanti tetap sama Kamu yang memilihnya dan Aku yang menelan kepahitan merelakanmu menjadi miliknya dan Aku hanya berteman sepi bersama rintik hujan yang kian hari menggenangi Bumi.

Memang tak ada yang salah pada Dirimu, mungkin hanya Aku saja yang terlalu berharap lebih pada dirimu untuk sekedar memiliki.